SURAT DARI SEBERANG:
Ecun……
Sudah lama aku ingin menulis surat ini. Tapi entah, baru sekarang aku melaksanakannya. Aku tahu persis apa yang mendorong hatiku. Mungkin karena kerinduan yang telah menumpuk, membengkak dan tak tertahan. Mungkin karena dorongan hati dari dalam atau kegemasan melihat faktor-faktor yang berada di luar.
Waktu itu sudah lama sekali.
Pertama kali aku angkat kaki dari Tana Samawa –sudah kabur, seputar tahun 1954—ke Yogyakarta. Kenyataan-kenyataan kecil sudah mengabur. Meninggalkan Tana Samawa pada waktu itu merupakan perantauan dalam arti sesungguhnya. Jarak dan waktu benar-benar kita hayati: bagaimana seorang anak muda—yang dijuluki Teruna Ngining oleh pelukis Abdullah Sidik [almarhum] pada senja hari berdiri di atas dek kapal KPM Waikelo, merasakan terpaan angin senja melihat ke belakang. Makin lama tana samawa makin menghilang, dan air mata tak terasa mengalir perlahan. Terlalu banyak yang harus kutinggalkan dan hatiku seberat tugu.
Ecun…….
Kini jarak dan waktu tak terasa, tak terhayati, tak ada waktu untuk ngelamun, hiruk –pikuk membuyarkan semua kenangan, pandangan sekitar mengaburkan wajah-wajah yang di Tana Samawa. Waktu merupakan garis lurus dan kepastian yang dituju sudah jelas dan semua energi dihimpun untuk membelanya.
Aku tidak tahu pasti, apakah kebo karong Paman Dawid yang selalu menjadi kebanggaan itu masih ada keturunannya. Kau masih ingat bagaimana kebo-kebo itu memenangkan karapan kerbau di kecamatan dulu. Bagaimana Paman Dawid ngumang di depan dadara di atas tribun bambu memuji kerbaunya dan menunjuk pada dadara yang jadi kembang di desa? Aku masih ingat betul peristiwa itu, kau tahu apa isi lawas Nde Dawid waktu itu? Ia bilang begini:
Kerbau ini milikku
kupelihara dengan hati bersih
tinggi yang telah ia capai
tapi apa arti itu semua
bila kau masih memalingkan wajah?
Lawasnya disambung lagi begini
Kau jauh lebih berarti
walau cahayamu seperti kerlip
bintang di kejauhan
hatiku yang merana tak bosan
bertanya pada apa saja
Sebelum ia berpaling dari tribun bambu itu, Nde Dawid sempat melontarkan lagi lawas yang sudah kita kenal bersama,di seluruh Tana Samawa:
Lamin sia dunung notang
Sowe santek bonga bintang
Pang bulan ketemu mata
Terjemahan bebasnya barangkali begini:
Kalau anda duluan merindu.,
Sibaklah atap, tataplah bintang
Di wajah bulan kita berpandangan
Dan dadara di atas tribun bambu itu cekikikan. Tetapi peristiwa menyedihkan terjadi. Sementara aku menyaksikan peristiwa yang menggetarkan hatiku itu, adegan yang mempesona, adegan yang benar-benar teatral, alamiah, wajar: tiba-tiba temanku, si Alwi yang berdiri di sampingku terjatuh, terkulai ke tanah. Katanya ia disambar oleh bura’. Ia dilarikan ke rumahnya—kebetulan bapaknya seorang sanro. Aku tidak tahu kabarnya, sebab besoknya aku sudah berdiri di atas dek kapal Waikelo.
Aku merindukan semua itu. Dan inilah sebenarnya yang membuat aku bersedih ketika mendengar bahwa kesenian Tana Samawa sudah hampir punah, kalau tidak dikatakan memang sudah punah.
Lawas dan entah apa lagi namanya—langko, seketa,bagesa,badede dengan kosok kancingnya—bukan cuma ekspresi perasaan seorang Paman dawid, tetapi ekspresi sesungguhnya Tau Samawa secara keseluruhan. Kita—generasi sekarang—sudah tidak peka, tumpul dan tidak mampu menyimak ekspresi Tau Samawa tersebut. Kita kini dihirukpikukkan oleh kontras antara politik dan kedamaian. Apakah kau, Ecun, pernah mencoba untuk sedikit peduli pada luka-luka sosial di sekitarmu dan betapa pedih memikirkan kelanjutan dari sesuatu yang menihilkan selain dari pertengkaran, agresi, teror dan ancaman-ancaman lainnya. Keasyikan dalam bermain politik—terakhir ribut-ribut ingin membuat pulau Sumbawa menjadi sebuah propinsi—akan memencilkan kesenian menjadi sesuatu yang hampa.
Kita tidak lagi memiliki semacam pengalaman estetika, yaitu kemampuan untuk bereaksi terhadap apa yang disebut “permukaan-permukaan estetika”. Aku melihat Tana Samawa dari kejauhan sudah compang camping. Ia goyah dan semua orang sudah tunduk pada hiruk-pikuk. Kita kehilangan kesunyian, tidak mampu untuk berdiri sendiri dalam arti spiritual dan tiba pada suatu kehidupan kreativitas intelektual. Aku percaya, bahwa kemampuan kita untuk melakukan kontemplasi, perenungan juga telah dihancurkan.
Ada jarak yang begitu jauh antara nurani dengan kehadiran kita. Nde Dawid-Nde Dawid dan Papen Dio-Papen Dio sudah tiada. Wajah politik itu begitu menjadi personal, telanjang dan kasar. Kita dijajah oleh ketenangan yang kita ciptakan sendiri dan kita tidak memiliki ketenangan suatu mekanisme yang beroperasi dari dalam untuk stimuli-stimuli di kejauhan—katakanlah keluhan Nde Pedil di Emang atau Papen Tenri di Aipaya sana.
Kita-kita tampak seperti karikatur yang tidak punya nurani. Sejauh mana jiwa—orang Inggris menyebutnya soul—memasuki daerah publik [public realm] itu? Apa yang mendorongnya? Hannah Arendt dalam bukunya The Human Condition—kubaca tahun lalu, Ecun menulis, bahwa yang mendorong jiwa kita memasuki daerah publik antara lain karena adanaya realtitas ancaman terhadap peradaban dan terhadap eksistensi kita. Kedua, kewajiban kita untuk berjuang dan bertahan. Ketiga, adanaya pengaruh diskusi-diskusi publik di koran-koran, TV, buku-buku ditempat-tempat ceramah. Dan keempat, keinginan kita yang paling dalam untuk mengirimkan jiwa dan semangat kita ke dalam masyarakat.
Kita tidak tahu apakah politikus-politikus itu –yang diisukan bermain politik uang yang kotor, yang menghilangkan kepribadiannya, yang membekukan nuraninya, yang tidak tahu malu itu—memahami hal itu sebagai pemahaman politik yang lebih tinggi. Kalau memang ya,-maka tak akan ada politik uang, dan lain-lain itu—maka tak ada lagi yang kita keluhkan. “Dengan kata-kata dan perbuatan kita menyelinapkan kedirian kita ke dalam dunia manusiawi” kata Arendt, “dan penyelinapan ini adalah seperti kelahiran kedua kita”. Manusia merindukan keabadian. Untuk merealisasikannya, kita sekali lagi—dan sekali lagi—harus menegaskan identitas kita lewat kata-kata dan action, mengajarkan kepada orang-orang bagaimana melahirkan yang besar dan berkilauan.
Politik telah mengotori wajah kita. Aku lalu ingat ucapan John Kennedy—waktu dilantik jadi Presiden—kalau politik mengotori wajah kita, maka bersihkan dengan puisi. Dengan kata lain: bersihkan dengan lawas.
Ecun……..
Aku merindukan ini: politikus-politikus yang melempar wajah kita dengan lumpur itu duduk bersama—tanpa ada yang walk out—dan memanggil jago-jago lawas dari Ano Rawi dan Ano Siep dan membawakan lawas yang mampu membuat kita saling berpandangan dalam waktu yang lama. Kita saling menyimak hati kita masing-masing lewat kesenian. Dan aku pastikan, gema suara Nde Dawid atau Papen Pio akan terdengar:
Lamen nonda ila, melakopamendi; lamen nonda pamendi, melako ila.
Memang kewajiban kita untuk memperbaiki Sumbawa. Tusabalong sama lewa. Keindahan fisik material Tana Samawa dan keindahan spiritual anak negerinya. Aku lalu ingat Dewan Kesenian Sumbawa itu dan mengharapkan bisa melaksanakannya. Atau Dewan itu sendiri sudah terpercik lumpur politik ke wajahnya atau ikut melempar? Dan melupakan fungsinya?
Aku takut Ecun, atavisme yang disebut-sebut oleh Saul Bellow [seorang pemenang hadiah Nobel] pada akhir bukunya To Jerussalem and Back [1977:232] memang terus masih mengikuti kita. Ia menulis:
Di zaman purba di tembok-tembok kota yang ditaklukkan di Timur Tengah kadang-kadang digantung kulit-kulit orang yang ditaklukkan. Kebiasaan itu sudah hilang. Tetapi keinginan untuk membunuh untuk tujuan-tujuan politik itu---adalah masih tetap seperti dulu.
Anak cucu Adam yang bermartabat tentu akan mengingat hal itu dan menampiknya. Sungguh. Ecun.
Sekian dulu, ecun, salam rinduku pada semua keluarga kita: Iyun, Hafni, La dan Hannah beserta suami-istri mereka. Dan juga pada Gani. Aku selalu merindukan kalian semua.
Salam ,
Max Arifin.
Jl.Bola Volley Blok E 33,Perm Japan Raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39807
Email: daxxenos2@yahoo.com.
*Max Arifin ,sejak di Mataram dikenal sebagai dramawan, penerjemah, esais dan wartawan. Setelah pensiun sebagai pegawai Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud NTB, pria kelahiran Alas, Sumbawa ini hijarah ke Jawa Timur. Tinggal dirumahnya yang tenang dan sejuk di Mojokerto bersama isteri tercinta: Siti Hadidjah.
Dua buku terjemahannya Taruhan Mewujudkan Tulisan, Wawancara dengan Penulis Pria dan Wanita Dunia, baru diterbitkan penerbit Jalasutra, Yogyakarta.
Sementara My Life in Art [Konstantin Stanislavsky] dan The Other Voice [Octavio Paz] dalam proses penerbitan oleh Pustaka Kayutangan, Malang.
Novel Seratus Tahun Kesunyian [Gabriel Garcia Marquez] segera cetak ulang oleh Bentang Pustaka, Yogyakarta.
Novel An Echo of Heaven [Kenzaburo Oe] segera terbit oleh Bentang Pustaka.
**tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Rungan Samawa No.09-tahun 1 Maret 2001
Thursday, October 05, 2006
Cerpen: Malam Terakhir Seorang Presiden
CERPEN:
MALAM TERAKHIR SEORANG PRESIDEN
Oleh MAX ARIFIN
Seorang lelaki tua dalam pakaian tidur melangkah menuju jendela. Di ruang keluarga itu ia melayangkan pandangannya ke arah jam yang menempel di tembok. Pukul 24.00. lalu ia meneruskan langkahnya ke jendela. Agak lama ia tertegun di sana, tetapi akhirnya ia membuka jendela itu. Wajahnya menengadah ingin menghitung bintang-bintang di langit sana.
Tuhanku, katanya, kenapa aku bisa terjebak dalam akhir seperti ini. Selama ini aku selalu meminta petunjuk padaMu. Tetapi Kau tidak menunjukkan jalan yang benar yang kau ridoi itu. Apa yang salah pada diriku ? Lima puluh tahun yang lalu aku juga berada dalam malam hari seperti ini dan aku yakin benar jalan itu. Kau tunjukkan padaku. Bergemuruh sambutan terhadap diriku. Aku adalah jenderal yang keluar dengan kemenangan dari sebuah peperangan yang besar. Peperangan yang besar ? Sebenarnya bukan suatu peperangan yang besar, tetapi “the real war” yang sebenarnya---ah, aku meminjam nama buku karangan Richard Nixon, buku yang sudah kubaca beberapa kali, tetapi ternyata terjadi kekurangpahaman dalam menarik kesimpulan. Nixon menulis, bahwa sejarah kegagalan dalam peperangan dapat disimpulkan dalam dua kata: terlalu terlambat. Terlambat dalam memahami tujuan yang mematikan dari musuh yang potensial; terlalu terlambat dalam menyadari bahaya yang mematikan; terlalu terlambat dalam persiapan; terlalu terlambat dalam menyatukan semua kekuatan yang memungkinkan untuk bertahan dan terlalu terlambat dalam mencari teman yang benar.
Padahal aku seorang jendral. Dan sebagai jendral aku tidak boleh melupakan hal-hal itu. Itu adalah prinsip.
Ia berbalik, memandang ke segenap sudut kamar itu. Buku-buku yang teratur rapi berjejer dalam rak-rak buku yang penuh ukiran Jepara. Lalu ia mondar-mandir di sana.
Apa yang salah pada diriku ? Tentu wajahku tampak seperti dalam cermin pecah. Tetapi tentu tidak akan tampak seperti jendral-diktator tua dalam buku karya Gabriel Garcia Marquez. Aku membaca buku itu dengan harapan dapat melakukan hal-hal yang sebaliknya yang dilakukan diktator tua itu, walau aku mempunyai bakat luar biasa untuk berkomando dengan naluri politikus yang tidak pernah melesat dan meleset dari perhitungan dan mempunyai kemampuan untuk bertepo seliro, yaitu kemampuan untuk mencintai dan dicintai.
Tentu ada yang salah dalam diriku. Kemanusiaanku dan aku pribadi ternyata terlalu terpisah dan keduanya selalu melakukan tawar-menawar. Dalam keadaan seperti itu ternyata pikiranku sering menjadi lumpuh. Buaya adalah spesimen binatang paling primitif dibandingkan dengan manusia. Tetapi ketika manusia melangkah dalam keadaan buta dan telanjang ke dalam sungai, maka dapat dipastikan buaya itu yang akan selamat. Salah satu pelajaran sejarah yang harus dipelajari--- walaupun tidak menyenangkan adalah, bahwa peradaban itu tidak datang dengan sendirinya. Ini yang mungkin kulupakan. Sifat permanen sebuah peradaban tidak dapat diduga sama sekali. Akan selalu terdapat bidang-bidang gelap menanti kita di setiap sudut. Langkah-langkah harus diatur dengan teliti agar kita tidak terjebak.
Ia mendekati rak buku dan mencomot buku The Real War karangan Richard Nixon. Cepat-cepat ia membalik beberapa halaman lalu berhenti pada halaman 271.
Ya, halaman 271 ini sudah sepuluh kali kubaca. Di sana ada “ten rules” yang harus kuperhatikan. Seharusnya rules ini kugantung dengan indahnya di kamar kerja istana kepresidenan. Rule delapan berbunyi: Harap selalu berhati-hati dalam membedakan antara teman-teman yang selalu menyodorkan hak-hak azasi dan musuh-musuh yang selalu menolak semua masalah yang berkenaan dengan hak-hak asazi manusia. Dan rule sepuluh menulis: jangan kehilangan kebajikan. Pada masalah-masalah yang tertentu kebajikan mampu menggerakkan sebuah gunung. Kebajikan tanpa kekuatan adalah tidak berguna, tetapi kekuatan tanpa kebajikan adalah mandul.
Ia menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan menutup buku itu dan meletakkan kembali di rak buku.
Bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap sebuah buku ? Buku-buku ini kini begitu menakutkan, seakan-akan mencemoh dan mengejek diriku.
Lalu pandangannya tertuju pada lukisan besar istrinya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia maju beberapa langkah, mendekat ke lukisan itu.
Kau tidak bisa merasakan kesunyian dan kesepian ini. Juga kesedihanku pada malam ini. Selama ini kau adalah kekuatanku. Aku selalu mengajak kau melanglang buana. Bagaimana kita berpose di tembok besar Cina. Ah, semua terbayang berkelebat di dalam pikiranku.
Anak-anak tak ada di dekatku. Selama ini kaulah yang menuntun mereka menjadi besar, lalu menjadi bagian dari masalah-masalah yang melilit diriku.
Tiba-tiba jam di tembok itu berdentang tiga kali. Ia agak terkejut juga tetapi dengan segera membenahi sikapnya. Ia merasa malu pada keterkejutannya tadi, padahal seorang prajurit sejati tidak boleh kaget.
Besok pagi kekuatan dan kekuasaan yang ada dalam kedua tanganku ini akan kuserahkan pada orang lain sesuatu yang tak terpikirkan ketika aku melangkah tiga puluh tahun yang lalu kekuatan dan kekuasaan kuperoleh pada waktu itu adalah karena aku memahami benar aspirasi masyarakatku, aspirasi bangsaku. Apa yang salah pada diriku selama ini? Apakah aku cuma mempermainkan benda abstrak yang bernama aspirasi itu? Dan menafsirkan sesuai dengan kehendakku? Bagaimana dengan orang-orang yang mengelilingi aku selama ini? Orang-orang yang mendukung tanpa reserve terhadap penafsiran itu? Kalau aku mau jujur, aku Cuma melaksanakan semua desain yang dibuat oleh mereka. Kemana mereka malam ini?
Tanpa sengaja matanya menatap dua buku yang ada di rak sebelah kanan. Yang pertama berjudul The Great Cover Up karangan dua orang wartawan The Washington Post, hadiah dari GM, seorang pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal waktu itu. [Tapi beberapa tahun yang lalu dibbreidel]. Ada satu bab yang mengerikan di sana, yaitu bab delapan: The Road to Impeachment. Ia membolak-balik halaman buku itu dan ketika tiba pada bab tersebut ia melempar buku itu sekuat tenaganya dan mengenai lukisan besar istrinya.
GM, GM, ia menggumam, takut pada suaranya sendiri, dulu aku mengagumi kau. Tetapi kenapa kita harus berseberangan dan memerintahkan agar majalahmu ditutup saja. Padahal kau benar ketika kau menulis tentang pembelian kapal bekas ex Jerman Timur itu. Di mana kau, GM ? Persahabatan sejati sebenarnya tidak boleh terhalang oleh naluri kekuasaan yang besar. Aku buta terhadap nilai-nilai yang ada dalam sebuah persahabatan sejati.
Yang paling mengerikan adalah buku yang satu itu. Karangan seorang wartawan luar negeri yang bertugas di sini selama beberapa tahun, A Nation in Waiting. Hampir setiap halaman menulis tentang dia. Jam berdentang lima kali.
Inilah musuh utamaku selama ini: wartawan; padahal mereka menulis hati nurani bangsanya. Tetapi kenapa aku tidak bisa memahami mereka. Mereka muncul dalam sosok-sosok gelap sebagai musuh terselubung yang akan menikam dari belakang. Kuakui betapa gagalnya departemen yang katanya akan “membina” mereka. Apa yang salah dalam kebijaksanaan “pers bebas dan bertanggung jawab” itu, suatu kebijaksanaan yang telah mengubur banyak koran dan majalah selama ini. Dulu aku pernah membaca---ya, dalam buku Freedom of Information karangan Herbert Brucker--- bahwa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat itu sebenarnya kegunaannya bukan bagi golongan minoritas yang ingin berbicara, tetapi bagi golongan mayoritas yang tidak mau mendengar. Dan aku selama ini cuma mau mendengar pada golongan mayoritas yang didesain dengan penuh kelicikan. Aku tahu itu tetapi naluriah kekuasaan yang ada dalam diri seorang manusia membuat dia buta. Aku tahu itu. Aku tahu itu. Ternyata pembantu-pembantuku tidak berani memberikan informasi yang sebenarnya padaku. Seperti yang ada dalam ceritera wayang yang sering kusaksikan waktu aku masih kecil dulu.
-Prabu : Aku bilang itu adalah bulan.
-Durno : Aku tahu, memang itu bulan.
-Prabu : Bukan; kau telah berbohong padaku. Itu adalah matahari.
-Durno : Semoga Gusti Allah memberkahinya; memang itu adalah matahari yang
diberkahi.
Itu bukanlah matahari bila Prabu berkata bukan.
Bahkan bulan itu akan berubah sesuai dengan yang ada dalam benak
Prabu.Apapun nama yang Prabu kehendaki maka itulah namanya.
Itulah watak orang-orang yang berada di sekelilingku selama ini, watak yang menyumbangkan sahamnya dalam percepatan kebobrokan negara ini. Watak manusia-manusia yang tidak akan mampu mengantarkan bangsa ini menuju abad dua puluh satu.
Tiba-tiba terdengar jam di tembok itu berdentang tujuh kali. Dari kamar sebelah seorang cucunya menyetel televisi dan terdengar teriakan-teriakan mahasiswa yang berkumpul di gedung MPR/DPR, meneriakkan kata-kata Reformasi, Reformasi ! Ia tertegun sejenak dan memasang telinga.
Itu adalah generasi baru bangsa ini. Generasi yang menyongsong abad baru; menggeliat-geliat dalam membentangkan sayap-sayapnya. Sebenarnya aku membutuhkan generasi seperti itu. Tetapi terlalu terlambat dalam memperhitungkan mereka. Dua jam lagi kekuasaan yang ada dalam tanganku ini, yang kugenggan kuat-kuat selama ini akan kuserahkan.
Ketika ia berbalik untuk menuju kamar sebelah, ia menatap buku A Nation in Waiting tergeletak di atas meja. Ia menyambar buku itu dan mengusap-usap judulnya.
Buku ini akan merupakan pelengkap sejarah hidupku. Merupakan muka yang satunya dari muka berjudul A Smiling General.
Ia tersenyum. Ternyata sisa sejarah selebihnya masih juga menyediakan senyuman. Tetapi mungkin juga senyum merupakan salah satu dari banyak topeng yang kita kenakan setiap hari. Entahlah.-***
(dimuat di harian jawa pos minggu 9 juni 2006)
MALAM TERAKHIR SEORANG PRESIDEN
Oleh MAX ARIFIN
Seorang lelaki tua dalam pakaian tidur melangkah menuju jendela. Di ruang keluarga itu ia melayangkan pandangannya ke arah jam yang menempel di tembok. Pukul 24.00. lalu ia meneruskan langkahnya ke jendela. Agak lama ia tertegun di sana, tetapi akhirnya ia membuka jendela itu. Wajahnya menengadah ingin menghitung bintang-bintang di langit sana.
Tuhanku, katanya, kenapa aku bisa terjebak dalam akhir seperti ini. Selama ini aku selalu meminta petunjuk padaMu. Tetapi Kau tidak menunjukkan jalan yang benar yang kau ridoi itu. Apa yang salah pada diriku ? Lima puluh tahun yang lalu aku juga berada dalam malam hari seperti ini dan aku yakin benar jalan itu. Kau tunjukkan padaku. Bergemuruh sambutan terhadap diriku. Aku adalah jenderal yang keluar dengan kemenangan dari sebuah peperangan yang besar. Peperangan yang besar ? Sebenarnya bukan suatu peperangan yang besar, tetapi “the real war” yang sebenarnya---ah, aku meminjam nama buku karangan Richard Nixon, buku yang sudah kubaca beberapa kali, tetapi ternyata terjadi kekurangpahaman dalam menarik kesimpulan. Nixon menulis, bahwa sejarah kegagalan dalam peperangan dapat disimpulkan dalam dua kata: terlalu terlambat. Terlambat dalam memahami tujuan yang mematikan dari musuh yang potensial; terlalu terlambat dalam menyadari bahaya yang mematikan; terlalu terlambat dalam persiapan; terlalu terlambat dalam menyatukan semua kekuatan yang memungkinkan untuk bertahan dan terlalu terlambat dalam mencari teman yang benar.
Padahal aku seorang jendral. Dan sebagai jendral aku tidak boleh melupakan hal-hal itu. Itu adalah prinsip.
Ia berbalik, memandang ke segenap sudut kamar itu. Buku-buku yang teratur rapi berjejer dalam rak-rak buku yang penuh ukiran Jepara. Lalu ia mondar-mandir di sana.
Apa yang salah pada diriku ? Tentu wajahku tampak seperti dalam cermin pecah. Tetapi tentu tidak akan tampak seperti jendral-diktator tua dalam buku karya Gabriel Garcia Marquez. Aku membaca buku itu dengan harapan dapat melakukan hal-hal yang sebaliknya yang dilakukan diktator tua itu, walau aku mempunyai bakat luar biasa untuk berkomando dengan naluri politikus yang tidak pernah melesat dan meleset dari perhitungan dan mempunyai kemampuan untuk bertepo seliro, yaitu kemampuan untuk mencintai dan dicintai.
Tentu ada yang salah dalam diriku. Kemanusiaanku dan aku pribadi ternyata terlalu terpisah dan keduanya selalu melakukan tawar-menawar. Dalam keadaan seperti itu ternyata pikiranku sering menjadi lumpuh. Buaya adalah spesimen binatang paling primitif dibandingkan dengan manusia. Tetapi ketika manusia melangkah dalam keadaan buta dan telanjang ke dalam sungai, maka dapat dipastikan buaya itu yang akan selamat. Salah satu pelajaran sejarah yang harus dipelajari--- walaupun tidak menyenangkan adalah, bahwa peradaban itu tidak datang dengan sendirinya. Ini yang mungkin kulupakan. Sifat permanen sebuah peradaban tidak dapat diduga sama sekali. Akan selalu terdapat bidang-bidang gelap menanti kita di setiap sudut. Langkah-langkah harus diatur dengan teliti agar kita tidak terjebak.
Ia mendekati rak buku dan mencomot buku The Real War karangan Richard Nixon. Cepat-cepat ia membalik beberapa halaman lalu berhenti pada halaman 271.
Ya, halaman 271 ini sudah sepuluh kali kubaca. Di sana ada “ten rules” yang harus kuperhatikan. Seharusnya rules ini kugantung dengan indahnya di kamar kerja istana kepresidenan. Rule delapan berbunyi: Harap selalu berhati-hati dalam membedakan antara teman-teman yang selalu menyodorkan hak-hak azasi dan musuh-musuh yang selalu menolak semua masalah yang berkenaan dengan hak-hak asazi manusia. Dan rule sepuluh menulis: jangan kehilangan kebajikan. Pada masalah-masalah yang tertentu kebajikan mampu menggerakkan sebuah gunung. Kebajikan tanpa kekuatan adalah tidak berguna, tetapi kekuatan tanpa kebajikan adalah mandul.
Ia menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan menutup buku itu dan meletakkan kembali di rak buku.
Bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap sebuah buku ? Buku-buku ini kini begitu menakutkan, seakan-akan mencemoh dan mengejek diriku.
Lalu pandangannya tertuju pada lukisan besar istrinya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia maju beberapa langkah, mendekat ke lukisan itu.
Kau tidak bisa merasakan kesunyian dan kesepian ini. Juga kesedihanku pada malam ini. Selama ini kau adalah kekuatanku. Aku selalu mengajak kau melanglang buana. Bagaimana kita berpose di tembok besar Cina. Ah, semua terbayang berkelebat di dalam pikiranku.
Anak-anak tak ada di dekatku. Selama ini kaulah yang menuntun mereka menjadi besar, lalu menjadi bagian dari masalah-masalah yang melilit diriku.
Tiba-tiba jam di tembok itu berdentang tiga kali. Ia agak terkejut juga tetapi dengan segera membenahi sikapnya. Ia merasa malu pada keterkejutannya tadi, padahal seorang prajurit sejati tidak boleh kaget.
Besok pagi kekuatan dan kekuasaan yang ada dalam kedua tanganku ini akan kuserahkan pada orang lain sesuatu yang tak terpikirkan ketika aku melangkah tiga puluh tahun yang lalu kekuatan dan kekuasaan kuperoleh pada waktu itu adalah karena aku memahami benar aspirasi masyarakatku, aspirasi bangsaku. Apa yang salah pada diriku selama ini? Apakah aku cuma mempermainkan benda abstrak yang bernama aspirasi itu? Dan menafsirkan sesuai dengan kehendakku? Bagaimana dengan orang-orang yang mengelilingi aku selama ini? Orang-orang yang mendukung tanpa reserve terhadap penafsiran itu? Kalau aku mau jujur, aku Cuma melaksanakan semua desain yang dibuat oleh mereka. Kemana mereka malam ini?
Tanpa sengaja matanya menatap dua buku yang ada di rak sebelah kanan. Yang pertama berjudul The Great Cover Up karangan dua orang wartawan The Washington Post, hadiah dari GM, seorang pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal waktu itu. [Tapi beberapa tahun yang lalu dibbreidel]. Ada satu bab yang mengerikan di sana, yaitu bab delapan: The Road to Impeachment. Ia membolak-balik halaman buku itu dan ketika tiba pada bab tersebut ia melempar buku itu sekuat tenaganya dan mengenai lukisan besar istrinya.
GM, GM, ia menggumam, takut pada suaranya sendiri, dulu aku mengagumi kau. Tetapi kenapa kita harus berseberangan dan memerintahkan agar majalahmu ditutup saja. Padahal kau benar ketika kau menulis tentang pembelian kapal bekas ex Jerman Timur itu. Di mana kau, GM ? Persahabatan sejati sebenarnya tidak boleh terhalang oleh naluri kekuasaan yang besar. Aku buta terhadap nilai-nilai yang ada dalam sebuah persahabatan sejati.
Yang paling mengerikan adalah buku yang satu itu. Karangan seorang wartawan luar negeri yang bertugas di sini selama beberapa tahun, A Nation in Waiting. Hampir setiap halaman menulis tentang dia. Jam berdentang lima kali.
Inilah musuh utamaku selama ini: wartawan; padahal mereka menulis hati nurani bangsanya. Tetapi kenapa aku tidak bisa memahami mereka. Mereka muncul dalam sosok-sosok gelap sebagai musuh terselubung yang akan menikam dari belakang. Kuakui betapa gagalnya departemen yang katanya akan “membina” mereka. Apa yang salah dalam kebijaksanaan “pers bebas dan bertanggung jawab” itu, suatu kebijaksanaan yang telah mengubur banyak koran dan majalah selama ini. Dulu aku pernah membaca---ya, dalam buku Freedom of Information karangan Herbert Brucker--- bahwa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat itu sebenarnya kegunaannya bukan bagi golongan minoritas yang ingin berbicara, tetapi bagi golongan mayoritas yang tidak mau mendengar. Dan aku selama ini cuma mau mendengar pada golongan mayoritas yang didesain dengan penuh kelicikan. Aku tahu itu tetapi naluriah kekuasaan yang ada dalam diri seorang manusia membuat dia buta. Aku tahu itu. Aku tahu itu. Ternyata pembantu-pembantuku tidak berani memberikan informasi yang sebenarnya padaku. Seperti yang ada dalam ceritera wayang yang sering kusaksikan waktu aku masih kecil dulu.
-Prabu : Aku bilang itu adalah bulan.
-Durno : Aku tahu, memang itu bulan.
-Prabu : Bukan; kau telah berbohong padaku. Itu adalah matahari.
-Durno : Semoga Gusti Allah memberkahinya; memang itu adalah matahari yang
diberkahi.
Itu bukanlah matahari bila Prabu berkata bukan.
Bahkan bulan itu akan berubah sesuai dengan yang ada dalam benak
Prabu.Apapun nama yang Prabu kehendaki maka itulah namanya.
Itulah watak orang-orang yang berada di sekelilingku selama ini, watak yang menyumbangkan sahamnya dalam percepatan kebobrokan negara ini. Watak manusia-manusia yang tidak akan mampu mengantarkan bangsa ini menuju abad dua puluh satu.
Tiba-tiba terdengar jam di tembok itu berdentang tujuh kali. Dari kamar sebelah seorang cucunya menyetel televisi dan terdengar teriakan-teriakan mahasiswa yang berkumpul di gedung MPR/DPR, meneriakkan kata-kata Reformasi, Reformasi ! Ia tertegun sejenak dan memasang telinga.
Itu adalah generasi baru bangsa ini. Generasi yang menyongsong abad baru; menggeliat-geliat dalam membentangkan sayap-sayapnya. Sebenarnya aku membutuhkan generasi seperti itu. Tetapi terlalu terlambat dalam memperhitungkan mereka. Dua jam lagi kekuasaan yang ada dalam tanganku ini, yang kugenggan kuat-kuat selama ini akan kuserahkan.
Ketika ia berbalik untuk menuju kamar sebelah, ia menatap buku A Nation in Waiting tergeletak di atas meja. Ia menyambar buku itu dan mengusap-usap judulnya.
Buku ini akan merupakan pelengkap sejarah hidupku. Merupakan muka yang satunya dari muka berjudul A Smiling General.
Ia tersenyum. Ternyata sisa sejarah selebihnya masih juga menyediakan senyuman. Tetapi mungkin juga senyum merupakan salah satu dari banyak topeng yang kita kenakan setiap hari. Entahlah.-***
(dimuat di harian jawa pos minggu 9 juni 2006)
Max Arifin, Absurditas Dari Mojokerto
ABSURDITAS DARI MOJOKERTO
Buku-buku teater kontemporer terbilang langka di dunia penerbitan kita. Tapi, tiga tahun terakhir, mengalir deras terjemahan-terjemahan berbobot dari tangan seorang pensiunan yang tinggal di Mojokerto.
SEPASANG merpati tua-----demikian mereka menyebut dirinya---tinggal di Perumahan Griya Japan Raya, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Mereka pekerja seni: Max Arifin, 70 tahun, dan istrinya, Siti Hadidjah, 70 tahun. Pasangan ini tinggal di rumah tipe 36. Di halaman depan yang tak terlalu luas, terdapat sebuah gazebo. Di sanalah anak-anak muda Mojokerto, bahkan Malang dan Surabaya yang bergelut di bidang seni sering mampir dan berdiskusi soal teater.
Max, pensiunan pegawai negeri sipil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Barat di Mataram, Lombok, dikenal memiliki minat luas terhadap teater. Dewan Kesenian jakarta akhir Agustus lalu menerbitkan buku terjemahan Max tentang biografi dan pemikiran “absurd” Antonin Artaud, seorang peletak dasar konsepsi teater kontemporer. Buku karya Stephen Barber, Blows and Bombs, tersebut diterjemahkan menjadi Artaud: Ledakan dan Bom. Bukan hanya Artaud. Sebelumnya, Max telah menerjemahkan karya penting Peter Brook, sutradara opera kontemporer berjudul Shifting Point. Juga “kitab suci” para teaterwan eksperimental, Toward Poor Theater karya Jerzy Grotowsi.
Di sebuah ruang 4 x 7 meter yang juga merupakan ruang makan, Max sehari-hari mengetik. Di situ ia dikurung dua rak buku-buku filsafat dan sastra. Sekilas Tempo melihat judul-judul koleksinya: Political Theatre karya David Goodman, The Ship of Fool karya Chritiana Perr Rossi, An Echo of Heaven karya Kenzaburo Oe, The Blind Owl karya Sadeq Hedayat, buku-buku Nurcholish Madjid dan seri lengkap Catatan Pinggir Goenawan Mohammad. “Hampir semua buku ada, kecuali buku-buku teknik,” katanya.
Tahun 1990-an, duna terjemahan sastra bangkit di Yogya. Max termasuk seorang “pelopor”-nya. Penerbit Bentang banyak mempublikasikan terjemahan-terjemahannya. Diantaranya Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) oleh Gabriel Garcia Marquez. Karya ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Jawa Pos tahun 1997. Selanjutnya, Pemberontak (The Rebel) karya Albert Camus.
Mulanya ia banyak menerjemahkan novel untuk cerita bersambung di koran. Tahun 1976 Max menerjemahkan karya James van Marshall berjudul Walkabout (Pengembaraan) dan dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas. Tahun 1983, ia menerjemahkan The Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata yang dikasih judul Kecantikan dan Kesedihan dan juga dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas.
Semua ini berawal tahun 1976. Saat itu ia mengalihbasakan The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta. Tahun 1980 ia menerbitkan karya Albert Camus berjudul The Stranger, yang ia alihbahasakan menjadi Orang Aneh. Buku ini diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores. Tahun 1978, Max menerjemahkan Thousand Cranes karya Yasunari Kawabata, yang diterbitkan Nusa Indah Flores berjudul Seribu Burung Bangau.
Agaknya Yogya dan Sumbawa merupakan sumber inspirasi. Terlahir bernama Mochamad Arifin, ia menghabiskan masa SD hingga SMP di Sumbawa Besar. Saat SMA, ia hijrah ke Yogyakarta bersekolah di SMA Piri, Baciro. Max sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional , Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik, Universitas Gadjah Mada. Tidak sampai tamat, ia kembali ke Mataram.
Di sana, ia melanjutkan ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram.Lulus, ia bekerja di Departemen pendidikan dan kebudayaan Nusa Tenggara barat dan menangani seksi drama dan sastra. Di Mataram, ia membina kelompok-kelompok drama SMA dan kampus. Ia pernah menjadi redaktur budaya harian Suara Nusa (sekarang Lombok Post) dan menjadi koresponden majalah Tempo untuk Lombok tahun 1975-1979.
Tak hanya menerjemahkan. Max juga menulis buku. Bukunya Teater:Sebuah Pengantar diterbitkan oleh Nusa Indah Flores tahun 1990. Ia menulis naskah drama Putri Mandalika, yang pernah dipentaskan secara kolosal di Pantai Seger, Lombok Selatan, 1988. ia menulis naskah Matinya Demung Sandubaya, yang dibawa kontingen Nusa Tenggara Barat pada Festival Teater di Solo dan kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian Suara Nusa. Tahun 1990, naskah drama remajanya berjudul Badai Sepanjang Malam diterbitkan oleh Gramedia Jakarta.
Di hari tuanya, Max tetap “gila’ buku. Tapi semangatnya tetap semangat seorang pendidik. Ia baru saja menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto. “Biar semakin banyak orang yang bisa menikmati buku,” katanya. Telah 26 buku ia terjemahkan. Kini ia menanti terjemahannya atas buku lama teaterwan Rusia, Konstantin Stanislavsky: My Life in Art (Hidupku dalam Seni) yang akan diterbitkan Pustaka Kayutangan Malang.
Mengapa Stanislavsky masih penting baginya? Sebab, menurut Max, di dalam buku itu ada segudang pelajaran untuk para pekerja seni kita. Stanislavsky mengharapkan aktornya menjadi seorang humanis. Stanislavsky menolak aktor yang melacurkan hidupnya hanya untuk dikeploki penonton. “Aktor harus memiliki disiplin ketat. Aktor harus selalu menguji dirinya, memiliki standar etika yang tinggi, dan mengejar selera, baik di atas pentas maupun di luar pentas”, kata Max menirukan Stanislavsky.
(Sunudyantoro, Seno Joko Suyono)
Dikutip dari Majalah TEMPO, edisi 11-17 September 2006, halaman 62-63.
Ralat:
-Ia baru menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto, semestinya ke Balai Pustaka NOL Mojokerto.
-……The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta semestinya penerbit Mahatari, Yogyakarta.
Alamat rumah:
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan Raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807 dan 0888 32 86 967.
Email: daxxenos2@yahoo.com
Buku-buku teater kontemporer terbilang langka di dunia penerbitan kita. Tapi, tiga tahun terakhir, mengalir deras terjemahan-terjemahan berbobot dari tangan seorang pensiunan yang tinggal di Mojokerto.
SEPASANG merpati tua-----demikian mereka menyebut dirinya---tinggal di Perumahan Griya Japan Raya, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Mereka pekerja seni: Max Arifin, 70 tahun, dan istrinya, Siti Hadidjah, 70 tahun. Pasangan ini tinggal di rumah tipe 36. Di halaman depan yang tak terlalu luas, terdapat sebuah gazebo. Di sanalah anak-anak muda Mojokerto, bahkan Malang dan Surabaya yang bergelut di bidang seni sering mampir dan berdiskusi soal teater.
Max, pensiunan pegawai negeri sipil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Nusa Tenggara Barat di Mataram, Lombok, dikenal memiliki minat luas terhadap teater. Dewan Kesenian jakarta akhir Agustus lalu menerbitkan buku terjemahan Max tentang biografi dan pemikiran “absurd” Antonin Artaud, seorang peletak dasar konsepsi teater kontemporer. Buku karya Stephen Barber, Blows and Bombs, tersebut diterjemahkan menjadi Artaud: Ledakan dan Bom. Bukan hanya Artaud. Sebelumnya, Max telah menerjemahkan karya penting Peter Brook, sutradara opera kontemporer berjudul Shifting Point. Juga “kitab suci” para teaterwan eksperimental, Toward Poor Theater karya Jerzy Grotowsi.
Di sebuah ruang 4 x 7 meter yang juga merupakan ruang makan, Max sehari-hari mengetik. Di situ ia dikurung dua rak buku-buku filsafat dan sastra. Sekilas Tempo melihat judul-judul koleksinya: Political Theatre karya David Goodman, The Ship of Fool karya Chritiana Perr Rossi, An Echo of Heaven karya Kenzaburo Oe, The Blind Owl karya Sadeq Hedayat, buku-buku Nurcholish Madjid dan seri lengkap Catatan Pinggir Goenawan Mohammad. “Hampir semua buku ada, kecuali buku-buku teknik,” katanya.
Tahun 1990-an, duna terjemahan sastra bangkit di Yogya. Max termasuk seorang “pelopor”-nya. Penerbit Bentang banyak mempublikasikan terjemahan-terjemahannya. Diantaranya Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude) oleh Gabriel Garcia Marquez. Karya ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Jawa Pos tahun 1997. Selanjutnya, Pemberontak (The Rebel) karya Albert Camus.
Mulanya ia banyak menerjemahkan novel untuk cerita bersambung di koran. Tahun 1976 Max menerjemahkan karya James van Marshall berjudul Walkabout (Pengembaraan) dan dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas. Tahun 1983, ia menerjemahkan The Beauty and Sadness karya Yasunari Kawabata yang dikasih judul Kecantikan dan Kesedihan dan juga dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas.
Semua ini berawal tahun 1976. Saat itu ia mengalihbasakan The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta. Tahun 1980 ia menerbitkan karya Albert Camus berjudul The Stranger, yang ia alihbahasakan menjadi Orang Aneh. Buku ini diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores. Tahun 1978, Max menerjemahkan Thousand Cranes karya Yasunari Kawabata, yang diterbitkan Nusa Indah Flores berjudul Seribu Burung Bangau.
Agaknya Yogya dan Sumbawa merupakan sumber inspirasi. Terlahir bernama Mochamad Arifin, ia menghabiskan masa SD hingga SMP di Sumbawa Besar. Saat SMA, ia hijrah ke Yogyakarta bersekolah di SMA Piri, Baciro. Max sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional , Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik, Universitas Gadjah Mada. Tidak sampai tamat, ia kembali ke Mataram.
Di sana, ia melanjutkan ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram.Lulus, ia bekerja di Departemen pendidikan dan kebudayaan Nusa Tenggara barat dan menangani seksi drama dan sastra. Di Mataram, ia membina kelompok-kelompok drama SMA dan kampus. Ia pernah menjadi redaktur budaya harian Suara Nusa (sekarang Lombok Post) dan menjadi koresponden majalah Tempo untuk Lombok tahun 1975-1979.
Tak hanya menerjemahkan. Max juga menulis buku. Bukunya Teater:Sebuah Pengantar diterbitkan oleh Nusa Indah Flores tahun 1990. Ia menulis naskah drama Putri Mandalika, yang pernah dipentaskan secara kolosal di Pantai Seger, Lombok Selatan, 1988. ia menulis naskah Matinya Demung Sandubaya, yang dibawa kontingen Nusa Tenggara Barat pada Festival Teater di Solo dan kemudian dimuat sebagai cerita bersambung di harian Suara Nusa. Tahun 1990, naskah drama remajanya berjudul Badai Sepanjang Malam diterbitkan oleh Gramedia Jakarta.
Di hari tuanya, Max tetap “gila’ buku. Tapi semangatnya tetap semangat seorang pendidik. Ia baru saja menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto. “Biar semakin banyak orang yang bisa menikmati buku,” katanya. Telah 26 buku ia terjemahkan. Kini ia menanti terjemahannya atas buku lama teaterwan Rusia, Konstantin Stanislavsky: My Life in Art (Hidupku dalam Seni) yang akan diterbitkan Pustaka Kayutangan Malang.
Mengapa Stanislavsky masih penting baginya? Sebab, menurut Max, di dalam buku itu ada segudang pelajaran untuk para pekerja seni kita. Stanislavsky mengharapkan aktornya menjadi seorang humanis. Stanislavsky menolak aktor yang melacurkan hidupnya hanya untuk dikeploki penonton. “Aktor harus memiliki disiplin ketat. Aktor harus selalu menguji dirinya, memiliki standar etika yang tinggi, dan mengejar selera, baik di atas pentas maupun di luar pentas”, kata Max menirukan Stanislavsky.
(Sunudyantoro, Seno Joko Suyono)
Dikutip dari Majalah TEMPO, edisi 11-17 September 2006, halaman 62-63.
Ralat:
-Ia baru menghibahkan 250 judul buku ke Dewan Kesenian Mojokerto, semestinya ke Balai Pustaka NOL Mojokerto.
-……The Sound of Waves karya Yukio Mishima menjadi Nyanyian Laut dan dipublikasikan oleh penerbit Matahari, Yogyakarta semestinya penerbit Mahatari, Yogyakarta.
Alamat rumah:
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan Raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807 dan 0888 32 86 967.
Email: daxxenos2@yahoo.com
Label:
absurd,
max arifin,
mojokerto,
teater,
tempo
Friday, June 09, 2006
Esai: Ivek [Max Arifin]
I V E K .
Oleh: max arifin.
IVEK membunuh orang tanpa berpikir dua kali. Yang dibunuh adalah seseorang yang kebetulan berdiri di sampingnya, bernama Moshe, seorang Yahudi. Di depan polisi ia tidak menyangkal perbuatannya dan dengan enteng menjawab: “Dan bagaimana tentang mereka-mereka yang membunuh nabi Isa?”
“Tetapi itu peristiwa yang telah terjadi dua ribu tahun yang lalu”, keluh polisi yang memeriksanya. “Ya”, katanya lagi, “tapi baru kemarin aku mendengarnya!”
(I).
Peristiwa di atas dilukiskan oleh seorang penulis Bosnia terkenal, Dzevad Karahasan dalam tulisannya yang berjudul Literature is the Defence of History yang termuat dalam majalah tiga bulanan ART & THOUGHT No, 76/2003 yang juga terbit serempak dalam bahasa Arab, Fikrun wa Fann.
Lalu, premis logis dan garis pemikiran yang bagaimana dapat diterapkan pada peri laku Ivek? Kita bisa saja mengatakan perbuatannya sebagai sesuatu yang ahistorical: Ivek tidak memiliki sense tentang masa lalu dan tak ada jarak dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu. Baginya, masa lalu itu, apapun kejadian itu dan kapanpun terjadinya memiliki semacam kekinian-yang-potensial dan pantas menjadi sesuatu topik (yang dibicarakan). Lagi, baginya, bentuk eksistensi itu adalah “sekarang dan di sini”.
Ada juga yang meninjaunya sebagai suatu tipe kolektivisme. Bagi Ivek, identitas pribadinya terwujudkan tanpa kecuali dalam identitas kolektif dan secara lengkap teridentifikasi dengan hal itu: antara “kami” dan “mereka”. Premis logis yang ketiga yang dapat dikemukakan pada Ivek adalah sikap oposisi, atau lebih tepat lagi, konflik di mana “Aku”-nya mencakup hubungan dengan identitas yang lain.
(II).
Kalau kita mau merenung sejenak, itulah lapisan-lapisan dari banyak Ivek di tanah air, yang mengendap selama Indonesia meredeka dengan gejolak-gejolak yang berkesinambungan sampai sekarang. Kadang-kadang membuat kita berkesimpulan, bertapa tercabik-cabiknya bangsa ini. Di sana mungkin saja terjadi proses reduksi identitas manusiawi dan Ivek-Ivek yang banyak itu mereduksi hubungan antara identitas-identitas individual menjadi perorangan-perorangan yang memendam permusuhan. Dan di sana akan tampil bendera kebersamaan yang eksklusif. Mungikin pada saat itulah pemahaman mereka tentang kemanusiaan itu terlupakan dan diganti dengan pengertian “orang banyak”. Kemanusiaan, humankind, adalah suatu notion, suatu ide, gagasan atau pikiran, suatu abstraksi, sementara “orang banyak” adalah suatu jumlah.
(III).
Kita bisa pula berbicara dari aspek budaya dalam menghadapi hal-hal seperti itu. Kebudayaan adalah suatu campuiran dari yangt bersifat universal dan yang bersifat spesisik, yang umum dan yang konkrit. Yang pertama terbuka untuk semua orang dan dihubungkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain; sementara yang kedua, memisahkannya dari kebudayaan yang lain dan membuatnya menjadi semacam lingkungan spiritual dari suatu kelompok khusus orang-orang.
Inti dasar alam semesta ini adalah sama bagi semua kebudayaan dan ini menyebabkan ruang-kebudayaan itu sebenarnya saling melingkupi. Kita lalu bisa bilang, bahwa adalah sesauatu yang mustahil terjadinya tabrakan-tabrakan antar budaya, karena bila terjadi tabrakan maka tiap kebudayaan akan berjuang menentang setiap bagian dirinya yang menyebabkan tabrakan itu. (Segi inilah yang menjadi pertimbangan diplomasi Yusuf Kala di Poso dan Ambon).
Kalau konflik-konflik (perang) itu dikaitkan dengan kebudayaan, kalau terdapat keinginan untuk menghubungkannya dengan kebudayaan dengan resiko apapun, maka hal itu hanya bisa terjadi dengan versi-versi persiapan yang bersifat politis (dari kebudayaan-kebudayaan) yang dengan gampangan “diterapkan” pada unsur-unsur yang bersifat individual dari kebudayaan-oebudayaan itu, lalu dihubungkan dengan kebudayaan secara keseluruhan, maka jelas itu bukan kebudayaan tetapi suatu sistem ideologis. Sistem-sistem ideologis seperti itu disebut oleh Dzevad Karahasan sebagai “politically instrumentalised cultures”---kebudayaan-kebudayaan yang diperalat untuk (kepentingan-kepentingan) politik. Kebudayaan-kebudayaan seperti itu---yang dipersiapkan dan direduksi menjadi karikatrur-karikatur ideologias tentu saja bisa saling bertabrakan. Itulah gambaran yang terjadi di beberapa daerah tanah air kita ini.
(IV).
Itulah sebabnya kita harus berhati-hati ketika kita membaca buku Samuel P.Huntington yang berjudul The Clash of Civilization yang kesohor itu. Soalnya, bagaimana mungkin seorang Samuel Huntington yang mempelajari kebudayaan-kebudayaan dapat menulis sebuah buku dengan begitu menyederhanakan hakekat pokok kebudayaan dan melakukannya dengan karikatur-karikatur seperti itu. Kesimpulan Huntington adalah menerapkan bedah yang sama terhadap kebudayaan-kebudayaan, seperti Ivek menerapkannya pada dirinya sendiri dan pada Moshe: mereduksi menjadi (makhluk-makhluk) politik, yaitu karikatur-karikatur yang bersifat mekanis dari diri mereka sendiri.
Banyak Ivek-Ivek dan Moshe-Moshe di tanah air tercinta ini, di samping banyak pula orang-orang macam Samuel Huntington itu.
Japan Raya, Juni 2004.
Oleh: max arifin.
IVEK membunuh orang tanpa berpikir dua kali. Yang dibunuh adalah seseorang yang kebetulan berdiri di sampingnya, bernama Moshe, seorang Yahudi. Di depan polisi ia tidak menyangkal perbuatannya dan dengan enteng menjawab: “Dan bagaimana tentang mereka-mereka yang membunuh nabi Isa?”
“Tetapi itu peristiwa yang telah terjadi dua ribu tahun yang lalu”, keluh polisi yang memeriksanya. “Ya”, katanya lagi, “tapi baru kemarin aku mendengarnya!”
(I).
Peristiwa di atas dilukiskan oleh seorang penulis Bosnia terkenal, Dzevad Karahasan dalam tulisannya yang berjudul Literature is the Defence of History yang termuat dalam majalah tiga bulanan ART & THOUGHT No, 76/2003 yang juga terbit serempak dalam bahasa Arab, Fikrun wa Fann.
Lalu, premis logis dan garis pemikiran yang bagaimana dapat diterapkan pada peri laku Ivek? Kita bisa saja mengatakan perbuatannya sebagai sesuatu yang ahistorical: Ivek tidak memiliki sense tentang masa lalu dan tak ada jarak dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu. Baginya, masa lalu itu, apapun kejadian itu dan kapanpun terjadinya memiliki semacam kekinian-yang-potensial dan pantas menjadi sesuatu topik (yang dibicarakan). Lagi, baginya, bentuk eksistensi itu adalah “sekarang dan di sini”.
Ada juga yang meninjaunya sebagai suatu tipe kolektivisme. Bagi Ivek, identitas pribadinya terwujudkan tanpa kecuali dalam identitas kolektif dan secara lengkap teridentifikasi dengan hal itu: antara “kami” dan “mereka”. Premis logis yang ketiga yang dapat dikemukakan pada Ivek adalah sikap oposisi, atau lebih tepat lagi, konflik di mana “Aku”-nya mencakup hubungan dengan identitas yang lain.
(II).
Kalau kita mau merenung sejenak, itulah lapisan-lapisan dari banyak Ivek di tanah air, yang mengendap selama Indonesia meredeka dengan gejolak-gejolak yang berkesinambungan sampai sekarang. Kadang-kadang membuat kita berkesimpulan, bertapa tercabik-cabiknya bangsa ini. Di sana mungkin saja terjadi proses reduksi identitas manusiawi dan Ivek-Ivek yang banyak itu mereduksi hubungan antara identitas-identitas individual menjadi perorangan-perorangan yang memendam permusuhan. Dan di sana akan tampil bendera kebersamaan yang eksklusif. Mungikin pada saat itulah pemahaman mereka tentang kemanusiaan itu terlupakan dan diganti dengan pengertian “orang banyak”. Kemanusiaan, humankind, adalah suatu notion, suatu ide, gagasan atau pikiran, suatu abstraksi, sementara “orang banyak” adalah suatu jumlah.
(III).
Kita bisa pula berbicara dari aspek budaya dalam menghadapi hal-hal seperti itu. Kebudayaan adalah suatu campuiran dari yangt bersifat universal dan yang bersifat spesisik, yang umum dan yang konkrit. Yang pertama terbuka untuk semua orang dan dihubungkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain; sementara yang kedua, memisahkannya dari kebudayaan yang lain dan membuatnya menjadi semacam lingkungan spiritual dari suatu kelompok khusus orang-orang.
Inti dasar alam semesta ini adalah sama bagi semua kebudayaan dan ini menyebabkan ruang-kebudayaan itu sebenarnya saling melingkupi. Kita lalu bisa bilang, bahwa adalah sesauatu yang mustahil terjadinya tabrakan-tabrakan antar budaya, karena bila terjadi tabrakan maka tiap kebudayaan akan berjuang menentang setiap bagian dirinya yang menyebabkan tabrakan itu. (Segi inilah yang menjadi pertimbangan diplomasi Yusuf Kala di Poso dan Ambon).
Kalau konflik-konflik (perang) itu dikaitkan dengan kebudayaan, kalau terdapat keinginan untuk menghubungkannya dengan kebudayaan dengan resiko apapun, maka hal itu hanya bisa terjadi dengan versi-versi persiapan yang bersifat politis (dari kebudayaan-kebudayaan) yang dengan gampangan “diterapkan” pada unsur-unsur yang bersifat individual dari kebudayaan-oebudayaan itu, lalu dihubungkan dengan kebudayaan secara keseluruhan, maka jelas itu bukan kebudayaan tetapi suatu sistem ideologis. Sistem-sistem ideologis seperti itu disebut oleh Dzevad Karahasan sebagai “politically instrumentalised cultures”---kebudayaan-kebudayaan yang diperalat untuk (kepentingan-kepentingan) politik. Kebudayaan-kebudayaan seperti itu---yang dipersiapkan dan direduksi menjadi karikatrur-karikatur ideologias tentu saja bisa saling bertabrakan. Itulah gambaran yang terjadi di beberapa daerah tanah air kita ini.
(IV).
Itulah sebabnya kita harus berhati-hati ketika kita membaca buku Samuel P.Huntington yang berjudul The Clash of Civilization yang kesohor itu. Soalnya, bagaimana mungkin seorang Samuel Huntington yang mempelajari kebudayaan-kebudayaan dapat menulis sebuah buku dengan begitu menyederhanakan hakekat pokok kebudayaan dan melakukannya dengan karikatur-karikatur seperti itu. Kesimpulan Huntington adalah menerapkan bedah yang sama terhadap kebudayaan-kebudayaan, seperti Ivek menerapkannya pada dirinya sendiri dan pada Moshe: mereduksi menjadi (makhluk-makhluk) politik, yaitu karikatur-karikatur yang bersifat mekanis dari diri mereka sendiri.
Banyak Ivek-Ivek dan Moshe-Moshe di tanah air tercinta ini, di samping banyak pula orang-orang macam Samuel Huntington itu.
Japan Raya, Juni 2004.
Max Arifin: Kritik Teater,Kontroversi Cerita Lama
KRITIK TEATER,
Kontroversi cerita lama.
Oleh: Max Arifin**
One of a critic’s main jobs
is to prick balloons.
Eric Bentley.
(1).
Menulis kritik teater, kata Eric Bentley (1958: 235) adalah lebih buruk ketimbang jalan di atas telur; rasanya seperti kita jalan di atas tubuh-tubuh manusia yang hidup dan menyebabkan tubuh-tubuh itu berdarah-darah. Dan barangkali agak berlebihan bila ia menambahkan, bahwa ia merasa kritik teater itu merupakan seni membuat musuh dan gagal mempengaruhi orang. Namun orang ini terus juga menulis kritik-kritik teaternya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang ia miliki tentang kritik.
Umpamakan tak ada kritik teater yang serius; maka pujian-pujian dari apa yang “sok disebut kritikus” itu juga tidak akan diterima dengan serius. Bila semua lakon dan semua pementasan dipuji, sebuah kritik teater yang baik tidaklah akan berarti apa-apa. Seniman yang dikritik belajar memfokuskan diri pada kritik-kritik yang menyalahkan dia dan melupakan yang lain; sebagian besar mereka bersikap seperti itu. Mereka yang tak tahan (terhadap kritik) biasanya bukanlah mereka yang lapar akan sedikit pengakuan, tetapi mereka yang telah kenyang dengan pujian yang berlimpahan. Kebudayaan kita sudah terlalu banyak menjual setiap produk Reputasi-reputasi tidaklah selalu benar-benar tinggi, mereka malah terlalu banyak dipompa, sesuatu yang sia-sia.
Namun demikian, kita akan serempak berseru: kritik teater sangat diperlukan. Maju-tidaknya kehidupan herteater tergantung pada kritik-kritik teater yang berbobot. Kita seakan-akan merindukan kritik teater yang berbohot, kritik teater yang mencerminkan kecerdasan dan intelektualitas.
(II),
Ada kontroversi seputar masalah kritik sastra, termasuk kritik teater; persaingan antara sastrawan kreatif dan para kritikus dan ini adalah ceritera lama.
Pertama, kita masih ingat metode kritik Ganzheit (Arief Budiman dan Gunawan Mohamad) yang mengingatkan kita pada ucapan Jean-Paul Sartre: “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran” dan kritik akademik yang berpegang pada analisa, yang diwakili para sarjana sastra UI Rawamangun, yang mengingatkan kita pada The New School of Criticism. Dan debat ini telah dipecahkan melalui teori lingkaran, di mana diandaikan bahagian dan keseluruhan akan selalu mengandaikan secara terus-menerus dalam suatu lingkaran yang memutar.
Kedua, ada pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic, atau antara textual meaning dan authorial meaning.
Tugas teori dan metode adalah membantu kita memahami sifat-sifat objek sedekat mungkin dan bukan malah melakukan distorsi dengan menjadikan objek kajiannya hanya sebagai ilustrasi untuk suatu teori. (Ignas Kleden, 2004: 193). Kritik dinilai berdasarkan keberhasilannya atau kegagalannya dan bukan berdasarkan pendekatan yang digunakan.
Ketiga, antara pendapat yang mengatakan, bahwa semua lakon itu adalah baik dan pendapat yang mengatakan ada lakon yang baik dan ada yang tidak baik (dan menelurkan kriteria tentang lakon yang baik). Naskah-naskah yang dibuat sendiri dipandang berbeda dengan naskah-naskah terjemahan dari luar negeri. Naskah-naskah buatan sendiri cenderung dipandang “kurang” memenuhi kriteria lakon yang baik. Seperti Peter Brook, umpamanya (1989: 46) memberikan kriteria umum tentang lakon yang baik dan yang tidak baik. Lalu ia menyimpulkan, masalah utama teater dewasa ini adalah: how can we make plays dense in experiences?! George Lukacs rnenyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”:
sejauh mana sebuah lakon itu mampu melukiskan keadaan suatu masyarakat sambil mengusulkan suatu dunia baru, suatu possible wor/d suatu proposed world. Sekalipun belum ada dalam kenyataan, sanggup mengundang dan meyakinkan penonton tentang perlunya dunia tersebut; suatu masa depan yang hakiki, masa depan sebagai suatu “struktur konseptual” suatu penganganan dramatik. Brook lagi: jika suatu lakon itu mengkonfirmasikan pada kita sesuatu yang sudah kita yakini atau percaya, maka lakon itu tak ada gunanya. Kecuali, tentu saja lakon itu mengkonfirmasikan the real belief, di mana teater dapat membantu kita untuk melihat dan memahami dengan Iebih baik,
(III)
Ada tiga persoalan yang mendasar dalam usaha kita membuat kritik teater yang baik pertama, penganalisaan lakon lewat suatu studi terhadap naskah tersebut. Juga studi tentang latar belakang pengarangnya studi tentang fakta-fakta yang dominan pada periode tersebut---agama atau hal-hal yang bersifat psikologis---dan sejauh mana naskah itu (bisa) dieksekusi ke dalam realitas pentas. Kedua, kemungkinan-kemungkinan teatral dari naskah tersebut yang meliputi kebutuhan visual, kebutuhan verbal, kebutuhan karakteristik dan kontak antar karakter, kebutuhan struktural serta kebutuhan auditif---kontras, jedah yang baik dan ilustrasi musik. Ketiga, menunjukkan kriteria yang digunakan dalam penilaian.
Menurut Max Lerner pengarang mempunyai dua macam filsafat: kredo artistic yang sadar lewat medium drama dan visinya tentang kehidupan serta nilai yang terletak di bawah sadarnya---pandangan hidupnya berupa pengendapan fakta-fakta yang datang dari luar.
Sernentara tujuan dan kritik teater, Oscar G.Brockett (1964: 19) menyebut tiga tujuan: expository, appreciation dan evaluative. Mungkin saja dalam sebuah kritik teater ketiga tujuan tersebut terdapat bersama-sama.
Kritik teater expository antara lain mempelajari pengarangnya, kapan naskah itu ditulis, sumber-sumber dan ide-ide yang diekspresikan dalam naskah.
Kritik teater yang appreciative biasanya ditulis oleh kritikus teater yang telah memutuskan, bahwa naskah tersebut adalah baik. Motif utamanya adalah agar orang lain, masyarakat penonton juga ikut merasakan kekuatan naskah tersebut. Bisa juga kritikus tersebut menguraikan responnya sendiri kemudian membangkitkan perasaan yang sama pada pembaca penonton. Atau bisa juga ia memperlihatkan kesungguhan penulisnya dalarn struktur naskah, karakterisasi, penciptaan mood, dan lain- lain.
Kritik teater yang evaluative bisa menggunakan (kritik) expository, appreciative dan bahkan bisa menghukumnya. Tujuan utamanya adalah menilai efektivitas dari naskah tersebut.
Dengan demikian kita mendapat bayangan kira-kira bagaimana seorang kritikus teater yang “baik” itu: (1). Ia harus sensitive terhadap perasaan dan ide-idenya; (2). Ia harus mengenal benar teater dari segala periode dan semua tipe/gaya/aliran, terutama perkembangan teater di Indonesia sehingga tampak tahap-tahap hubungan dialektik antara teater setempat dan pengaruh-pengaruh dari luar terutama yang merangsang bangkitnya kesadaran kecendikiawanan perteateran (Bakdi Soemanto, 2001: 120); (3). Ia harus mau mengeksplore naskah lakon sampai ia memahaminya secara tuntas; (4). Ia harus awas, hati-hati terhadap prasangka pribadi dan nilai-nilainya; (5). Ia harus pandai berbicara dan jelas dalam mengeluarkan penilaiannya dan dasar-dasarnya; (6). Ia harus mau mengubah pendapatnya bila ada pengalaman dan bukti-bukti baru.
Peter Brook (1990: 37) menekankan, bahwa ia, kritikus teater itu mempunyai suatu citra (image) tentang bagaimana seharusnya sebuah teater itu berada dalam komunitasnya. Akan jauh lebih baik bila ia menjadi orang dalam (insider). Ia menceburkan diri ke dalam hidup kita,bertemu dengan para aktor, berbicara dan berdiskusi, menyaksikan dan (kalau perlu) campur tangan. Memang terdapat sedikit masalah: bagaimana mungkin seorang kritikus berbicara pada seseorang yang tadinya dikecam dalam surat kabar. Bagaimanapun juga hubungan itu tetap dijaga dan diperbaiki karena keduanya saling membutuhkan. Kritikus yang tidak lagi menyukai teater adalah “a deadly critic”; kritikus yang mencintai teater tetapi tidak dengan tegas dan jelas apa yang dimaksudkan dalam kritiknya, juga adalah “a deadly critic”. Kritikus yang baik adalah kritikus yang dengan jelas memformulasikan untuk dirinya sendiri (lebih dulu) bagaimana seharusnya sebuah teater dan cukup berani melemparkan formula tersebut ke dalam “kancah yang beresiko” setiap waktu, saat ia berpartisipasi dalam peristiwa teater. Memang berat baginya untuk mempertahankan suatu entusiasme bila cuma ada sedikit lakon yang baik: suatu pilihan yang tidak menyenangkan antara karya-karya besar konvensional dan karya-karya modern yang kurang baik.
Brook menulis di sana: “We are now in another area of the problem, also considered to be central: the dilemma of the deadly writer”. Apakah pernyataan ini berlaku juga bagi kita di Indonesia? Ada kecenderungan lakon-lakon itu cumalah pengulangan atau penulisan dalam bentuk baru. Drama lalu menjadi kantong pakaian-pakaian rombeng, keisengan dan ide- ide yang kemarin.
Menurut Eric Bentley, kemunduran ini disebabkan oleh dua hal: (1), penulisan naskah lakon cuma dipandang sebagai suatu craft, ketukangan. Dramaturgi diturunkan dan the fine arts menjadi the useflul arts dan juga tidak berguna:, (2). Naskah ditulis khusus untuk penonton tertentu yang ada dalam pikirannya dan tidak berpikir ada penonton yang lain untuk naskah yang baik. Alasan utamanya adalah untuk menarik perhatian dan menyenangkan penonton. Dia melihat dramaturgi itu sebagai persoalan bagaimana menepatkan lakon itu pada penontonnya; yang benar adalah penonton itu diminta/dihimbau to adjust dirinya pada lakon tersebut.
(IV).
“Is there another language just as exacting for the author as a language of words?” tanya Brook lagi ketika ia berbicara tentang The Holy Theatre sebagai suatu penghormatan bagi Artaud. (hal.55). Apakah ada bahasa untuk actions, untuk suara, “a language of word-as-part-of movement”, “of word-as-lie, word-as-parody, word-as-rubbish, word-as-contradiction, word-shock or word cry”?
Teater yang mencoba memberikan arti yang lebih dalam lagi tentang gestur, umpamanya; gestur sebagai suatu statement, ekspresi, komunikasi dan suatu manifestasi pribadi tentang kesepian, yang disebut Artaud sebagai “a signal through the flames” sekaligus sebagai tempat berbagi pengalaman begitu kontak itu terjadi.
Perlahan-lahan kita menuju ke “wordless language” yang lain: kita mengambil sebuah peristiwa, sepotong pengalaman dan membuat gerak-gerak dengan tubuh yang mengubahnya menjadi bentuk-bentuk di mana kita dapat saling berbagi. Kita mendorong para aktor itu untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai improvisers, menuntun diri mereka ke dalam inner impulses mereka, tetapi sebagai seniman bertanggung jawab mencari dan menyeleksi di antara bentuk-bentuk tersebut sehingga sebuah gestur itu atau sebuah teriakan menjadi sebuah objek yang ia temukan dan bahkan dibentuk-ulang. Kita menolak bahasa topeng tradisional dan dandanan-dandanan sebagai sesuatu yang tidak cocok lagi. Kita bereksperimen dengan keheningan kita ingin menemukan hubungan antara keheningan dengan durasi. Kita bereksperimen dengan ritual dalam arti pola-pola yang berulang-ulang, melihat apakah hal itu mungkin untuk menghadirkan lebih banyak arti lagi dan lebih cepat ketimbang lewat suatu pembongkaran peristiwa secara logik. Tujuannya, seperti dikatakan oleh Brook, adalah bagaimana yang tidak tampak itu menjadi tampak lewat kehadiran para aktor, terlepas buruk atau baik atau sukses atau gagal.
Seperti dikatakan sendiri oleh Artaud (Stephen Barber, 1993: 44) teaternya tidak mempercayai lagi bahasa, karena teks itu cumalah pengulangan-pengulangan yang nyinyir. Di bagian lain Artaud menulis begini (hal. 145)
the theatre
is the condition
the place
the point
where the human anatomy can be seized
and used to heal and direct life.
Persoalannya bagi kita atau bagi (calon) kritikus teater: rasanya kita belum mempunyai rumusan atau kriteria yang baku dalam menilai pementasan-pementasan yang mengambil gaya Artaudian. Apakah hal itu perlu atau tidak perlu dirumuskan seperti yang terjadi pada teater-teater yang mengambil gaya Brechtian atau Chekhovian. Kriteria tersebut juga diperlukan oleh para penonton agar mereka mengetahui bagaimana kita menikmati pergelaran-pergelaran Artaudian tersebut.
(V).
Perlukah para kritikus mempunyai sebuah organisasi ? Saya tidak bisa menjawab secara tegas. Di lnggris ada Guild of Drama Adjudicators atas restu dan British Drama League. Pada awal pembentukannya organisasi ini beranggotakan empat puluh enam orang, orang-orang yang mempunyai pengalaman yang baik dalam festival-festival drama. Sekarang anggotanya sebanyak dua ratus lima puluh orang dengan cabang-cabangnya di New Zealand, Kanada, Australia dan Amenika Serikat. Organisasi ini membuat standar penilaian terhadap pementasan-pementasan. Syarat-syarat keanggotaannya cukup ketat. Anggota-anggotanya adalah orang-orang professional, berpengalaman sebagai aktor, sutradara, stage manager atau produsir. (Derek Bowskill, 1973: 328).
Di Inggris juga ada British Theatre Association, The National Association of Drama Advisers ada pula National Drama Conference, National Federation of Women’s Institutes, The National Operatic and Dramatic Association. Mereka mempunyai program kerja yang luas:
pelatihan-pelatihan, effective speech courses, pelayanan perpustakaan, informasi, penerbitan bulletin, pelatihan menjadi kritikus, penulisan naskah, ceramah-ceramah, konsultasi, dan lain-lain.
Apakah tidak mungkin kita memikirkan organisasi-organisasi seperti di lnggris itu ? Saya mendukung gagasan untuk membentuk Federasi Teater Indonesia.
Di samping itu perlu dipertimbangkan agar PT-PT Seni dan sanggar-sanggar mampu memunculkan kritikus-kritikus teater yang handal seperti dirisaukan oleh Bakdi Soemanto dalam bukunya Jagat Teater (2001: 321). Ia juga mengkritik sutradara beberapa sanggar yang bertindak sebagai pemilik dari company itu yang tidak memungkinkan munculnya kritikus-kritikus teater dari sana.
(VI).
Sesungguhnya teater itu berada dalam situasi antara kekuatan-kekuatan yang sedang bertanding yang memberinya hidup; teater itu sendiri adalah pemberi hidup. Kita ingat akan The Great Initiatory Wheel-nya Richard Schechner (1994: 318) yang terbentuk bila kerja kelompok itu sukses. Personal (yang mempertanyakan siapa aku sekarang) sebagai suatu realisasi diri menuju ke Group (munculnya kreativitas kolektif)... .menuju ke social (solidaritas)... .menuju ke Political (kesadaran)... menuju ke Metaphysical (manusia dapat mengubah dirinya)... menuju kembali ke Personal dan seterusnya dalam sebuah lingkaran yang makin menaik
Ya, bagaimana lagi?
That’s all. Terima kasih.
Casa di Lansia, 20 Juni 2005.
*Disampaikan pada Symposium Kritik Seni Dewan Kesenian Jakarta
tanggal 23-24 Juni 2005 di Jakarta
* *Max Arifin, pengamat teater tinggal di Mojokerto, Jl. Bola Volley Blok E-33, Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto. (0321) 326915. Email : daxxenos2@yahoo.com
Kontroversi cerita lama.
Oleh: Max Arifin**
One of a critic’s main jobs
is to prick balloons.
Eric Bentley.
(1).
Menulis kritik teater, kata Eric Bentley (1958: 235) adalah lebih buruk ketimbang jalan di atas telur; rasanya seperti kita jalan di atas tubuh-tubuh manusia yang hidup dan menyebabkan tubuh-tubuh itu berdarah-darah. Dan barangkali agak berlebihan bila ia menambahkan, bahwa ia merasa kritik teater itu merupakan seni membuat musuh dan gagal mempengaruhi orang. Namun orang ini terus juga menulis kritik-kritik teaternya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang ia miliki tentang kritik.
Umpamakan tak ada kritik teater yang serius; maka pujian-pujian dari apa yang “sok disebut kritikus” itu juga tidak akan diterima dengan serius. Bila semua lakon dan semua pementasan dipuji, sebuah kritik teater yang baik tidaklah akan berarti apa-apa. Seniman yang dikritik belajar memfokuskan diri pada kritik-kritik yang menyalahkan dia dan melupakan yang lain; sebagian besar mereka bersikap seperti itu. Mereka yang tak tahan (terhadap kritik) biasanya bukanlah mereka yang lapar akan sedikit pengakuan, tetapi mereka yang telah kenyang dengan pujian yang berlimpahan. Kebudayaan kita sudah terlalu banyak menjual setiap produk Reputasi-reputasi tidaklah selalu benar-benar tinggi, mereka malah terlalu banyak dipompa, sesuatu yang sia-sia.
Namun demikian, kita akan serempak berseru: kritik teater sangat diperlukan. Maju-tidaknya kehidupan herteater tergantung pada kritik-kritik teater yang berbobot. Kita seakan-akan merindukan kritik teater yang berbohot, kritik teater yang mencerminkan kecerdasan dan intelektualitas.
(II),
Ada kontroversi seputar masalah kritik sastra, termasuk kritik teater; persaingan antara sastrawan kreatif dan para kritikus dan ini adalah ceritera lama.
Pertama, kita masih ingat metode kritik Ganzheit (Arief Budiman dan Gunawan Mohamad) yang mengingatkan kita pada ucapan Jean-Paul Sartre: “Karya sastra tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran” dan kritik akademik yang berpegang pada analisa, yang diwakili para sarjana sastra UI Rawamangun, yang mengingatkan kita pada The New School of Criticism. Dan debat ini telah dipecahkan melalui teori lingkaran, di mana diandaikan bahagian dan keseluruhan akan selalu mengandaikan secara terus-menerus dalam suatu lingkaran yang memutar.
Kedua, ada pertentangan antara otonomi pengarang dan otonomi semantic, atau antara textual meaning dan authorial meaning.
Tugas teori dan metode adalah membantu kita memahami sifat-sifat objek sedekat mungkin dan bukan malah melakukan distorsi dengan menjadikan objek kajiannya hanya sebagai ilustrasi untuk suatu teori. (Ignas Kleden, 2004: 193). Kritik dinilai berdasarkan keberhasilannya atau kegagalannya dan bukan berdasarkan pendekatan yang digunakan.
Ketiga, antara pendapat yang mengatakan, bahwa semua lakon itu adalah baik dan pendapat yang mengatakan ada lakon yang baik dan ada yang tidak baik (dan menelurkan kriteria tentang lakon yang baik). Naskah-naskah yang dibuat sendiri dipandang berbeda dengan naskah-naskah terjemahan dari luar negeri. Naskah-naskah buatan sendiri cenderung dipandang “kurang” memenuhi kriteria lakon yang baik. Seperti Peter Brook, umpamanya (1989: 46) memberikan kriteria umum tentang lakon yang baik dan yang tidak baik. Lalu ia menyimpulkan, masalah utama teater dewasa ini adalah: how can we make plays dense in experiences?! George Lukacs rnenyebutnya sebagai “dilema intelektual kesusastraan”:
sejauh mana sebuah lakon itu mampu melukiskan keadaan suatu masyarakat sambil mengusulkan suatu dunia baru, suatu possible wor/d suatu proposed world. Sekalipun belum ada dalam kenyataan, sanggup mengundang dan meyakinkan penonton tentang perlunya dunia tersebut; suatu masa depan yang hakiki, masa depan sebagai suatu “struktur konseptual” suatu penganganan dramatik. Brook lagi: jika suatu lakon itu mengkonfirmasikan pada kita sesuatu yang sudah kita yakini atau percaya, maka lakon itu tak ada gunanya. Kecuali, tentu saja lakon itu mengkonfirmasikan the real belief, di mana teater dapat membantu kita untuk melihat dan memahami dengan Iebih baik,
(III)
Ada tiga persoalan yang mendasar dalam usaha kita membuat kritik teater yang baik pertama, penganalisaan lakon lewat suatu studi terhadap naskah tersebut. Juga studi tentang latar belakang pengarangnya studi tentang fakta-fakta yang dominan pada periode tersebut---agama atau hal-hal yang bersifat psikologis---dan sejauh mana naskah itu (bisa) dieksekusi ke dalam realitas pentas. Kedua, kemungkinan-kemungkinan teatral dari naskah tersebut yang meliputi kebutuhan visual, kebutuhan verbal, kebutuhan karakteristik dan kontak antar karakter, kebutuhan struktural serta kebutuhan auditif---kontras, jedah yang baik dan ilustrasi musik. Ketiga, menunjukkan kriteria yang digunakan dalam penilaian.
Menurut Max Lerner pengarang mempunyai dua macam filsafat: kredo artistic yang sadar lewat medium drama dan visinya tentang kehidupan serta nilai yang terletak di bawah sadarnya---pandangan hidupnya berupa pengendapan fakta-fakta yang datang dari luar.
Sernentara tujuan dan kritik teater, Oscar G.Brockett (1964: 19) menyebut tiga tujuan: expository, appreciation dan evaluative. Mungkin saja dalam sebuah kritik teater ketiga tujuan tersebut terdapat bersama-sama.
Kritik teater expository antara lain mempelajari pengarangnya, kapan naskah itu ditulis, sumber-sumber dan ide-ide yang diekspresikan dalam naskah.
Kritik teater yang appreciative biasanya ditulis oleh kritikus teater yang telah memutuskan, bahwa naskah tersebut adalah baik. Motif utamanya adalah agar orang lain, masyarakat penonton juga ikut merasakan kekuatan naskah tersebut. Bisa juga kritikus tersebut menguraikan responnya sendiri kemudian membangkitkan perasaan yang sama pada pembaca penonton. Atau bisa juga ia memperlihatkan kesungguhan penulisnya dalarn struktur naskah, karakterisasi, penciptaan mood, dan lain- lain.
Kritik teater yang evaluative bisa menggunakan (kritik) expository, appreciative dan bahkan bisa menghukumnya. Tujuan utamanya adalah menilai efektivitas dari naskah tersebut.
Dengan demikian kita mendapat bayangan kira-kira bagaimana seorang kritikus teater yang “baik” itu: (1). Ia harus sensitive terhadap perasaan dan ide-idenya; (2). Ia harus mengenal benar teater dari segala periode dan semua tipe/gaya/aliran, terutama perkembangan teater di Indonesia sehingga tampak tahap-tahap hubungan dialektik antara teater setempat dan pengaruh-pengaruh dari luar terutama yang merangsang bangkitnya kesadaran kecendikiawanan perteateran (Bakdi Soemanto, 2001: 120); (3). Ia harus mau mengeksplore naskah lakon sampai ia memahaminya secara tuntas; (4). Ia harus awas, hati-hati terhadap prasangka pribadi dan nilai-nilainya; (5). Ia harus pandai berbicara dan jelas dalam mengeluarkan penilaiannya dan dasar-dasarnya; (6). Ia harus mau mengubah pendapatnya bila ada pengalaman dan bukti-bukti baru.
Peter Brook (1990: 37) menekankan, bahwa ia, kritikus teater itu mempunyai suatu citra (image) tentang bagaimana seharusnya sebuah teater itu berada dalam komunitasnya. Akan jauh lebih baik bila ia menjadi orang dalam (insider). Ia menceburkan diri ke dalam hidup kita,bertemu dengan para aktor, berbicara dan berdiskusi, menyaksikan dan (kalau perlu) campur tangan. Memang terdapat sedikit masalah: bagaimana mungkin seorang kritikus berbicara pada seseorang yang tadinya dikecam dalam surat kabar. Bagaimanapun juga hubungan itu tetap dijaga dan diperbaiki karena keduanya saling membutuhkan. Kritikus yang tidak lagi menyukai teater adalah “a deadly critic”; kritikus yang mencintai teater tetapi tidak dengan tegas dan jelas apa yang dimaksudkan dalam kritiknya, juga adalah “a deadly critic”. Kritikus yang baik adalah kritikus yang dengan jelas memformulasikan untuk dirinya sendiri (lebih dulu) bagaimana seharusnya sebuah teater dan cukup berani melemparkan formula tersebut ke dalam “kancah yang beresiko” setiap waktu, saat ia berpartisipasi dalam peristiwa teater. Memang berat baginya untuk mempertahankan suatu entusiasme bila cuma ada sedikit lakon yang baik: suatu pilihan yang tidak menyenangkan antara karya-karya besar konvensional dan karya-karya modern yang kurang baik.
Brook menulis di sana: “We are now in another area of the problem, also considered to be central: the dilemma of the deadly writer”. Apakah pernyataan ini berlaku juga bagi kita di Indonesia? Ada kecenderungan lakon-lakon itu cumalah pengulangan atau penulisan dalam bentuk baru. Drama lalu menjadi kantong pakaian-pakaian rombeng, keisengan dan ide- ide yang kemarin.
Menurut Eric Bentley, kemunduran ini disebabkan oleh dua hal: (1), penulisan naskah lakon cuma dipandang sebagai suatu craft, ketukangan. Dramaturgi diturunkan dan the fine arts menjadi the useflul arts dan juga tidak berguna:, (2). Naskah ditulis khusus untuk penonton tertentu yang ada dalam pikirannya dan tidak berpikir ada penonton yang lain untuk naskah yang baik. Alasan utamanya adalah untuk menarik perhatian dan menyenangkan penonton. Dia melihat dramaturgi itu sebagai persoalan bagaimana menepatkan lakon itu pada penontonnya; yang benar adalah penonton itu diminta/dihimbau to adjust dirinya pada lakon tersebut.
(IV).
“Is there another language just as exacting for the author as a language of words?” tanya Brook lagi ketika ia berbicara tentang The Holy Theatre sebagai suatu penghormatan bagi Artaud. (hal.55). Apakah ada bahasa untuk actions, untuk suara, “a language of word-as-part-of movement”, “of word-as-lie, word-as-parody, word-as-rubbish, word-as-contradiction, word-shock or word cry”?
Teater yang mencoba memberikan arti yang lebih dalam lagi tentang gestur, umpamanya; gestur sebagai suatu statement, ekspresi, komunikasi dan suatu manifestasi pribadi tentang kesepian, yang disebut Artaud sebagai “a signal through the flames” sekaligus sebagai tempat berbagi pengalaman begitu kontak itu terjadi.
Perlahan-lahan kita menuju ke “wordless language” yang lain: kita mengambil sebuah peristiwa, sepotong pengalaman dan membuat gerak-gerak dengan tubuh yang mengubahnya menjadi bentuk-bentuk di mana kita dapat saling berbagi. Kita mendorong para aktor itu untuk melihat diri mereka bukan hanya sebagai improvisers, menuntun diri mereka ke dalam inner impulses mereka, tetapi sebagai seniman bertanggung jawab mencari dan menyeleksi di antara bentuk-bentuk tersebut sehingga sebuah gestur itu atau sebuah teriakan menjadi sebuah objek yang ia temukan dan bahkan dibentuk-ulang. Kita menolak bahasa topeng tradisional dan dandanan-dandanan sebagai sesuatu yang tidak cocok lagi. Kita bereksperimen dengan keheningan kita ingin menemukan hubungan antara keheningan dengan durasi. Kita bereksperimen dengan ritual dalam arti pola-pola yang berulang-ulang, melihat apakah hal itu mungkin untuk menghadirkan lebih banyak arti lagi dan lebih cepat ketimbang lewat suatu pembongkaran peristiwa secara logik. Tujuannya, seperti dikatakan oleh Brook, adalah bagaimana yang tidak tampak itu menjadi tampak lewat kehadiran para aktor, terlepas buruk atau baik atau sukses atau gagal.
Seperti dikatakan sendiri oleh Artaud (Stephen Barber, 1993: 44) teaternya tidak mempercayai lagi bahasa, karena teks itu cumalah pengulangan-pengulangan yang nyinyir. Di bagian lain Artaud menulis begini (hal. 145)
the theatre
is the condition
the place
the point
where the human anatomy can be seized
and used to heal and direct life.
Persoalannya bagi kita atau bagi (calon) kritikus teater: rasanya kita belum mempunyai rumusan atau kriteria yang baku dalam menilai pementasan-pementasan yang mengambil gaya Artaudian. Apakah hal itu perlu atau tidak perlu dirumuskan seperti yang terjadi pada teater-teater yang mengambil gaya Brechtian atau Chekhovian. Kriteria tersebut juga diperlukan oleh para penonton agar mereka mengetahui bagaimana kita menikmati pergelaran-pergelaran Artaudian tersebut.
(V).
Perlukah para kritikus mempunyai sebuah organisasi ? Saya tidak bisa menjawab secara tegas. Di lnggris ada Guild of Drama Adjudicators atas restu dan British Drama League. Pada awal pembentukannya organisasi ini beranggotakan empat puluh enam orang, orang-orang yang mempunyai pengalaman yang baik dalam festival-festival drama. Sekarang anggotanya sebanyak dua ratus lima puluh orang dengan cabang-cabangnya di New Zealand, Kanada, Australia dan Amenika Serikat. Organisasi ini membuat standar penilaian terhadap pementasan-pementasan. Syarat-syarat keanggotaannya cukup ketat. Anggota-anggotanya adalah orang-orang professional, berpengalaman sebagai aktor, sutradara, stage manager atau produsir. (Derek Bowskill, 1973: 328).
Di Inggris juga ada British Theatre Association, The National Association of Drama Advisers ada pula National Drama Conference, National Federation of Women’s Institutes, The National Operatic and Dramatic Association. Mereka mempunyai program kerja yang luas:
pelatihan-pelatihan, effective speech courses, pelayanan perpustakaan, informasi, penerbitan bulletin, pelatihan menjadi kritikus, penulisan naskah, ceramah-ceramah, konsultasi, dan lain-lain.
Apakah tidak mungkin kita memikirkan organisasi-organisasi seperti di lnggris itu ? Saya mendukung gagasan untuk membentuk Federasi Teater Indonesia.
Di samping itu perlu dipertimbangkan agar PT-PT Seni dan sanggar-sanggar mampu memunculkan kritikus-kritikus teater yang handal seperti dirisaukan oleh Bakdi Soemanto dalam bukunya Jagat Teater (2001: 321). Ia juga mengkritik sutradara beberapa sanggar yang bertindak sebagai pemilik dari company itu yang tidak memungkinkan munculnya kritikus-kritikus teater dari sana.
(VI).
Sesungguhnya teater itu berada dalam situasi antara kekuatan-kekuatan yang sedang bertanding yang memberinya hidup; teater itu sendiri adalah pemberi hidup. Kita ingat akan The Great Initiatory Wheel-nya Richard Schechner (1994: 318) yang terbentuk bila kerja kelompok itu sukses. Personal (yang mempertanyakan siapa aku sekarang) sebagai suatu realisasi diri menuju ke Group (munculnya kreativitas kolektif)... .menuju ke social (solidaritas)... .menuju ke Political (kesadaran)... menuju ke Metaphysical (manusia dapat mengubah dirinya)... menuju kembali ke Personal dan seterusnya dalam sebuah lingkaran yang makin menaik
Ya, bagaimana lagi?
That’s all. Terima kasih.
Casa di Lansia, 20 Juni 2005.
*Disampaikan pada Symposium Kritik Seni Dewan Kesenian Jakarta
tanggal 23-24 Juni 2005 di Jakarta
* *Max Arifin, pengamat teater tinggal di Mojokerto, Jl. Bola Volley Blok E-33, Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto. (0321) 326915. Email : daxxenos2@yahoo.com
Jadwal Pentas Ludruk Karya Budaya-Juni 2006
JADWAL PENTAS LUDRUK KARYA BUDAYA
BULAN JUNI 2006:
1.Kamis,1 Juni : Taluhnongko, Jetis, Mojokerto
2.Jumat,2 Juni : Banjarsari, Jetis, Mojokerto
3.Sabtu,3 Juni : Lakarsantri RW 03 Surabaya
4.Minggu,4 Juni : Bangkingan RW 02 Surabaya
5.Senin, 5 Juni : Sadar,Mojoanyar,Mojokerto
6.Selasa,6 Juni: Trawas
7.Rabu, 7 Juni: Bibis Timur,Krian, Sidoarjo
8.Sabtu, 10 Juni: Melati, Balongbendo, Sidoarjo
9.Minggu, 11 juni: Laban kulon, Menganti, gresik
10.Senin, 12 Juni : Pucung Balongpanggang Gresik
11.selasa, 13 juni : warugung, karangpilang,surabaya
12.rabu,14 juni: Balongwono, Trowulan, Mojokerto
13.kamis, 15 juni: pandan,Kemlagi,Mojokerto
14.Sabtu,17 juni : Made RW 03,Surabaya
15.Minggu, 18 juni: Damarsih, Mojoanyar,mojokerto
16.selasa,20 juni: Tulangan,Sidoarjo.
17.Rabu,21 Juni: Blimbing, Kesamben,Jombang
18.Kamis,22 Juni: Batankrajan,gedeg,Mojokerto
19.Jumat, 23 Juni: Sumber nongko, Ngusikan, jombang
20.Sabtu,24 juni: Sukodono, Canggu, Mojokerto
21.Minggu, 25 Juni: Cagak agung, Cerme, gresik
22.Senin, 26 Juni: Brayu, dawar,Mojokerto
23.Selasa, 27 juni: lakarsantri RW 04, surabaya
24.Rabu,28 juni: Bali, sukodadi, Lamongan
25.Kamis, 29 juni: sumber gedhe,wringin anom,gresik
26.Jumat, 30 juni; kb Candi,Beji,Pasuruan
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap ,silakan kontak:
Bapak Drs. Eko Edy Susanto,Msi [Cak Edy Karya],
Pimpinan Ludruk Karya Budaya,
Dusun Sukodono RT 02 RW 1, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto 61300, Jawa Timur
Telp 0321- 362847
Hp 081 231 89347.
Email: cakedikarya@yahoo.com
BULAN JUNI 2006:
1.Kamis,1 Juni : Taluhnongko, Jetis, Mojokerto
2.Jumat,2 Juni : Banjarsari, Jetis, Mojokerto
3.Sabtu,3 Juni : Lakarsantri RW 03 Surabaya
4.Minggu,4 Juni : Bangkingan RW 02 Surabaya
5.Senin, 5 Juni : Sadar,Mojoanyar,Mojokerto
6.Selasa,6 Juni: Trawas
7.Rabu, 7 Juni: Bibis Timur,Krian, Sidoarjo
8.Sabtu, 10 Juni: Melati, Balongbendo, Sidoarjo
9.Minggu, 11 juni: Laban kulon, Menganti, gresik
10.Senin, 12 Juni : Pucung Balongpanggang Gresik
11.selasa, 13 juni : warugung, karangpilang,surabaya
12.rabu,14 juni: Balongwono, Trowulan, Mojokerto
13.kamis, 15 juni: pandan,Kemlagi,Mojokerto
14.Sabtu,17 juni : Made RW 03,Surabaya
15.Minggu, 18 juni: Damarsih, Mojoanyar,mojokerto
16.selasa,20 juni: Tulangan,Sidoarjo.
17.Rabu,21 Juni: Blimbing, Kesamben,Jombang
18.Kamis,22 Juni: Batankrajan,gedeg,Mojokerto
19.Jumat, 23 Juni: Sumber nongko, Ngusikan, jombang
20.Sabtu,24 juni: Sukodono, Canggu, Mojokerto
21.Minggu, 25 Juni: Cagak agung, Cerme, gresik
22.Senin, 26 Juni: Brayu, dawar,Mojokerto
23.Selasa, 27 juni: lakarsantri RW 04, surabaya
24.Rabu,28 juni: Bali, sukodadi, Lamongan
25.Kamis, 29 juni: sumber gedhe,wringin anom,gresik
26.Jumat, 30 juni; kb Candi,Beji,Pasuruan
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap ,silakan kontak:
Bapak Drs. Eko Edy Susanto,Msi [Cak Edy Karya],
Pimpinan Ludruk Karya Budaya,
Dusun Sukodono RT 02 RW 1, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto 61300, Jawa Timur
Telp 0321- 362847
Hp 081 231 89347.
Email: cakedikarya@yahoo.com
Lomba Penulisan Naskah Teater Perempuan
LOMBA PENULISAN NASKAH TEATER PEREMPUAN
Justice for the Poor Program, The World Bank, bekerjasama dengan
PEKKA (Organisasi Perempuan untuk Pemberdayaan Perempuan Kepala
Keluarga) mengundang para pegiat seni dan masyarakat umum untuk
mengirimkan naskah skenario teater perempuan yang akan digunakan
untuk meningkatkan pemahaman hak-hak hukum perempuan di desa-desa
Indonesia. Tema skenario memunculkan berbagai persoalan hukum
perempuan, antara lain: nikah bawah tangan, kawin kontrak,
perceraian yang dilakukan secara sewenang-wenang, diskriminasi hak
waris, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi upah, atau kondisi
lain yang memprihatinkan berkenaan dengan akses perempuan terhadap
keadilan.
Persyaratan naskah antara lain: (1) Bentuk penulisan naskah adalah
yang lazim bagi skenario teater; (2) Setting teater diharapkan lebih
netral dalam arti dapat disesuaikan dengan berbagai latar belakang
budaya. Sangat diharapkan skenario tidak terlalu menggambarkan atau
mencerminkan suatu budaya atau tradisi tertentu, namun lebih
mencerminkan nilai-nilai atau budaya nasional; (3) Naskah dapat
dipentaskan sebagai teater penyadaran untuk masyarakat (teater
keliling/rakyat), dapat dipadukan dengan musik namun tidak
memerlukan peralatan yang memberatkan masyarakat, serta bisa
dilakukan oleh kelompok masyarakat manapun dengan murah meriah; (4)
Durasi skenario adalah 25-30 menit; (5) Hak publikasi naskah
skenario dengan segala bentuk modifikasi serta hak peredaran dari 10
naskah terbaik ada pada Justice for The Poor. Informasi lengkap bisa
dilihat di www.justiceforthepoor.or.id atau mohon lihat TOR
terlampir.
Proses seleksi:
14 juli 2006: Penerimaan terakhir naskah teater
1 Agustus 2006: Pengumuman peringkat 10 naskah utama
17 Agustus 2006: Pementasan 3 naskah terbaik, sekaligus seleksi dan
pengumuman juara I, II dan III.
Total hadiah adalah Rp 30,5 juta. Pertanyaan lebih lanjut mengenai
gagasan serta teknis lomba akan dilayani paling lambat sampai 30
Juni 2006. Naskah dikirim ke: Panitia Skenario "Teater Perempuan?
email: dnovirianti@wboj.or.id atau pfarouk@wboj.or.id, atau melalui
pos: Justice for the Poor Program, The World Bank, Jl. Cik Ditiro
68A Menteng Jakarta, Tlp. (021) 3107158 Fax (021) 3924640.
Justice for the Poor Program, The World Bank, bekerjasama dengan
PEKKA (Organisasi Perempuan untuk Pemberdayaan Perempuan Kepala
Keluarga) mengundang para pegiat seni dan masyarakat umum untuk
mengirimkan naskah skenario teater perempuan yang akan digunakan
untuk meningkatkan pemahaman hak-hak hukum perempuan di desa-desa
Indonesia. Tema skenario memunculkan berbagai persoalan hukum
perempuan, antara lain: nikah bawah tangan, kawin kontrak,
perceraian yang dilakukan secara sewenang-wenang, diskriminasi hak
waris, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi upah, atau kondisi
lain yang memprihatinkan berkenaan dengan akses perempuan terhadap
keadilan.
Persyaratan naskah antara lain: (1) Bentuk penulisan naskah adalah
yang lazim bagi skenario teater; (2) Setting teater diharapkan lebih
netral dalam arti dapat disesuaikan dengan berbagai latar belakang
budaya. Sangat diharapkan skenario tidak terlalu menggambarkan atau
mencerminkan suatu budaya atau tradisi tertentu, namun lebih
mencerminkan nilai-nilai atau budaya nasional; (3) Naskah dapat
dipentaskan sebagai teater penyadaran untuk masyarakat (teater
keliling/rakyat), dapat dipadukan dengan musik namun tidak
memerlukan peralatan yang memberatkan masyarakat, serta bisa
dilakukan oleh kelompok masyarakat manapun dengan murah meriah; (4)
Durasi skenario adalah 25-30 menit; (5) Hak publikasi naskah
skenario dengan segala bentuk modifikasi serta hak peredaran dari 10
naskah terbaik ada pada Justice for The Poor. Informasi lengkap bisa
dilihat di www.justiceforthepoor.or.id atau mohon lihat TOR
terlampir.
Proses seleksi:
14 juli 2006: Penerimaan terakhir naskah teater
1 Agustus 2006: Pengumuman peringkat 10 naskah utama
17 Agustus 2006: Pementasan 3 naskah terbaik, sekaligus seleksi dan
pengumuman juara I, II dan III.
Total hadiah adalah Rp 30,5 juta. Pertanyaan lebih lanjut mengenai
gagasan serta teknis lomba akan dilayani paling lambat sampai 30
Juni 2006. Naskah dikirim ke: Panitia Skenario "Teater Perempuan?
email: dnovirianti@wboj.or.id atau pfarouk@wboj.or.id, atau melalui
pos: Justice for the Poor Program, The World Bank, Jl. Cik Ditiro
68A Menteng Jakarta, Tlp. (021) 3107158 Fax (021) 3924640.
Tuesday, May 09, 2006
wawancara dengan Max Arifin:teater realis,kuno..
WAWANCARA DENGAN MAX ARIFIN:
BELAJAR TEATER REALIS MASIH DIANGGAP KUNO
Akhir-akhir ini teater gaya realis kembali dimunculkan. Menurut Max Arifin, generasi baru teater sedang kehilangan referensi. Dia sering menyebut teater sebagai study. Sebab itu ia menduga, dengan kembalinya teater gaya realis, ada usaha untuk mengembalikan pada tradisi berpikir.
Dalam tahun ini tiga festival teater realis digelar. Pekan Seni Mahasiswa tangkai teater pada bulan Agustus 2004 lalu, para peserta diharapkan menggarap teater bergaya realis. Begitu juga pada bulan September, Festival Teater Remaja [FTR] Jatim yang diselenggarakan Taman Budaya Jatim[TBJT], memberikan naskah-naskah ke peserta, banyak condong ke realis. Sementara dalam bulan ini, Dewan Kesenian Jakarta [DKJ], menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.
‘Kembalinya’ teater gaya realis ini banyak yang mempertanyakan. Komunitas teater di Jember misalnya, pernah memprotes atas pilihan gaya teater realis yang disodorkan panitia kepada kelompok teater kampus. Mereka menganggap, teater realis bisa menjadi ‘alat’ pembunuhan teater. Bahkan dengan keras mereka menanyakan, apakah teater harus saling membunuh?
Begitu juga saat digelar FTR di TBJT, ada yang memprotes, hadirnya teater realis bisa menjadi kendala perkembangan teater di Surabaya, terutama soal pemahaman terhadap bentuk teater. Bahkan, ada yang melontarkan statemen , ada usaha memaksakan politik credo, dengan mengusung dramaturgi sebagai alat pembenaran teater.
Di samping peredabatan itu, sebenarnya sejauh mana para aktivis teater kita paham tentang teater realis? Dalam pertemuan technical meeting dengan peserta pekan seni mahasiswa di Jember, bisa disimpulkan, rata-rata peeserta kurang banyak referensi tentang teater realis. Menurut Max Arifin, generasi muda teater Indonesia telah kehilangan referensinya untuk membuat sebuah peristiwa teater.
“Jadi ada benarnya kalau sekarang kembali pada gagasan realisme, agar mereka tahu proses sebuah teater yang baik,” kata Max Arifin.
Max Arifin adalah salah satu tokoh perteateran di Indonesia yang sangat intens mengamati, menulis kritik, menerjemahkan buku, menjadi pembicara, juri, kurator teater, bahkan menulis buku teater, sudah dilakoninya sejak tahun 70-an. Di tempat tinggalnya, Griya Japan Raya, Jl.Bola Volley Blok E33, Sooko, Mojokerto, kepada wartawan harian SuaraIndonesia, R.Giryadi, Max Arifin menguraikan sejauh mana teater realis berkembang di Indonesia yang mendapatkan referensinya dari perkembangan teater realis di Barat? Berikut petikan wawancaranya.
Sejak kapan teater realis berkembang di Indonesia?
Teater realis di barat berkembang pada akhir abad 19. Di Indonesia sendiri mengenal teater realis setelah masa perang berakhir bahkan mulai dipelajari secara baik setelah berdiri perguruan tinggi teater seperti ATNI[ Akademi Teater Nasional Indonesia], Asdrafi [Akademi Seni Drama dan Film], dan perguruan tinggi yang lain. Kemudian beberapa kelompok teater ada yang sangat serius mendalami teater realis, seperti teater Populer nya Teguh Karya.
Di barat sendiri teater realisnya seperti apa?
Jadi teater realis itu muncul ketika dunia teater barat memasuki abad modern. Tokoh teater realis mencoba membuang apa yang disebut the theatre of histrionics dalam bidang acting dan ekses yang terlalu dibuat-buat. Seperti well-made play ala Victorian.
Salah satu tokoh gerakan ini adalah Henrik Ibsen yang karya-karyanya terus menjadi inspirasi bagi pemikir sesudahnya, seperti Bernard Shaw [Inggris], George Jean Nathan [AS].
Tetapi paham ini didasari oleh apa?
Paham modernisme awal abad 19 adalah awal kebudayaan berpikir yang dipengaruhi oleh berkembangbiaknya budaya buku. Dengan berpikir kesadaran diaktifkan, pernyataan dan wacana dapat dikaji ulang secara kritis, rinci dan meyakinkan.
Artinya teater sebagai ilmu pengetahuan?
Semangat ilmu pengetahuan memang benar-benar mengubah gaya teater romantisme yang berkembang dalam abad sebelumnya. Dalam hal ini, penulis lakon harus menjadi pengamat yang subyektif. Mereka menciptakan apa yang disebut the illusion of reality di atas pentas. Bingkai proscenium of reality diubah menjadi semacam pictute window. Lewat jendela itu kita bisa melihat peristiwa yang kini, di sini dan sekarang terjadi.
Max Arifin atau nama lengkapnya Mohammad Arifin, lahir di Sumbawa Besar tahun 1936. Ketika di Mataram Lombok, dia mengajar teknik penyutradaraan pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Selain itu dia juga sibuk menjadi pegawai di Dikbud NTB bekerja pada seksi sastra dan drama [modern dan tradisional].
Sejak tahun 1970-an sering mengikuti pertemuan-pertemuan teater. Pada tahun 1977 ikut menyusun materi keterampilan seni teater di Ambarawa. Tahun 1978, mengikuti seminar teater di Bandung. Selain sibuk mengikuti pertemuan teater Max Arifin juga menerjemahkan buku-buku tentang teater, novel dan cerpen.
Sekarang gagasan teater realis kembali ditawarkan, di tengah perkembangan teater modern Indonesia. Bahkan lembaga seperti Dewan Kesenian Jakarta menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.
Menurut Anda, mengapa gagasan teater realis dimunculkan kembali?
Dugaan saya, ini usaha mengembalikan pada proses teater yang baik. Dengan begitu, para generasi muda kita yang getol dengan teater tidak kehilangan referensinya ketika memahami teater. Dugaan saya yang lain, barangkali ini juga usaha mengembalikan wacana berpikir dalam proses berteater. Karena saya melihat perkembangan teater kita carut-marut, seperti tanpa arah.
Bukankah pada tahun 60-an teater kita sudah berkembang dengan baik?
Itulah, saat ini menurut dugaan saya, barangkali kita butuh wacana teater realis yang Indonesia. Bukan adopsi dari barat. Kalaupun ada gaya realis Rendra misalnya, itu kan hanya mengambil sebagian barat dan sebaian timur dalam hal ini Jawa.
Di Indonesia sendiri apakah ada teater realis?
Di Jepang seperti dalam bukunya David Goodman, diterangkan bahwa ada tiga teater realis gaya Jepang. Dalam buku itu disebutkan shejitsu merupakan refkeksi aktual, shashin merupakan refleksi kebenaran, dan shasei merupakan refkeksi kehidupan. Ini kan menunjukkan ciri-ciri teater realis. Pertanyaannya apakah Indonesia punya ciri-ciri seperti itu?
Kalau begitu yang dimaksud realis dalam kontek kebudayaan Indonesia sendiri seperti apa?
Ini sulit sekali menilai. Study Club Teater Bandung [STB] pimpinan Alm.Suyatna Anirun misalnya masih sebatas mengadaptasi naskah barat ke gaya sunda. Begitu juga Bengkel Teater Rendra, juga masih sebatas mengadaptasi, mengaktualisasikan tema-tema barat ke Indonesia. Ini sah. Tetapi yang benar-benar digali dari persoalan sendiri masih kurang. Bahkan ironisnya, bila kita belajar teater realis masih dianggap kuno.
Ciri-ciri teater realis sendiri apa?
Yang digambarkan dalam lakon-lakon bukanlah pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan yang eksotik, tetapi masalah-masalah biasa.
Bukan mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi, tetapi studi ilmiah kehidupan yang aktual. Didasarkan pada observasi yang hati-hati terhadap orang-orang biasa dan tempat-tempat yang riil.
Ciri-ciri pemanggungannyasendiri dibagi atas wilayah-wilayah yang mempunyai nilai sendiri-sendiri di setiap wilayahnya. Seperti pentas dibagi ke dalam sembilan wilayah. Dengan pembagian wilayah ini diharapkan para aktor akan segera menganalisis arena permainan mereka.
Naskah lakon realis haruslah complete an self-contained ,sebuah alur cerita yang padu, rangkaian peristiwa yang disusun atas dasar sebab akibat.
Selain menerjemahkan naskah-naskah drama barat, Max Arifin juga pernah menulis drama sejak tahun 1988. Naskah drama yang pernah ditulis berjudul Putri Mandalika, Matinya Demung Sandubaya, Badai Sepanjang Malam, Balada Sahdi-Sahdia, Tumbal Kemerdekaan.
Selain menerjemahkan naskah drama, Max juga banyak menerjemahkan buku-buku teater yang ditulis oleh Jerzy Grotowski, Bertolth Brecht, Peter Brook, David Goodman,Constantin Stanislavsky.
Tadi dikatakan mempelajari teater realis dianggap kuno. Apakah ini disebabkan oleh kesalahan dalam memahami teater realis?
Realisme telah memberikan inspirasi yang tak akan pernah mati-mati. Karya-karya Bertolt Brech disebut sebagai puncak dari realisme. Teater memang berada di antara semua faktor yang saling melawan dan semua itu memberinya kehidupan dan teater sendiri adalah a life giver. Eksistensi teater adalah rawan, suatu perjuangan yang terus berputar.
Jadi sebenarnya semangat teater realis adalah semangat berpikir. Dan berpikir suatu yang bukan kuno?
Benar.Realisme mencoba merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran dan itulah sebabnya teater realis disebut the theatre of intelligent. Ini argumen mendasar teater modern baik it kaum naturalis, realis, maupun teatrikalis.
Max Arifin sering mengatakan bahwa teater adalah study. Dalam buku Jagad Teater [Bakdi Sumanto:2001], diterangkan semangat realisme yang sebenarnya merangsang seniman untuk kritis terhadap diri sendiri.
Sayang, sikap kritis untuk mengembangkan teaternya sendiri tidak diberi banyak kesempatan untuk tumbuh. Sementara ktitik teater benar-benar macet.
Barangkali, ketika semuanya macet, disinilah peranan realisme dibutuhkan dan kita kembali pada hal yang sangat mendasar bagi manusia: Berpikir !
[wawancara ini dimuat di harian SuaraIndonesia,Minggu, 28 November 2004].
Alamat kontak Bapak Max Arifin:
Jl.Bola Volley Blok E 33,Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa timur. Telp 0321- 326915. Hp 085 2300 39 807. email: daxxenos2@yahoo.com.
Sebagian karya terjemahan, dapat diakses melalui blog: banyumili. Link:http://majapahitan2.blogspot.com
BELAJAR TEATER REALIS MASIH DIANGGAP KUNO
Akhir-akhir ini teater gaya realis kembali dimunculkan. Menurut Max Arifin, generasi baru teater sedang kehilangan referensi. Dia sering menyebut teater sebagai study. Sebab itu ia menduga, dengan kembalinya teater gaya realis, ada usaha untuk mengembalikan pada tradisi berpikir.
Dalam tahun ini tiga festival teater realis digelar. Pekan Seni Mahasiswa tangkai teater pada bulan Agustus 2004 lalu, para peserta diharapkan menggarap teater bergaya realis. Begitu juga pada bulan September, Festival Teater Remaja [FTR] Jatim yang diselenggarakan Taman Budaya Jatim[TBJT], memberikan naskah-naskah ke peserta, banyak condong ke realis. Sementara dalam bulan ini, Dewan Kesenian Jakarta [DKJ], menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.
‘Kembalinya’ teater gaya realis ini banyak yang mempertanyakan. Komunitas teater di Jember misalnya, pernah memprotes atas pilihan gaya teater realis yang disodorkan panitia kepada kelompok teater kampus. Mereka menganggap, teater realis bisa menjadi ‘alat’ pembunuhan teater. Bahkan dengan keras mereka menanyakan, apakah teater harus saling membunuh?
Begitu juga saat digelar FTR di TBJT, ada yang memprotes, hadirnya teater realis bisa menjadi kendala perkembangan teater di Surabaya, terutama soal pemahaman terhadap bentuk teater. Bahkan, ada yang melontarkan statemen , ada usaha memaksakan politik credo, dengan mengusung dramaturgi sebagai alat pembenaran teater.
Di samping peredabatan itu, sebenarnya sejauh mana para aktivis teater kita paham tentang teater realis? Dalam pertemuan technical meeting dengan peserta pekan seni mahasiswa di Jember, bisa disimpulkan, rata-rata peeserta kurang banyak referensi tentang teater realis. Menurut Max Arifin, generasi muda teater Indonesia telah kehilangan referensinya untuk membuat sebuah peristiwa teater.
“Jadi ada benarnya kalau sekarang kembali pada gagasan realisme, agar mereka tahu proses sebuah teater yang baik,” kata Max Arifin.
Max Arifin adalah salah satu tokoh perteateran di Indonesia yang sangat intens mengamati, menulis kritik, menerjemahkan buku, menjadi pembicara, juri, kurator teater, bahkan menulis buku teater, sudah dilakoninya sejak tahun 70-an. Di tempat tinggalnya, Griya Japan Raya, Jl.Bola Volley Blok E33, Sooko, Mojokerto, kepada wartawan harian SuaraIndonesia, R.Giryadi, Max Arifin menguraikan sejauh mana teater realis berkembang di Indonesia yang mendapatkan referensinya dari perkembangan teater realis di Barat? Berikut petikan wawancaranya.
Sejak kapan teater realis berkembang di Indonesia?
Teater realis di barat berkembang pada akhir abad 19. Di Indonesia sendiri mengenal teater realis setelah masa perang berakhir bahkan mulai dipelajari secara baik setelah berdiri perguruan tinggi teater seperti ATNI[ Akademi Teater Nasional Indonesia], Asdrafi [Akademi Seni Drama dan Film], dan perguruan tinggi yang lain. Kemudian beberapa kelompok teater ada yang sangat serius mendalami teater realis, seperti teater Populer nya Teguh Karya.
Di barat sendiri teater realisnya seperti apa?
Jadi teater realis itu muncul ketika dunia teater barat memasuki abad modern. Tokoh teater realis mencoba membuang apa yang disebut the theatre of histrionics dalam bidang acting dan ekses yang terlalu dibuat-buat. Seperti well-made play ala Victorian.
Salah satu tokoh gerakan ini adalah Henrik Ibsen yang karya-karyanya terus menjadi inspirasi bagi pemikir sesudahnya, seperti Bernard Shaw [Inggris], George Jean Nathan [AS].
Tetapi paham ini didasari oleh apa?
Paham modernisme awal abad 19 adalah awal kebudayaan berpikir yang dipengaruhi oleh berkembangbiaknya budaya buku. Dengan berpikir kesadaran diaktifkan, pernyataan dan wacana dapat dikaji ulang secara kritis, rinci dan meyakinkan.
Artinya teater sebagai ilmu pengetahuan?
Semangat ilmu pengetahuan memang benar-benar mengubah gaya teater romantisme yang berkembang dalam abad sebelumnya. Dalam hal ini, penulis lakon harus menjadi pengamat yang subyektif. Mereka menciptakan apa yang disebut the illusion of reality di atas pentas. Bingkai proscenium of reality diubah menjadi semacam pictute window. Lewat jendela itu kita bisa melihat peristiwa yang kini, di sini dan sekarang terjadi.
Max Arifin atau nama lengkapnya Mohammad Arifin, lahir di Sumbawa Besar tahun 1936. Ketika di Mataram Lombok, dia mengajar teknik penyutradaraan pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Selain itu dia juga sibuk menjadi pegawai di Dikbud NTB bekerja pada seksi sastra dan drama [modern dan tradisional].
Sejak tahun 1970-an sering mengikuti pertemuan-pertemuan teater. Pada tahun 1977 ikut menyusun materi keterampilan seni teater di Ambarawa. Tahun 1978, mengikuti seminar teater di Bandung. Selain sibuk mengikuti pertemuan teater Max Arifin juga menerjemahkan buku-buku tentang teater, novel dan cerpen.
Sekarang gagasan teater realis kembali ditawarkan, di tengah perkembangan teater modern Indonesia. Bahkan lembaga seperti Dewan Kesenian Jakarta menggelar Panggung Realis Teater Indonesia.
Menurut Anda, mengapa gagasan teater realis dimunculkan kembali?
Dugaan saya, ini usaha mengembalikan pada proses teater yang baik. Dengan begitu, para generasi muda kita yang getol dengan teater tidak kehilangan referensinya ketika memahami teater. Dugaan saya yang lain, barangkali ini juga usaha mengembalikan wacana berpikir dalam proses berteater. Karena saya melihat perkembangan teater kita carut-marut, seperti tanpa arah.
Bukankah pada tahun 60-an teater kita sudah berkembang dengan baik?
Itulah, saat ini menurut dugaan saya, barangkali kita butuh wacana teater realis yang Indonesia. Bukan adopsi dari barat. Kalaupun ada gaya realis Rendra misalnya, itu kan hanya mengambil sebagian barat dan sebaian timur dalam hal ini Jawa.
Di Indonesia sendiri apakah ada teater realis?
Di Jepang seperti dalam bukunya David Goodman, diterangkan bahwa ada tiga teater realis gaya Jepang. Dalam buku itu disebutkan shejitsu merupakan refkeksi aktual, shashin merupakan refleksi kebenaran, dan shasei merupakan refkeksi kehidupan. Ini kan menunjukkan ciri-ciri teater realis. Pertanyaannya apakah Indonesia punya ciri-ciri seperti itu?
Kalau begitu yang dimaksud realis dalam kontek kebudayaan Indonesia sendiri seperti apa?
Ini sulit sekali menilai. Study Club Teater Bandung [STB] pimpinan Alm.Suyatna Anirun misalnya masih sebatas mengadaptasi naskah barat ke gaya sunda. Begitu juga Bengkel Teater Rendra, juga masih sebatas mengadaptasi, mengaktualisasikan tema-tema barat ke Indonesia. Ini sah. Tetapi yang benar-benar digali dari persoalan sendiri masih kurang. Bahkan ironisnya, bila kita belajar teater realis masih dianggap kuno.
Ciri-ciri teater realis sendiri apa?
Yang digambarkan dalam lakon-lakon bukanlah pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan yang eksotik, tetapi masalah-masalah biasa.
Bukan mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi, tetapi studi ilmiah kehidupan yang aktual. Didasarkan pada observasi yang hati-hati terhadap orang-orang biasa dan tempat-tempat yang riil.
Ciri-ciri pemanggungannyasendiri dibagi atas wilayah-wilayah yang mempunyai nilai sendiri-sendiri di setiap wilayahnya. Seperti pentas dibagi ke dalam sembilan wilayah. Dengan pembagian wilayah ini diharapkan para aktor akan segera menganalisis arena permainan mereka.
Naskah lakon realis haruslah complete an self-contained ,sebuah alur cerita yang padu, rangkaian peristiwa yang disusun atas dasar sebab akibat.
Selain menerjemahkan naskah-naskah drama barat, Max Arifin juga pernah menulis drama sejak tahun 1988. Naskah drama yang pernah ditulis berjudul Putri Mandalika, Matinya Demung Sandubaya, Badai Sepanjang Malam, Balada Sahdi-Sahdia, Tumbal Kemerdekaan.
Selain menerjemahkan naskah drama, Max juga banyak menerjemahkan buku-buku teater yang ditulis oleh Jerzy Grotowski, Bertolth Brecht, Peter Brook, David Goodman,Constantin Stanislavsky.
Tadi dikatakan mempelajari teater realis dianggap kuno. Apakah ini disebabkan oleh kesalahan dalam memahami teater realis?
Realisme telah memberikan inspirasi yang tak akan pernah mati-mati. Karya-karya Bertolt Brech disebut sebagai puncak dari realisme. Teater memang berada di antara semua faktor yang saling melawan dan semua itu memberinya kehidupan dan teater sendiri adalah a life giver. Eksistensi teater adalah rawan, suatu perjuangan yang terus berputar.
Jadi sebenarnya semangat teater realis adalah semangat berpikir. Dan berpikir suatu yang bukan kuno?
Benar.Realisme mencoba merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran dan itulah sebabnya teater realis disebut the theatre of intelligent. Ini argumen mendasar teater modern baik it kaum naturalis, realis, maupun teatrikalis.
Max Arifin sering mengatakan bahwa teater adalah study. Dalam buku Jagad Teater [Bakdi Sumanto:2001], diterangkan semangat realisme yang sebenarnya merangsang seniman untuk kritis terhadap diri sendiri.
Sayang, sikap kritis untuk mengembangkan teaternya sendiri tidak diberi banyak kesempatan untuk tumbuh. Sementara ktitik teater benar-benar macet.
Barangkali, ketika semuanya macet, disinilah peranan realisme dibutuhkan dan kita kembali pada hal yang sangat mendasar bagi manusia: Berpikir !
[wawancara ini dimuat di harian SuaraIndonesia,Minggu, 28 November 2004].
Alamat kontak Bapak Max Arifin:
Jl.Bola Volley Blok E 33,Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa timur. Telp 0321- 326915. Hp 085 2300 39 807. email: daxxenos2@yahoo.com.
Sebagian karya terjemahan, dapat diakses melalui blog: banyumili. Link:http://majapahitan2.blogspot.com
Wednesday, May 03, 2006
Actor's Studio Teater Garasi
Halo teman-teman,
Salam budaya,
Bersama ini, kami hendak mengabarkan bahwa Actor's Studio Teater Garasi sudah mulai membuka pendaftaran peserta.
Actor's Studio adalah program belajar keaktoran yang diselenggarakan oleh Teater Garasi: Laboratorium penciptaan Teater yang terbuka bagi aktor pemula atau siapa saja yang ingin mengenal atau mempelajari keaktoran secara lebih jauh dan mendalam. Selama 6 bulan dalam Actor's Studio peserta akan diajak mengenal dunia teater, terutama keaktoran, melalui serangkaian workshop, kelas-kelas teori dan latihan dasar dengan fasilitator serta pengajar yang berkompeten di bidangnya.
Kegiatan ini terbuka untuk 15 actor (10 dari Yogya dan 5 dari luar yogya) yang lolos seleksi. Bagi peserta dari luar kota Yogya, Teater Garasi hanya akan menanggung biaya pendidikan.
Persyaratan :
Bersedia mengikuti secara utuh masa pendidikan Actor's Studio (6 bulan)
Mengisi formulir yang terlampir
Melampirkan CV
Melampirkan foto seluruh badan (ukuran postcard)
Mohon mengirim kembali semua persyaratan tersebut di atas ke : garasi@teatergarasi.org
Dengan mencantumkan subjek : Pendaftaran Peserta Actor's Studio
Batas akhir pengembalian formulir adalah 1 Juni 2006
Kalau masih ada pertanyaan, silakan menghubungi
Galuh Asti (0817-410-5154)
Gunawan Maryanto (0274) 740 6087
Ok, kami tunggu ya…
Salam,
Galuh
--
Teater Garasi
Jl. Bugisan Selatan No. 36A
Tegal Kenongo Yogyakarta 55181
Phone/Fax. +62 274 415844
E-mail: garasi@teatergarasi.org
www.teatergarasi.org
Salam budaya,
Bersama ini, kami hendak mengabarkan bahwa Actor's Studio Teater Garasi sudah mulai membuka pendaftaran peserta.
Actor's Studio adalah program belajar keaktoran yang diselenggarakan oleh Teater Garasi: Laboratorium penciptaan Teater yang terbuka bagi aktor pemula atau siapa saja yang ingin mengenal atau mempelajari keaktoran secara lebih jauh dan mendalam. Selama 6 bulan dalam Actor's Studio peserta akan diajak mengenal dunia teater, terutama keaktoran, melalui serangkaian workshop, kelas-kelas teori dan latihan dasar dengan fasilitator serta pengajar yang berkompeten di bidangnya.
Kegiatan ini terbuka untuk 15 actor (10 dari Yogya dan 5 dari luar yogya) yang lolos seleksi. Bagi peserta dari luar kota Yogya, Teater Garasi hanya akan menanggung biaya pendidikan.
Persyaratan :
Bersedia mengikuti secara utuh masa pendidikan Actor's Studio (6 bulan)
Mengisi formulir yang terlampir
Melampirkan CV
Melampirkan foto seluruh badan (ukuran postcard)
Mohon mengirim kembali semua persyaratan tersebut di atas ke : garasi@teatergarasi.org
Dengan mencantumkan subjek : Pendaftaran Peserta Actor's Studio
Batas akhir pengembalian formulir adalah 1 Juni 2006
Kalau masih ada pertanyaan, silakan menghubungi
Galuh Asti (0817-410-5154)
Gunawan Maryanto (0274) 740 6087
Ok, kami tunggu ya…
Salam,
Galuh
--
Teater Garasi
Jl. Bugisan Selatan No. 36A
Tegal Kenongo Yogyakarta 55181
Phone/Fax. +62 274 415844
E-mail: garasi@teatergarasi.org
www.teatergarasi.org
NASKAH DRAMA BALADA SAHDI- SAHDIA
[DRAMA SATU BABAK]
OLEH : MAX ARIFIN
CATATAN:
Naskah ini “lahir” setelah mengalami pengendapan dan perenungan yang cukup lama. Pematangannya makin dipercepat antara lain oleh:
1.Keterkejutan atas tenggelamnya kapal Darma Mulia pada tanggal 20 Mei 1989 [Hari Kebangkitan Nasional !] yang menewaskan lebih dari 35 orang, tertera dalam banyak guntingan koran dan majalah.
2.Penjelajahan intensif ke desa-desa di kawasan Lombok Selatan;
3.Membaca buku langit suci karangan Peter l.Berger, terutama konsepnya tentang anomik dan alienasi.
4.Kekaguman terhadap semangat yang terpendam dalam catatan-catatan pinggir Goenawan Mohammad di Majalah TEMPO yang merupakan geliatan-geliatan seorang intelektual sejati.
Mungkin di sana ada satu dua kalimat dan frase-frase yang kami kutip agar semangat itu tetap utuh milik Goenawan Mohammad.
Uacapan maaf dan terima kasih saya ucapkan.
5.Kegemasan pada jawaban para pejabat di Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan desa-desa yang mengatakan: “Ah, itu kan cuma soal-soal mikro!”.
Untuk pementasan naskah ini, harap menghubungi penulisnya:
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807
Pelaku utama:
1.Sahdi : 30 tahun
2.Sahdia : 25 tahun
3.Dan lain-lain sesuai kebutuhan.
Waktu: Malam hari.
Tempat:
Masing-masing berada dalam sebuah ruangan- - -dibatasi- oleh cahaya- - -.
Suasana desa.
Pada mulanya adalah gelap dan sunyi.
Kemudian di kejauhan sekali-sekali terdengar gonggongan anjing. Lalu, lewat tengah malam terdengar sayup-sayup sampai gema suara anak-anak menyanyikan lagu suku bangsanya, lagu Kadal Nonga.
Lagu makin lama makin keras, bersamaan dengan lewatnya empat-lima keluarga yang berjalan perlahan dalam bayangan, melintasi tengah pentas [dari kanan ke kiri] menantang cahaya awal menjelang subuh.
Para lelaki berjalan di depan membawa peralatan untuk menangkap ikan; wanita dan anak-anak mengikuti di belakang membawa bakul dan bekal makanan.
Perjalanan makin menjauh menuju ke Selatan.
Suara-suara menghilang dan seberkas cahaya pagi menerpa wajah seorang dukun/belian tua duduk di batu karang.
Belian mengucapkan kata-kata:
Aku jalan mengikuti jejak-jejak ke pantai
memare made nenek moyangku
dan suara-suara, tawa dan nyanyi
Datang mendorong memberi semangat.
Memare made di teluk Ekas
tidak jauh dari gubuk tinggalku
gubuk pindahan dari tempat ke tempat
dan tinggal selama sanggup bertahan
Seperti nenek moyang yang rindu keakanan.
Kini kami berada di sana
yang dulu muda
kini tua dan tinggal tak karuan
dan kerinduanku cumalah gema
mimpi yang silih berganti
datang menjelang sepanjang jejak
di mana api unggun sering menyala
Kemudian datang Amaq Sahdi
dalam usia dua puluh dua tahun
mengawini si Saenah
kebanggaan menyelimuti desa
sesepuh-sesepuh kami yang dulu itu
yang terdampar di Gunung piring
dan sebagian di Batunampar
semuanya tergulung dalam cakepan
lontar yang membisu
dan sebagian terjebak jadi nunas.
Kini kami yang ada di sana
yang dulu muda
sekarang tua dan hidup tak karuan
dan kerinduanku cumalah gema
dalam mimpi yang silih berganti
datang menjelang di sepanjang jejak ini
di mana api unggun sering menyala.
Kemudian pentas menjadi gelap.
ADEGAN SATU:
Ketika pentas masih gelap, terdengar lagi sayup-sayup lagu Kadal Nonga dibawakan oleh suara wanita, lambat dan memelas.
Pada saat itu cahaya membias di kedua ruang yang ada di pentas----Sahdi sedang duduk di amben, tempat tidurnya [ di kiri] dan Sahdia di kanan [juga duduk di amben/balai-balai].
Keduanya saling membelakangi. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan.
01.SAHDIA:
Ingin kukabarkan padamu, tapi aku tidak tahu di mana kau.
Sekarang aku sendirian di desa.
Inaq meninggal tiga bulan yang lalu.
Amaq berangkat dengan rombongan sebulan yang lalu. Katanya mau ke Sulawesi selatan. Atau ke Irian jaya.
Aku tidak tahu tepatnya.
[PAUSE].
Aku ingin menceriterakan semuanya padamu. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Aku sudah lelah. Memikirkan kau. Memikirkan kelanjutan hidup di sini.
[PAUSE]
Masih ada sisa tanah tiga are lagi, tanah kebun dekat pantai sana. Sedang tanah sawah yang 1 ½ are tidak cukup untuk makan setahun.
Aku tidak tahu apa yang kucari.
[PAUSE]
Kau di mana, Sahdi.
Suratmu tidak memberikan alamat. Aku heran kenapa. Apakah itu berarti bahwa aku tidak boleh bersurat ?
[Perlahan dia menuju ke amben lagi dan duduk. Merenung, menarik napas dalam-dalam].
02.SAHDI:
Betapa tidak tenteramnya aku di sini, Sahdia.
Sahdia.[Pada saat itu Sahdia mengangat muka dan “mendengarkan”]. Kalau kau ingin mengetahui keadaanku yang sebenarnya, bacalah lagi suratku yang kukirim belum lama ini. Tentu sudah sampai.
[SAHDIA bergegas mengambil besek di kepala tempat tidurnya. Di sana ada surat Sahdi. Diambil, dikeluarkan dari amplopnya lalu dibaca. Yang terdengar adalah suara SAHDI di seberang].
“Rinduku adalah rindu pada makna
yang memberikan warna pada teluk dan tanjung
agar kita tidak berada di desa yang sepi
dan menjadi asing padanya.
Lelakaqku adalah mimpi gelisah bangun pagi
dan melihat patokan terpacak di halaman rumah
kelanjutan perih dari zaman ke zaman
dan menemukan diriku di tengah padang.
Kegelisahanku adalah kegelisahan yang berlanjut
tatkala di negeri seberang dera melilit
bersama ketakutan melihat matahari
dan wajahpun tambah buram pada halimun
di tengah padang gembala desa tak bernama
seperti catatan inaq tergores di tiang tengah rumah kita.
Kita adalah anak-anak tercerabut dari surga lama
dalam ceritera nina bobo nenek sehabis isya
dan tak tahu ke rumah mana akan pulang lalu
mengembara seperti Guru Dane dan Amaq Sumikir”.
03.SAHDIA:
[Setelah selesai “membaca” surat Sahdi, cahaya lampu berubah:
biru/kuning bersamaan dengan Sahdia maju, berhadapan dengan Sahdi].
Dulu kau bermimpi ingin menemukan suatu negeri impian dan meninggalkan daerah nyata tempat kau berjuang yang sebenarnya.
Aku tidak tahu apakah yang kau tulis itu suatu mimpi atau ceritera tentang dirimu sendiri.
Dan kalau kau menampakkan dirimu sekarang, kau tentu tak peduli karena suatu tujuan akhir itu tidak di sini tetapi di suatu tempat lain. Dan tak ada jalan untuk menghadapi nasib.
04.SAHDI:
kata-katamu makin menyiksa aku, di sini. Kau bicara soal nasib lagi. Nasib tidak menyelesaikan persoalan seseorang karena dia adalah persoalan itu sendiri. Ia bukan akhir tetapi sebuah perjalanan yang berlanjut terus. Tidak menaik terus dan tidak menurun terus.
05.SAHDIA:
kalau itu suatu perjalanan, kenapa panjang sekali jalan yang harus ditempuh.
06.SAHDI:
Memang demikian. Panjang.
Nasib merupakan sungai yang tak terbendungkan alirannya untuk menuju ke laut. Hal itu tidak tergantung pada kita. Satu-satunya hal yang tergantung pada kita adalah bagaimana mengatur alirannya, berjuang melawan alirannya dan tidak membiarkan diri kita terbawa arus seperti pohon tercabut dari akarnya.
07.SAHDIA:
Di sinilah nasib itu. Bukan di sana.
Di sinilah perjuangan itu, bukan di sana.
08.SAHDI:
Itulah soalnya.
Kadang-kadang perjalanan hidup ini merupakan ceritera dan dongeng karena di luar pengaturan kita. Di luar kesadaran kita. Kita tidak mampu.
09.SAHDIA:
Aku kira tidak, ia adalah kenyataan yang pahit.
10.SAHDI:
Tergantung bagaimana memahaminya.
11.SAHDIA:
Itulah yang membuat adanya pengertian salah pada pihak lain.
12.SAHDI:
Kalau begitu kita semua bersalah. Aku telah melakukan sesuatu atau banyak hal yang salah.
[PAUSE].
Tetapi kau harus mempercayai manusia pada akhirnya, Sahdia. Kepercayaan inilah yang telah hilang selama ini. Di desa kita. Aku pikir sebenarnya semua orang perduli tentang kebenaran, kemerdekaan, keadilan. Atau hati nurani.
13.SAHDIA:
Tetapi semuanya berada di dunia yang berada. Banyak di antara kita yang tidak mampu melakukan penyeimbangan dengan dirinya atau dengan lingkungannya. Yang terbentang di sana adalah dunia bopeng dan tak ada keberanian untuk menyentuhnya. Ini membuat kita kesepian, terlupakan, tidak penting, tanpa hak.
Dulu kita berjuang antara tanah, ladang dan laut dan tidak pernah tahu siapa yang menang. Karena kita memahaminya sebagai kehidupan yang kita terima begitu saja. Kehidupan yang dijalani sejak nenek moyang kita dulu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berani. Kita lalu cuma berbisik tentang ketakutan seakan-akan tak ada kemungkinan lain. Tak ada warisan tentang keberanian karena benda samar itu diletakkan di tempat terendah dalam susunan kebajikan.
14.SAHDI:
Keberanian itu tentu saja ada, Sahdia.
15.SAHDIA:
Mungkin tetapi ia kadang-kadang lahir lewat watak yang tidak cocok, lalu menjadi sesuatu yang menggelikan.
[LAMPU kembali pada warna awal. Dan keduanya masih terpaku. Pada saat itu suara ketukan di pintu. SAHDIA terkejut sedikit dan berpaling untuk membuka pintu. SAHDI kembali ke ambennya dan memandang ke arah “ruangan” SAHDIA].
Oh, kau. Silkahkan masuk.
[Seseorang wanita masuk]
16.WANITA:
Bagaimana ?
17.SAHDIA:
Baik-baik saja.
18.WANITA:
Ada kabar dari Sahdi ?
19.SAHDIA:
Ada.Tetapi dia tidak menulis banyak.
Pokoknya kita tidak tahu bagimana kabar pastinya tentang dia.
20.WANITA:
Kita doakan saja.
[PAUSE}.
Begini, Sahdia.
Aku mau terus-terang padamu. Orang itu minta biaya lagi pada kita untuk mengurus surat-surat tanahmu supaya kau bisa tetap memilikinya. Dan aku masih lelah, baru tadi maghrib aku tiba dari kota kecamatan.
21.SAHDIA:
Apa yang tempo hari masih kurang ?
22.WANITA:
Katanya sih begitu.
Masih kurang. Ada beberapa orang lagi yang harus dibayar sebab bukan cuma dia. Urusan ini terus berlanjut ke atas, katanya.
Maklumlah. Sedang aku sendiri tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
23.SAHDIA:
Berapa lagi dia minta ?
24.WANITA:
Tidak banyak.Lima puluh ribu rupiah.
[Sahdia agak terkejut mendengar jumlah itu].
Kalau memang kau tidak punya uang sekarang, orang itu mau membayarnya lebih dulu.
25.SAHDIA:
Berarti saya berutang padanya.
Tempo hari juga begitu.
Dan itu berarti hutangku padanya sudah hampir dua ratus ribu rupiah.
Bagaimana aku harus bayar?
26.WANITA:
Dia bilang tidak usah dirisaukan.
27.SAHDIA:
Maksudnya?
28.WANITA:
Dia orang baik, kau tenag-tenag saja.
29.SAHDIA:
Tidak, apa maksudnya.
30.WANITA:
Kapan kau punya uang , ya bayarlah. Pokoknya kau tidak akan ditagih secara paksa.
31.SAHDIA:
Aku percaya padamu, tetapi aku tidak punya uang sebanyak itu. Sertifikat tanahku kan sudah ada padanya.
32.WANITA:
Jadi kau tak mau bayar?
33.SAHDIA:
Ya.
[Wanita itu keluar tanpa pamit].
[Kemudian, pada saat itu pintu diketuk orang pada ruangan Sahdi. Sahdi terkejut dan Sahdia berpaling memandang pada Sahdi. Sahdi tertegun sejenak sebelum membuka pintu].
34.SAHDI:
Oh, kau, mari masuk.
[Seorang lelaki masuk].
Apa kabar ?
35.LELAKI:
Gawat ! Betul-betul gawat.
36.SAHDI:
Maksudmu ? Apanya yang gawat ?
37.LELAKI:
Aku didatangi lagi oleh orang itu. Ia minta uang lagi sebanyak lima puluh ringgit. Masih ada yang harus dibayar supaya surat-suratmu bisa keluar.
38.SAHDI:
Apa yang tempo hari belum cukup ?
39.LELAKI:
Begitulah. Buktinya ia minta lagi. Kalau surat-suratmu keluar berarti kau bisa kerja pada siang hari. Tidak seperti sekarang, kau bekerja pada malam hari dan sembunyi-sembunyi lagi.
40.SAHDI:
Ya. Aku menderita sekali rasanya.
Aku ingin melihat matahari.
Ya, salahku juga. Kenapa aku percaya pada orang-orang yang membawa kita kemari. Setelah dua puluh hari dua puluh malam tersekap di bawah lunas kapal kecil yang melelahkan sekali. Aku mabuk sejadi-jadinya, terkuras semua isi perutku. Belum lagi bau mabuk dan muntah teman-teman lain berserakan tak karuan, memercik teman-teman di sebelahnya.
[PAUSE]
Sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang disebut BAPAK waktu itu yang selalu disebut-sebut oleh calo-calo pencari kerja gelap itu. Aku tidak pernah melihatnya.
Kau tahu, dua hari-dua malam sebelum naik ke kapal kecil itu kami ditampung dulu di sebuah kebun kelapa, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Puluhan orang waktu itu.
41.LELAKI:
Itu resiko, namanya. Untuk mencapai apa yang kau inginkan kita harus berkorban. Uang, benda dan untung juga tidak nyawamu sebab kau selamat tiba di sini.
[PAUSE]
Kau menyesal ?
41.SAHDI:
Aku tidak bisa menjawabnya dengan tepat. Malah aku bingung. Barangkali. Soalnya makin menjadi jelas, banyak kesewenangan yang pandai menemukan alasan yang beradab. Punya dalih kadang-kadang filsafat, kadang-kadang ideologi. Rasa malu sudah tersimpan jauh-jauh di kolong yang kelam.
[PAUSE]
Pernah aku merenung sambil mengingat-ingat nyamannya berjemur di pantaiku yang indah di negeriku, yang katanya sekarang ini rakyat tak boleh lewat lagi, berapa besar nilai yang kuperjuangkan itu?!
44.SAHDI:
Harkat kemanusiaan sekedar untuk mendapatkan hidup yang nyaman dan layak tanpa berlebihan. Mungkin sedikit ketenangan. Tapi dari hari ke hari semuanya itu merupakan sesuatu yang makin sulit didapat. Dan aku ternyata terombang-ambingkan di antara semuanya itu.
45.LELAKI:
Kenapa kau makin tenggelam dalam lamunan seperti itu.
46.SAHDI:
Justru di sana sisa-sisa kekuatanku untuk bertahan dalam hidup ini. Kalau hal-hal itu habis, maka habis juga hidupku dan adalah lebih baik kalau menemukan kematian saja.
47.LELAKI:
Begitu konyol ?
48.SAHDI:
Bukan.Tetapi sebagai ujung dari suatu pemikiran yang macet dan ketidak perdulian dunia pada manusia.
Ada masyarakat sebagai perwujudan nilai-nilai terbaik yang berada dalam pikiran dan hati nenek moyang kita dulu, kini mengalami perubahan dengan cepat. Ada kebingungan karena masyarakat sendiri kini tak punya tempat untuk ikut mewujudkan nilai-nilai mereka sendiri dan sulitnya mencerna nilai-nilai yang berlaku yang bukan dari mereka.
49.LELAKI:
Bukankah itu berarti bahwa kebutuhan kita berlainan yang menyebabkan kita berlainan dalam melihat semuanya itu ?!
50.SAHDI:
Barangkali juga.
51.LELAKI:
Dewasa ini kita barangkali cuma bisa bicara pada tataran permukaan saja.
52.SAHDI:
Dan tataran itu agak rawan.
53.LELAKI:
Oleh sebab itu pemikiran kita dangkal-dangkal saja.
Kebutuhanmu kini jelas dan untuk mewujudkan kebutuhanmu itu diperlukan syarat-syarat tertentu.
Itu saja yang ingin kusampaikan padamu dan sekarang sepenuhnya tergantung bagaimana kau mampu mengatasinya.
54.SAHDI:
Bukan soal itu yang lebih penting. Pahami dulu apa yang kukatakan.
55.LELAKI:
Yang kukatakan padamu adalah jauh lebih nyata sekarang ini, Sahdi.
Kenapa kita masih repot dengan perasaan moral dan hati nurani segala.
Aku tahu, kau datang tidak dengan perasaan benci barangkali, dan bukan juga untuk mengagumi dirimu tetapi untuk berhasil.
Ya, untuk berhasil.
Dan jangan lupa, di balik yang sebelahnya lagi banyak orang yang mampu mengucapkan kata benci dengan bagus sekali dan dengan bagus pula menjadi sosok yang mencemohkan kemanusiaan.
Dan itulah dunia sekarang ini.
Kau pernah bilang, di desamu di sana kau didatangi oleh orang yang selama ini kau kenal bekas guru agama yang sering berkhotbah dengan air mata bercucuran dan muka yang sedih. Atau yang selama ini kau kenal sebagai orang yang membina kesenian sebagai perasaan paling halus yang dimiliki manusia, nembang di sampingmu dan dalam waktu yang bersamaan memasang jerat bagimu.
Atau orang yang menyandang tustel dengan catatan di tangannya yang kau kenal sebagai wartawan yang pura-pura mau membelamu tetapi pada dasarnya mengorek rahasia kelemahanmu dan jengkal demi jengkal tanahmu melayang dan keuntungan terbesar jatuh pada mereka.
[PAUSE. Suasana begitu hening dan mereka menunduk].
Itulah kehidupan yang barangkali justru tidak kita pahami. Tetapi itu nyata seperti kau melihat tapak tanganmu sendiri.
Manusia tidak hanya hidup dengan keadilan sekarang ini.
Untuk membunuh saja, ide saja tidak cukup; juga keberanian. Dibutuhkan pula nurani tetapi inilah titik lemah manusia yang paling pokok, pertentangan dengan nuraninya itu. Dan pembunuhan makin berlarut, malah barangkali dibatalkan.
[PAUSE].
Hidup penuh dengan kompromi, Sahdi. Juga dengan kebendaan. Dan yang paling sulit adalah kompromi dengan dirimu sendiri. Memang berat. Dan itulah hidup. Dan itulah perjuangan.
56.SAHDI:
Kau telah bicara panjang dan terima kasih kuucapkan padamu. Kau kembalilah dulu.
57.LELAKI:
Maksudmu?
58.SAHDI:
Aku tidak menjual atau menawarkan apa yang kuhadapi ini pada siapapun. Kalian boleh saja mengemukakan alasan-alasan pembenaran, tetapi tidak menyadari terjadinya apa yang disebut kejahatan yang bersifat pribadi sekali yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Kalian tidak mengolah sebuah kebenaran, tetapi kalian menerimanya sebagai barang jadi.
Tak ada uang lagi padaku. Semuanya sudah ludes.
59.LELAKI:
Kalau begitu tak ada jaminan akan berhasil.
60.SAHDI:
Apa boleh buat. Aku ingin tahu sampai di mana daya tahanku terhadap semuanya ini.
61.LELAKI:
Mungkin situasinya malah bertambah runyam.
62.SAHDI:
Kukatakan, apa boleh buat. Aku pasrah sekarang.
[LELAKI itu keluar dan setelah pintu ditutup, Sahdi kembali ke ambennya dan duduk di sana. Termenung. Suasana sepi sekali. Segala sesuatnya diam. LAMPU di ruangan Sahdi silih berganti perlahan berwarna biru, kemudian hijau, lalu kuning dan kembali lagi pada warna semula.
Tapi kemudian padam perlahan-lahan].---------------------------------
ADEGAN DUA.
[Dalam kegelapan , lagu Kadal Nonga menggema perlahan, lambat dan memelas dibawakan oleh suara wanita. Ketika lampu menyala perlahan warna kuning temaram tampak dukun tua/belian duduk di batu karang di tepi pantai].------------------------------------------------
63. DUKUN TUA: [mengucapkan lelakaq].
Keluarga-keluarga itu telah pergi;
Daerah perbatasan tak lama lagi
akan dihancurkan.
Pernah kita punya ubi di sini
Lalu berganti menjadi batu.
Tahanlah kebencian
dan deritailah kematianmu.
Keluarga-keluarga itu telah pergi
Memare-made ke laut selatan
yang dulu menjanjikan keabadian,
kini tombak-tombak telah berantakan
dan meninggalkan manusia tak punya nyali.
Kami adalah pengembara yang lelah
menghadapi gelap seperti nurani penghianat
dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba
seperti gurita yang tak bernama.
[Kemudian lampu perlahan padam tetapi nyanyian
Kadal Nonga itu masih nyaring terdengar. Dan ketika lampu mulai membias terang dan membagi lagi pentas itu menjadi dua ruangan, tampak di sana Sahdia dan sahdi duduk di ambennya masing-masing. Termenung dan menunduk].
64. SAHDIA:
[menyapa perlahan] Sahdi…………..
[Sahdi mengangkat muka sedikit].
Kau ingat, hari ini hari Sabtu. Tadi sore aku melakukan ziarah-makam di makam kayangan tempat leluhur-leluhur kita beristirahat. Aku menangis di sana. Seperti biasa, aku minta supaya kita selamat semua. Dan hari Rabu lalu aku dan tetangga ke makam Wali Nyato. Kau tentu masih ingat sejarah Wali Nyato.
[PAUSE]
Dan sehabis panen yang lalu aku juga ikut upacara ngengapung dengan semua penduduk desa. Upacara ini dipimpin oleh belian Kurdap. Kami semua berenang di laut agar kami selamat.
Sudah tiga tahun upacara ini tidak dilakukan dan belian Kurdap mengingatkan semua penduduk desa. Ada kesadaran penduduk desa untuk melaksanakannya walau di sana wajah-wajah penuh kemuraman. Ada yang tak terkatakan, yang mengikat mereka. Ketika aku pulang, kami masih merenung sebentar dan menyaksikan matahari yang mulai tenggelam ke laut sebelah barat. Laut seperti terbakar. Merah menyala. Mendebarkan. Mungkin mengerikan ! Tapi ada kesedihan juga. Air mata tak kurasa mengalir. Kami tak tahu apakah tahun-tahun mendatang kami masih berhak menyaksikan keindahan itu lagi.
65.SAHDI:
Aku memahamimu, Sahdia.
Aku memahamimu. Sungguh.
Banyak harapan seperti akan pupus begitu saja.
Tetapi kutekankan padamu, harapan-harapan , bagaimanapun harus mempunyai cadangan. Ini juga berarti bahwa kita harus pandai berendah hati. Ya, kutekankan, siap dengan pilihan yang tidak amat bagus.
66.SAHDIA:
Aku melihat dan menyaksikan betapa sulitnya kita mendapat ketulusan.
67. SAHDI:
Tentu, Sahdia. Itu merupakan akibat langsung dari hal-hal sebelumnya. Aku masih memahami keadaan batin masyarakatku pada umumnya. Dari kecil kita dilatih dengan kekuatan batin untuk menahan diri, sesuatu yang cocok untuk kita dan kita akan celaka bila kita marah. Ketulusan sulit diharapkan dari mereka yang berada di luar masyarakat seperti itu. Selain memang mereka mempergunakan hal itu sebagai kelemahan kita, ketulusan juga memang sudah melenyap karena hati dan pikiran kita tidak merdeka. Tidak memungkinkan adanya hal-hal lain. Rumput di halaman harus dicukur sama, batu bata harus diatur sama pula. [PAUSE].
Kau paham? Ada ketakutan, yaitu ketakutan akan rusaknya jaringan pembagian kemiskinan yang ada, takut kehilangan teman tempat berbagi kemiskinan. Itu adalah pola-pola yang diwariskan secara turun-temurun dan kini terbentuklah apa yang disebut kepribadian kemiskinan, bagimana kita saling menyelamatkan dalam kemiskinan. Identitas kita sebagai suatu suku bangsa begitu lemahnya, penuh dengan sikap-sikap curiga. Dan tentu saja semuanya itu adalah hal-hal yang tidak baik, Sahdia, tetapi betapa beratnya menghadapi semuanya itu. Kita seperti porak-poranda !
68. SAHDIA:
Aku tidak paham, Sahdi.
69.SAHDI:
Kutekankan lagi, di luar sana seperti terdapat mendung berkepanjangan. Mungkin juga ketidakpedulian. Mungkin diperlukan saat-saat di mana kita tidak mudah untuk berbicara tetapi kau ketahui, Sahdia, tidak gampang untuk diam. Aku tidak tahu tepatnya, bagaimana kata-kata harus diberi harga sekarang ini. Aku juga tidak tahu apakah sebuah isyarat akan sampai. Dan mungkin cuma berupa slogan-slogan yang terpampang di sepanjang jalan besar di kotamu. Berkibar dikibas angin, memanggil siapa saja yang lewat. Tetapi yang terbaca cumalah potongan-potongan kalimat yang bernada lucu.
[Begitu Sahdi mengucapkan kalimat terakhir itu ketukan keras terdengar di ruangan Sahdia. Keduanya terperanjat dan saling memandang berbarengan dengan ketukan keras sekali lagi terdengar].
70.SAHDIA:
Ya! [Kemudian maju ke pintu dan membukanya. Seorang lelaki dengan beringasan masuk. Sahdia mundur dua-tiga langkah. Ketakutan. Walau ia tahu siapa orang itu].
71.LELAKI:
Kau menipu aku.
Kau menipu aku!
Tau? Pipil yang kau berikan padaku untuk kuurus itu adalah pipil palsu. Tau akibatnya? Aku dituduh menipu dan untuk itu aku berurusan lebih lanjut dengan polisi.
72.SAHDIA:
Itu tidak mungkin. Yang kuserahkan itu adalah pipil yang selama ini menjadi milik amaq. Tidak mungkin.
73.LELAKI:
Aku tidak perduli itu.Tetapi sekarang aku yang kena getahnya. Tapi kau tidak akan lolos. Sewaktu-waktu kau bisa diusir di samping berapa biaya yang kubutuhkan untuk berurusan dengan yang berwajib.
74.SAHDIA:
Kalau begitu kembalikan pipil itu.
75.LELAKI:
Pipil itu sudah ditahan yang berwajib untuk proses lebih lanjut.
76.SAHDIA:
Lalu di mana bantuanmu yang kau janjikan padaku.
77.LELAKI:
Jangankan bantuan, aku sekarang dalam kesusahan gara-gara pipil palsu itu.
78.SAHDIA:
Ya Tuhan! [Ia panik dan menutup mukanya lalu terisak-isak. Menangis].
79.LELAKI:
Camkan itu, Sahdia !
[Ia keluar dengan membanting pintu. Sahdia terkejut mengangkat muka. Ia terpaku, tertegun tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Sahdi di ruang sebelah tertegun sejak semula].
80.SAHDI:
Gusti Allah.
Betapa menderita batinku dalam penjara kedirian yang asing.
[PAUSE].
Langkah pertama adalah pendakian
tapi di mana harus kutemukan
penyangga yang tak goyah
di bawah lengkung langit ini ?
Orang-orang tak punya makna lagi tempat
bertanya
dan mereka melihatku tanpa bermuka*).
[Kemudian ia termenung, menerawang jauh ke depan].
Sahdi,
kuheningkan alam untuk sukmaku
yang dirantai kebodohan
yang turun temurun.
[PAUSE].,
Sahdi,
[Tapi pada saat itu pintu diketuk orang lagi.
Lagi-lagi Sahdia terkejut, nafasnya turun naik, menutup mata, menangis].
Siapa?
81.LELAKI:
[OSV] Aku, Sahdia. Bukakan pintu. Aku memang terpaksa datang malam-malam begini.
[Rupanya Sahdia mengenal suara itu, ia bangkit dan cepat menuju ke pintu. Dibuka].
82.SAHDIA:
Oh, mamiq, silahkan.
[Seorang lelaki dengan tustel bergelantungan di lehernya, tape kecil di tangannya berdempetan dengan notes/catatan kecil, memakai jaket. Ia memandang ke sebuah kursi reot, lalu duduk. Mereka berhadapan].
83.LELAKI:
Aku mau tulis semua kisah sedihmu, Sahdia. Wartawanlah satu-satunya yang mampu menyampaikan suara orang-orang lemah, suaranya tidak terdengar, orang-orang yang menderita, orang-orang yang tersudut. Kamilah orang-orang yang ditakdirkan untuk itu. Kau tahu, yang disebut interaksi positif itu ?
84.SAHDIA:
Saya tidak paham, miq.
*).Kutipan dari JATISUARA, karangan Drs.Lalu Agus Faturrahman
85.LELAKI:
Tak apalah. Itu artinya, cuma kami, pemerintah dan masyarakat. Tapi yang mampu mencuatkan persoalan kalian cuma kami, kami wartawan ini.
86.SAHDIA:
Saya sih tidak tahu betul tentang kalian. Sudah tiga kali ini kau kemari dan selalu bilang akan membantu aku. Apa yang kau minta sudah kuserahkan padamu. Tinggal satu benda paling berharga yang belum kuserahkan padamu. Kehormatanku. Apa yang kau perjuangkan ?
87.LELAKI:
Harga tanah yang pantas.
Tapi kau harus ingat. Ada batas-batasnya. Wartawan itu menulis. Karena di negara kita ini ada yang disebut sistim pers yang bebas dan bertanggung jawab.
88.SAHDIA:
Saya sih tidak mengerti, miq.
89.LELAKI:
Tidak apa.
Dan, dan, ya, ada lagi yang disebut Kode Etik Jurnalistik. Sulit kujelaskan padamu, Sahdia.
Di sampin aku membela kalian, aku juga harus memuji para pejabat. Mereka-mereka itu senang dipuji. Sebutkan saja namanya di koran, maka alangkah senangnya mereka, apalagi tentang keberhasilan mereka. Kau harus tahu itu.
Dan setiap pujian di koran itu berarti amplop, paling sedikit Rp 150.000,00 isinya. Padahal, kalau aku mau jujur padamu saja, para pejabat itu saling menyalahkan, menjelek-jelekkan satu sama lain. Tapi itu hanya padaku saja diucapkan. Ini namanya off the record. Aku menggenggam rahasia-rahasia mereka.
90.SAHDIA:
Saya sih tidak paham hal-hal itu, miq.
91.LELAKI:
Tak apalah. Pokoknya kau dengar apa yang kuucapkan.
Dan tahulah, pejabat itu paling senang kalau dikatakan bahwa mereka itu membela rakyatnya, seperti bunyi salah satu spanduk di kota. Mereka berjuang untuk rakyat.
92.SAHDIA:
Lalu bagaimana pipil dan sertifikat yang kuserahkan pada mamiq untuk diperjuangkan itu?
93.LELAKI:
Oh, itu. Tidak usah khawatir. Berada di tanganku berada berada di tangan yang aman dan semuanya sudah kuserahkan pada seorang petugas dan abdi negara ini. Yang tiap senin mengucapkan sumpahnya, yang disebut Sapta Prasetya Korpri. Ia akan melayani kita-kita ini. Aku tak boleh menyebut namanya padamu. Ini namanya merahasiakan sumber berita. Wartawan itu bekerja sedikit rahasia juga. Tidak boleh semuanya terbuka.
94.SAHDIA:
Saya sih tidak paham, miq.
95.LELAKI:
Tak apa.
Tapi, Sahdia, aku membeli sebuah kendaraan roda empat pada seorang dealer di kota. Toyota Taft nama atau merk kendaraan itu. Dengan jaminan sertifikat darimu itu sebelum kuserahkan pada abdi negara itu. Tidak enak rasanya jadi wartawan cuma jalan kaki ke sana kemari. Termasuk datang ke desam ini. Ada yang disebut gengsi itu. Dengan demikian pejabat-pejabat jadi percaya dan yakin padaku.
96.SAHDIA:
Kenapa begitu, miq?
97.LELAKI:
Apa kau tidak percaya padaku?
98.SAHDIA:
Bukan begitu, miq.
99.LELAKI:
Aku turunan bangsawan, Sahdia.
Tak mungkin menipu kalian. Jelek-jelek aku juga sudah naik haji walau bukan dengan uangku sendiri. Adakan yang namanya haji jatah, begitu.
Aku bisa menelusuri silsilahku. Aku adalah salah seorang turunan dari raja, entah Pejanggik atau Langko, aku lupa. Dan sebelumnya adalah asal Pamatan, kerajaan tertua di bumi Lombok ini.
Kau masih tidak percaya?
Aku adalah bagian dari kau. Nenek moyangmu adalah rakyat di ketiga kerajaan itu.
[PAUSE]
Maka tenanglah.
Jangan katakan pada siapapun bahwa aku mengenal kau. Ini cara kerja wartawan. Paham?
100.SAHDIA:
Paham, miq.
101. LELAKI:
Nah, kalau begitu bagus. Aku pergi dulu. Aku akan datang secepatnya.
[Lelaki itu keluar setelah mencoba mendengar kalau-kalau ada orang di luar. Memang agak lama di sana, sementara Sahdia hanya memandang dengan kosong pada wartawan itu. Setelah berbalik sebentar, lalu keluar].-
[Kemudian Sahdia berbalik, memandang ke ruangan II/Sahdi. Mereka berpandangan]. LAMPU BLUR.
01.SAHDI:
Aku tidak tahu pasti apakah itu sesuatu yang timbul karena persentuhan kebaikan. Sebuah harapan yang kuno sekali. Kau bisa menyadari, Sahdia, bahwa dewasa ini optimisme itu harus dibikin sendiri. Suasana sekitar tidak memungkinkan hal itu. Di hadapan kita menunggu banyak ketidakpastian. Bagaikan lautan Hindia yang kelam, yang luas tak bertepi. Pada saat-saat mata kita jalangkan terus menunggu waktu menyerbu ke lau untuk menangkap nyale.*) .
[PAUSE]
Aku rindu upacara bau Nyale, Sahdia.
Di sana aku bisa mengeluarkan isi hatiku lewat lelakaq **). Lelakaqlah satu-satunya seni kita yang kusenangi karena ia mampu mengatasi kemasabodohan yang mematikan orang-orang Lombok yang timbul tatkala kita Cuma merayap dari satu kebiasaan ke kebiasaan yang mematikan. Seni melawan kebiasaan yang mematikan.
02.SAHDIA:
Aku memahami, Sahdi.
Kemerdekaan mengakibatkan kesepain bagimu.
*). Nyale= semacam cacing laut yang warna-warni.
**). Lelakaq = pantun dalam bahasa Lombok/Sasak.
Kau pergi karena ingin merdeka dan bebas dari belitan kemiskinan di desa kita. Pembicaraan-pembicaraan tentang hal itu sudah begitu ramai; hampir setiap orang bicara soal yang sama dan semuanya mengeluarkan suara-suara yang gaduh. Wartawan-wartawan menulis dan bicara yang sama dan sama sekali tidak menciptakan suatu rasa kebersamaan dan kedekatan dengan kita.
03.SAHDI:
Memang begitu, Sahdia.
Mereka tahu persis bagaimana harus menulis dan bicara. Makna-makna tidak boleh tepat, harus kabur karena di sanalah mereka berlindung.
[PAUSE].
Berlindung dalam kekaburan makna itu.
Padahal kita sangat mengharapkan kata-kata yang ditulis mereka akan merupakan bagian dari suatu pencarian dan perjalanan batin. Yah, katakan bagian dari seluruh sejarah kepribadian mereka.
04.SAHDIA:
Sudahlah, Sahdi. Aku tambah bingung. Yang kutahu hanyalah bahwa harapan memang tidak boleh dikuburkan begitu saja seperti katamu. Sebab masih ada orang-orang yang bersih. Kita punya hak untuk berharap.
05.SAHDI:
Memang, walaupun kemiskinan kita bagi mereka bukan soal pokok. Tak ada yang bisa membatasi mereka kini, sehingga dunia dan manusia yang kita kenal itu menjadi tidak berharga sama sekali. Ini mengerikan sekali dan inilah sebenarnya titik perlawanan manusia.
Yang paling hakiki miliki kita telah direnggut, yaitu tujuan hidup itu sendiri. Dan hal ini membuat kita menderita.
Kita memang sulit menerima bahwa di sana ada dusta dan dusta itu begitu memberikan sifat penting pada orang dan berbagai hal. Kebenaran tidak akan membuat orang seperti itu, ya, sedikit saja kebenaran tentu akan membuat mereka malu dan betapa munafiknya kita selama ini.
Atau tak usahlah kita bicara soal kebenaran karena akan membuat kita bingung. Tetapi letakkanlah hati pada setiap perbuatan dan tindakan kita.
[PADA SAAT ITU PINTU TERDENGAR DIGEDOR DENGAN KERAS.SAHDIA SEKETIKA TERKESIAP SEBENTAR DAN MEMANDANG NANAR KE ARAH PINTU. TERDENGAR LAGI SUARA KETUKAN DENGAN KERAS. SAHDI MUNDUR TETAPI TERDENGAR SERUAN DARI LUAR]. LAMPU !
06.LELAKI:
Bukakan pintu.
Kami datang menjemput kau. Kau pendatang haram !!
07.SAHDI:
[Maju ke pintu dan membukanya. Tiga orang masuk. Ternyata askar berpakaian preman].
Apa saya harus ditangkap ? Apa masih kurang yang saya bayar pada kalian?
08.LELAKI:
Tutup mulutmu !
Di negeri kami soal itu tidak berlaku. Kalau di negeri kau bolehlah. Di sini lain.
09.SAHDI:
Tetapi………
10.LELAKI:
Nanti di sana saudara boleh berucap panjang-panjang. Tidak terhadap diri kami.
[SAHDI dibawa. Sebelum keluar ia berbalik dan memandang pada Sahdia. Agaka lama mereka berpandangan. Lalu dia dibawa juga].
11.SAHDIA:
Sahdi, Sahdi……….
[Sahdi hilang dibawa. Pada saat itu pintunya digedor orang. Dua orang masuk. Sahdia berpaling menghadapi mereka].
Ada apa ?
[Kedua orang itu masih berdiri di sana memandang tajam padanya].
Katakan apa yang kalian kehendaki.
12.LELAKI:
[Mengeluarkan selembar kertas dan mencoba membacanya].
Ini ada perintah dari atasan kami, supaya kau dengar.
“Karena ternyata pipil dan keterangan-keterangan lainnya tentang pemilikan tanah atas nama Amaq sahdi adalah palsu, maka mulai hari ini, 22 Desember 1991, tanah-tanah yang menjadi miliknya disita oleh negara”.
[Lelaki itu berhenti sebentar lalu melanjutkan].
“Kepada pemegang hak tanah sekarang, yaitu yang bernama Sahdia, akan diberikan pesangon yang besarnya akan ditentukan kemudian setelah mendengar berbagai pihak. Dan sehari sesudah surat ini keluar yang bersangkutan harus meninggalkan rumahnya.”
[Orang itu berhenti membaca surat tersebut dan memang sudah selesai/tamat. Ketiganya saling berpandangan, kemudian sahdia menutup mukanya. Terisak, menangis. Tetapi kemudian ia mengangkat mukanya dan masih dalam suara tangisnya ia berkata]:
13.SAHDIA:
lalu kemana aku harus pergi.
Kemana aku harus pergi.
[PAUSE].
Kemana aku harus pergi.
14.LELAKI:
Kau kan punya saudara atau keluarga di desa seberang sana. Kau boleh tinggal di sana sementara.
15.SAHDIA:
Kemudian aku harus pergi kemana?
[Dalam isakan tangis yang deras.] Kemana aku harus pergi?
Tanah ini begutu kucintai, kubenah dengan penuh kasih sayangku. Aku mencintai tanah ini ! Aku mencintai tanah ini. Kenapa aku harus berpisah dengan tanah ini ?
16.LELAKI:
Bersiaplah Sahdia. Tak ada waktu lagi.
[Sahdia mengemas barang-barangnya terutama pakaiannya; dibuntel dengan kain panjang kumal. Ia berdiri dan akan menuju ke pintu. Ia berhenti sejenak dan memandang kesegenap penjuru kamar tersebut untuk terakhir kalinya. Kemudian ia berbalik dan keluar diikuti oleh dua orang lelaki tersebut].
LAMPU SEKITAR MEREDUP KEMUDIAN SOROT LAMPU TERTUJU PADA WAJAH SEORANG DUKUN TUA, MAKIN LAMA MAKIN TERANG.-
ADEGAN TIGA:
Lampu menyoroti wajah dukun tua yang duduk di atas batu karang.
17.DUKUN:
Keluarga-keluarga itu telah pergi;
Daerah perbatasan tak lama lagi
akan dihancurkan.
Pernah kita punya ubi di sini
lalu berganti menjadi batu.
Tahanlah kebencian
dan deritailah kematianmu.
Keluarga-keluarga itu telah pergi
melengkapi derita anak manusia
yang pernah dijalin dengan mimpi indah
tapi hancur bertebaran di tanahnya sendiri.
Kami adalah pengembara yang lelah
menghadapi gelap seperti nurani penghianat
dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba
seperti gurita yang tak berwarna.
LAMPU kemudian padam pelan-pelan.
Gelap total.
Masih tersisa lagu Kadal Nonga sedikit, lagu suku bangsanya.
Kemudian lagu itu habis.
Sepi.
Mataram, 22 Desember 1991
Semoga harapan tak pernah padam di tanah ini.
Merdeka !
NB:
Sebuah naskah sandiwara dengan naskah yang berlatar Lombok Selatan, akan dimainkan tanggal 3 Maret 1992 di Taman Budaya Mataram. Sandiwara tersebut karya Max Arifin berjudul Balada Sahdi Sahdia, disutradarai oleh Umarul Faruk. Pada kesempatan sama bakal digelar cerita pendek Pagar karangan Hamsad rangkuti dengan sutradara Azhar Zaini. Selain itu akn tampil pula beberapa penyair setempat membacakan sajak.Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Forum Komunikasi untuk Pengembangan Teater Mataram dengan Taman Budaya mataram.( Peristiwa Budaya, Kompas, Minggu, 1 Maret 1992)
GLOSSARI:
1.Amaq :
Bapak [untuk rakyat biasa]
2.Bellan :
Dukun.
3.Cakepan :
Lontar-lontar yang berisi satu ceritera/sejarah dikumpulkan jadi satu.
4.Inaq :
Ibu
5.Lelakaq :
Nyanyian/pantun Lombok/Sasak
6.Mamiq :
Bapak[untuk orang bangsawan]
7.Mamare-made :
Suatu kegiatan menangkap ikan di laut selama 4-5 malam.Biasanya beberapa keluarga menginap di pantai dengan membuat bangunan darurat. Dilakukan menjelang turun ke sawah.
8.Nunas :
Pengemis.
9.Ngengapung:
Suatu upacara berendam di laut yang dilakukan oleh seluruh penduduk desa. Upacara ini dimaksudkan untuk menolak bahaya dan mohon keselamatan.
10.Nyale :
Cacing laut yang keluar sekali dalam setahun di pantai selatan Lombok. Dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika yang cantik. Ada upacara bau nyale[menangkap nyale] beramai-ramai pada setiap malam tanggal 20 bulan atas [Arab], yang biasanya jatuh dalam bulan Februari. Di Kuta [Selatan Lombok] tempat yang paling ramai untuk upacara ini kini sedang dibangun hotel-hotel berbintang. [***]
[DRAMA SATU BABAK]
OLEH : MAX ARIFIN
CATATAN:
Naskah ini “lahir” setelah mengalami pengendapan dan perenungan yang cukup lama. Pematangannya makin dipercepat antara lain oleh:
1.Keterkejutan atas tenggelamnya kapal Darma Mulia pada tanggal 20 Mei 1989 [Hari Kebangkitan Nasional !] yang menewaskan lebih dari 35 orang, tertera dalam banyak guntingan koran dan majalah.
2.Penjelajahan intensif ke desa-desa di kawasan Lombok Selatan;
3.Membaca buku langit suci karangan Peter l.Berger, terutama konsepnya tentang anomik dan alienasi.
4.Kekaguman terhadap semangat yang terpendam dalam catatan-catatan pinggir Goenawan Mohammad di Majalah TEMPO yang merupakan geliatan-geliatan seorang intelektual sejati.
Mungkin di sana ada satu dua kalimat dan frase-frase yang kami kutip agar semangat itu tetap utuh milik Goenawan Mohammad.
Uacapan maaf dan terima kasih saya ucapkan.
5.Kegemasan pada jawaban para pejabat di Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan desa-desa yang mengatakan: “Ah, itu kan cuma soal-soal mikro!”.
Untuk pementasan naskah ini, harap menghubungi penulisnya:
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807
Pelaku utama:
1.Sahdi : 30 tahun
2.Sahdia : 25 tahun
3.Dan lain-lain sesuai kebutuhan.
Waktu: Malam hari.
Tempat:
Masing-masing berada dalam sebuah ruangan- - -dibatasi- oleh cahaya- - -.
Suasana desa.
Pada mulanya adalah gelap dan sunyi.
Kemudian di kejauhan sekali-sekali terdengar gonggongan anjing. Lalu, lewat tengah malam terdengar sayup-sayup sampai gema suara anak-anak menyanyikan lagu suku bangsanya, lagu Kadal Nonga.
Lagu makin lama makin keras, bersamaan dengan lewatnya empat-lima keluarga yang berjalan perlahan dalam bayangan, melintasi tengah pentas [dari kanan ke kiri] menantang cahaya awal menjelang subuh.
Para lelaki berjalan di depan membawa peralatan untuk menangkap ikan; wanita dan anak-anak mengikuti di belakang membawa bakul dan bekal makanan.
Perjalanan makin menjauh menuju ke Selatan.
Suara-suara menghilang dan seberkas cahaya pagi menerpa wajah seorang dukun/belian tua duduk di batu karang.
Belian mengucapkan kata-kata:
Aku jalan mengikuti jejak-jejak ke pantai
memare made nenek moyangku
dan suara-suara, tawa dan nyanyi
Datang mendorong memberi semangat.
Memare made di teluk Ekas
tidak jauh dari gubuk tinggalku
gubuk pindahan dari tempat ke tempat
dan tinggal selama sanggup bertahan
Seperti nenek moyang yang rindu keakanan.
Kini kami berada di sana
yang dulu muda
kini tua dan tinggal tak karuan
dan kerinduanku cumalah gema
mimpi yang silih berganti
datang menjelang sepanjang jejak
di mana api unggun sering menyala
Kemudian datang Amaq Sahdi
dalam usia dua puluh dua tahun
mengawini si Saenah
kebanggaan menyelimuti desa
sesepuh-sesepuh kami yang dulu itu
yang terdampar di Gunung piring
dan sebagian di Batunampar
semuanya tergulung dalam cakepan
lontar yang membisu
dan sebagian terjebak jadi nunas.
Kini kami yang ada di sana
yang dulu muda
sekarang tua dan hidup tak karuan
dan kerinduanku cumalah gema
dalam mimpi yang silih berganti
datang menjelang di sepanjang jejak ini
di mana api unggun sering menyala.
Kemudian pentas menjadi gelap.
ADEGAN SATU:
Ketika pentas masih gelap, terdengar lagi sayup-sayup lagu Kadal Nonga dibawakan oleh suara wanita, lambat dan memelas.
Pada saat itu cahaya membias di kedua ruang yang ada di pentas----Sahdi sedang duduk di amben, tempat tidurnya [ di kiri] dan Sahdia di kanan [juga duduk di amben/balai-balai].
Keduanya saling membelakangi. Kemudian mereka bangun, berdiri, saling berhadapan, memandang ke depan, ke kejauhan.
01.SAHDIA:
Ingin kukabarkan padamu, tapi aku tidak tahu di mana kau.
Sekarang aku sendirian di desa.
Inaq meninggal tiga bulan yang lalu.
Amaq berangkat dengan rombongan sebulan yang lalu. Katanya mau ke Sulawesi selatan. Atau ke Irian jaya.
Aku tidak tahu tepatnya.
[PAUSE].
Aku ingin menceriterakan semuanya padamu. Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan. Aku sudah lelah. Memikirkan kau. Memikirkan kelanjutan hidup di sini.
[PAUSE]
Masih ada sisa tanah tiga are lagi, tanah kebun dekat pantai sana. Sedang tanah sawah yang 1 ½ are tidak cukup untuk makan setahun.
Aku tidak tahu apa yang kucari.
[PAUSE]
Kau di mana, Sahdi.
Suratmu tidak memberikan alamat. Aku heran kenapa. Apakah itu berarti bahwa aku tidak boleh bersurat ?
[Perlahan dia menuju ke amben lagi dan duduk. Merenung, menarik napas dalam-dalam].
02.SAHDI:
Betapa tidak tenteramnya aku di sini, Sahdia.
Sahdia.[Pada saat itu Sahdia mengangat muka dan “mendengarkan”]. Kalau kau ingin mengetahui keadaanku yang sebenarnya, bacalah lagi suratku yang kukirim belum lama ini. Tentu sudah sampai.
[SAHDIA bergegas mengambil besek di kepala tempat tidurnya. Di sana ada surat Sahdi. Diambil, dikeluarkan dari amplopnya lalu dibaca. Yang terdengar adalah suara SAHDI di seberang].
“Rinduku adalah rindu pada makna
yang memberikan warna pada teluk dan tanjung
agar kita tidak berada di desa yang sepi
dan menjadi asing padanya.
Lelakaqku adalah mimpi gelisah bangun pagi
dan melihat patokan terpacak di halaman rumah
kelanjutan perih dari zaman ke zaman
dan menemukan diriku di tengah padang.
Kegelisahanku adalah kegelisahan yang berlanjut
tatkala di negeri seberang dera melilit
bersama ketakutan melihat matahari
dan wajahpun tambah buram pada halimun
di tengah padang gembala desa tak bernama
seperti catatan inaq tergores di tiang tengah rumah kita.
Kita adalah anak-anak tercerabut dari surga lama
dalam ceritera nina bobo nenek sehabis isya
dan tak tahu ke rumah mana akan pulang lalu
mengembara seperti Guru Dane dan Amaq Sumikir”.
03.SAHDIA:
[Setelah selesai “membaca” surat Sahdi, cahaya lampu berubah:
biru/kuning bersamaan dengan Sahdia maju, berhadapan dengan Sahdi].
Dulu kau bermimpi ingin menemukan suatu negeri impian dan meninggalkan daerah nyata tempat kau berjuang yang sebenarnya.
Aku tidak tahu apakah yang kau tulis itu suatu mimpi atau ceritera tentang dirimu sendiri.
Dan kalau kau menampakkan dirimu sekarang, kau tentu tak peduli karena suatu tujuan akhir itu tidak di sini tetapi di suatu tempat lain. Dan tak ada jalan untuk menghadapi nasib.
04.SAHDI:
kata-katamu makin menyiksa aku, di sini. Kau bicara soal nasib lagi. Nasib tidak menyelesaikan persoalan seseorang karena dia adalah persoalan itu sendiri. Ia bukan akhir tetapi sebuah perjalanan yang berlanjut terus. Tidak menaik terus dan tidak menurun terus.
05.SAHDIA:
kalau itu suatu perjalanan, kenapa panjang sekali jalan yang harus ditempuh.
06.SAHDI:
Memang demikian. Panjang.
Nasib merupakan sungai yang tak terbendungkan alirannya untuk menuju ke laut. Hal itu tidak tergantung pada kita. Satu-satunya hal yang tergantung pada kita adalah bagaimana mengatur alirannya, berjuang melawan alirannya dan tidak membiarkan diri kita terbawa arus seperti pohon tercabut dari akarnya.
07.SAHDIA:
Di sinilah nasib itu. Bukan di sana.
Di sinilah perjuangan itu, bukan di sana.
08.SAHDI:
Itulah soalnya.
Kadang-kadang perjalanan hidup ini merupakan ceritera dan dongeng karena di luar pengaturan kita. Di luar kesadaran kita. Kita tidak mampu.
09.SAHDIA:
Aku kira tidak, ia adalah kenyataan yang pahit.
10.SAHDI:
Tergantung bagaimana memahaminya.
11.SAHDIA:
Itulah yang membuat adanya pengertian salah pada pihak lain.
12.SAHDI:
Kalau begitu kita semua bersalah. Aku telah melakukan sesuatu atau banyak hal yang salah.
[PAUSE].
Tetapi kau harus mempercayai manusia pada akhirnya, Sahdia. Kepercayaan inilah yang telah hilang selama ini. Di desa kita. Aku pikir sebenarnya semua orang perduli tentang kebenaran, kemerdekaan, keadilan. Atau hati nurani.
13.SAHDIA:
Tetapi semuanya berada di dunia yang berada. Banyak di antara kita yang tidak mampu melakukan penyeimbangan dengan dirinya atau dengan lingkungannya. Yang terbentang di sana adalah dunia bopeng dan tak ada keberanian untuk menyentuhnya. Ini membuat kita kesepian, terlupakan, tidak penting, tanpa hak.
Dulu kita berjuang antara tanah, ladang dan laut dan tidak pernah tahu siapa yang menang. Karena kita memahaminya sebagai kehidupan yang kita terima begitu saja. Kehidupan yang dijalani sejak nenek moyang kita dulu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berani. Kita lalu cuma berbisik tentang ketakutan seakan-akan tak ada kemungkinan lain. Tak ada warisan tentang keberanian karena benda samar itu diletakkan di tempat terendah dalam susunan kebajikan.
14.SAHDI:
Keberanian itu tentu saja ada, Sahdia.
15.SAHDIA:
Mungkin tetapi ia kadang-kadang lahir lewat watak yang tidak cocok, lalu menjadi sesuatu yang menggelikan.
[LAMPU kembali pada warna awal. Dan keduanya masih terpaku. Pada saat itu suara ketukan di pintu. SAHDIA terkejut sedikit dan berpaling untuk membuka pintu. SAHDI kembali ke ambennya dan memandang ke arah “ruangan” SAHDIA].
Oh, kau. Silkahkan masuk.
[Seseorang wanita masuk]
16.WANITA:
Bagaimana ?
17.SAHDIA:
Baik-baik saja.
18.WANITA:
Ada kabar dari Sahdi ?
19.SAHDIA:
Ada.Tetapi dia tidak menulis banyak.
Pokoknya kita tidak tahu bagimana kabar pastinya tentang dia.
20.WANITA:
Kita doakan saja.
[PAUSE}.
Begini, Sahdia.
Aku mau terus-terang padamu. Orang itu minta biaya lagi pada kita untuk mengurus surat-surat tanahmu supaya kau bisa tetap memilikinya. Dan aku masih lelah, baru tadi maghrib aku tiba dari kota kecamatan.
21.SAHDIA:
Apa yang tempo hari masih kurang ?
22.WANITA:
Katanya sih begitu.
Masih kurang. Ada beberapa orang lagi yang harus dibayar sebab bukan cuma dia. Urusan ini terus berlanjut ke atas, katanya.
Maklumlah. Sedang aku sendiri tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
23.SAHDIA:
Berapa lagi dia minta ?
24.WANITA:
Tidak banyak.Lima puluh ribu rupiah.
[Sahdia agak terkejut mendengar jumlah itu].
Kalau memang kau tidak punya uang sekarang, orang itu mau membayarnya lebih dulu.
25.SAHDIA:
Berarti saya berutang padanya.
Tempo hari juga begitu.
Dan itu berarti hutangku padanya sudah hampir dua ratus ribu rupiah.
Bagaimana aku harus bayar?
26.WANITA:
Dia bilang tidak usah dirisaukan.
27.SAHDIA:
Maksudnya?
28.WANITA:
Dia orang baik, kau tenag-tenag saja.
29.SAHDIA:
Tidak, apa maksudnya.
30.WANITA:
Kapan kau punya uang , ya bayarlah. Pokoknya kau tidak akan ditagih secara paksa.
31.SAHDIA:
Aku percaya padamu, tetapi aku tidak punya uang sebanyak itu. Sertifikat tanahku kan sudah ada padanya.
32.WANITA:
Jadi kau tak mau bayar?
33.SAHDIA:
Ya.
[Wanita itu keluar tanpa pamit].
[Kemudian, pada saat itu pintu diketuk orang pada ruangan Sahdi. Sahdi terkejut dan Sahdia berpaling memandang pada Sahdi. Sahdi tertegun sejenak sebelum membuka pintu].
34.SAHDI:
Oh, kau, mari masuk.
[Seorang lelaki masuk].
Apa kabar ?
35.LELAKI:
Gawat ! Betul-betul gawat.
36.SAHDI:
Maksudmu ? Apanya yang gawat ?
37.LELAKI:
Aku didatangi lagi oleh orang itu. Ia minta uang lagi sebanyak lima puluh ringgit. Masih ada yang harus dibayar supaya surat-suratmu bisa keluar.
38.SAHDI:
Apa yang tempo hari belum cukup ?
39.LELAKI:
Begitulah. Buktinya ia minta lagi. Kalau surat-suratmu keluar berarti kau bisa kerja pada siang hari. Tidak seperti sekarang, kau bekerja pada malam hari dan sembunyi-sembunyi lagi.
40.SAHDI:
Ya. Aku menderita sekali rasanya.
Aku ingin melihat matahari.
Ya, salahku juga. Kenapa aku percaya pada orang-orang yang membawa kita kemari. Setelah dua puluh hari dua puluh malam tersekap di bawah lunas kapal kecil yang melelahkan sekali. Aku mabuk sejadi-jadinya, terkuras semua isi perutku. Belum lagi bau mabuk dan muntah teman-teman lain berserakan tak karuan, memercik teman-teman di sebelahnya.
[PAUSE]
Sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang disebut BAPAK waktu itu yang selalu disebut-sebut oleh calo-calo pencari kerja gelap itu. Aku tidak pernah melihatnya.
Kau tahu, dua hari-dua malam sebelum naik ke kapal kecil itu kami ditampung dulu di sebuah kebun kelapa, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Puluhan orang waktu itu.
41.LELAKI:
Itu resiko, namanya. Untuk mencapai apa yang kau inginkan kita harus berkorban. Uang, benda dan untung juga tidak nyawamu sebab kau selamat tiba di sini.
[PAUSE]
Kau menyesal ?
41.SAHDI:
Aku tidak bisa menjawabnya dengan tepat. Malah aku bingung. Barangkali. Soalnya makin menjadi jelas, banyak kesewenangan yang pandai menemukan alasan yang beradab. Punya dalih kadang-kadang filsafat, kadang-kadang ideologi. Rasa malu sudah tersimpan jauh-jauh di kolong yang kelam.
[PAUSE]
Pernah aku merenung sambil mengingat-ingat nyamannya berjemur di pantaiku yang indah di negeriku, yang katanya sekarang ini rakyat tak boleh lewat lagi, berapa besar nilai yang kuperjuangkan itu?!
44.SAHDI:
Harkat kemanusiaan sekedar untuk mendapatkan hidup yang nyaman dan layak tanpa berlebihan. Mungkin sedikit ketenangan. Tapi dari hari ke hari semuanya itu merupakan sesuatu yang makin sulit didapat. Dan aku ternyata terombang-ambingkan di antara semuanya itu.
45.LELAKI:
Kenapa kau makin tenggelam dalam lamunan seperti itu.
46.SAHDI:
Justru di sana sisa-sisa kekuatanku untuk bertahan dalam hidup ini. Kalau hal-hal itu habis, maka habis juga hidupku dan adalah lebih baik kalau menemukan kematian saja.
47.LELAKI:
Begitu konyol ?
48.SAHDI:
Bukan.Tetapi sebagai ujung dari suatu pemikiran yang macet dan ketidak perdulian dunia pada manusia.
Ada masyarakat sebagai perwujudan nilai-nilai terbaik yang berada dalam pikiran dan hati nenek moyang kita dulu, kini mengalami perubahan dengan cepat. Ada kebingungan karena masyarakat sendiri kini tak punya tempat untuk ikut mewujudkan nilai-nilai mereka sendiri dan sulitnya mencerna nilai-nilai yang berlaku yang bukan dari mereka.
49.LELAKI:
Bukankah itu berarti bahwa kebutuhan kita berlainan yang menyebabkan kita berlainan dalam melihat semuanya itu ?!
50.SAHDI:
Barangkali juga.
51.LELAKI:
Dewasa ini kita barangkali cuma bisa bicara pada tataran permukaan saja.
52.SAHDI:
Dan tataran itu agak rawan.
53.LELAKI:
Oleh sebab itu pemikiran kita dangkal-dangkal saja.
Kebutuhanmu kini jelas dan untuk mewujudkan kebutuhanmu itu diperlukan syarat-syarat tertentu.
Itu saja yang ingin kusampaikan padamu dan sekarang sepenuhnya tergantung bagaimana kau mampu mengatasinya.
54.SAHDI:
Bukan soal itu yang lebih penting. Pahami dulu apa yang kukatakan.
55.LELAKI:
Yang kukatakan padamu adalah jauh lebih nyata sekarang ini, Sahdi.
Kenapa kita masih repot dengan perasaan moral dan hati nurani segala.
Aku tahu, kau datang tidak dengan perasaan benci barangkali, dan bukan juga untuk mengagumi dirimu tetapi untuk berhasil.
Ya, untuk berhasil.
Dan jangan lupa, di balik yang sebelahnya lagi banyak orang yang mampu mengucapkan kata benci dengan bagus sekali dan dengan bagus pula menjadi sosok yang mencemohkan kemanusiaan.
Dan itulah dunia sekarang ini.
Kau pernah bilang, di desamu di sana kau didatangi oleh orang yang selama ini kau kenal bekas guru agama yang sering berkhotbah dengan air mata bercucuran dan muka yang sedih. Atau yang selama ini kau kenal sebagai orang yang membina kesenian sebagai perasaan paling halus yang dimiliki manusia, nembang di sampingmu dan dalam waktu yang bersamaan memasang jerat bagimu.
Atau orang yang menyandang tustel dengan catatan di tangannya yang kau kenal sebagai wartawan yang pura-pura mau membelamu tetapi pada dasarnya mengorek rahasia kelemahanmu dan jengkal demi jengkal tanahmu melayang dan keuntungan terbesar jatuh pada mereka.
[PAUSE. Suasana begitu hening dan mereka menunduk].
Itulah kehidupan yang barangkali justru tidak kita pahami. Tetapi itu nyata seperti kau melihat tapak tanganmu sendiri.
Manusia tidak hanya hidup dengan keadilan sekarang ini.
Untuk membunuh saja, ide saja tidak cukup; juga keberanian. Dibutuhkan pula nurani tetapi inilah titik lemah manusia yang paling pokok, pertentangan dengan nuraninya itu. Dan pembunuhan makin berlarut, malah barangkali dibatalkan.
[PAUSE].
Hidup penuh dengan kompromi, Sahdi. Juga dengan kebendaan. Dan yang paling sulit adalah kompromi dengan dirimu sendiri. Memang berat. Dan itulah hidup. Dan itulah perjuangan.
56.SAHDI:
Kau telah bicara panjang dan terima kasih kuucapkan padamu. Kau kembalilah dulu.
57.LELAKI:
Maksudmu?
58.SAHDI:
Aku tidak menjual atau menawarkan apa yang kuhadapi ini pada siapapun. Kalian boleh saja mengemukakan alasan-alasan pembenaran, tetapi tidak menyadari terjadinya apa yang disebut kejahatan yang bersifat pribadi sekali yang hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Kalian tidak mengolah sebuah kebenaran, tetapi kalian menerimanya sebagai barang jadi.
Tak ada uang lagi padaku. Semuanya sudah ludes.
59.LELAKI:
Kalau begitu tak ada jaminan akan berhasil.
60.SAHDI:
Apa boleh buat. Aku ingin tahu sampai di mana daya tahanku terhadap semuanya ini.
61.LELAKI:
Mungkin situasinya malah bertambah runyam.
62.SAHDI:
Kukatakan, apa boleh buat. Aku pasrah sekarang.
[LELAKI itu keluar dan setelah pintu ditutup, Sahdi kembali ke ambennya dan duduk di sana. Termenung. Suasana sepi sekali. Segala sesuatnya diam. LAMPU di ruangan Sahdi silih berganti perlahan berwarna biru, kemudian hijau, lalu kuning dan kembali lagi pada warna semula.
Tapi kemudian padam perlahan-lahan].---------------------------------
ADEGAN DUA.
[Dalam kegelapan , lagu Kadal Nonga menggema perlahan, lambat dan memelas dibawakan oleh suara wanita. Ketika lampu menyala perlahan warna kuning temaram tampak dukun tua/belian duduk di batu karang di tepi pantai].------------------------------------------------
63. DUKUN TUA: [mengucapkan lelakaq].
Keluarga-keluarga itu telah pergi;
Daerah perbatasan tak lama lagi
akan dihancurkan.
Pernah kita punya ubi di sini
Lalu berganti menjadi batu.
Tahanlah kebencian
dan deritailah kematianmu.
Keluarga-keluarga itu telah pergi
Memare-made ke laut selatan
yang dulu menjanjikan keabadian,
kini tombak-tombak telah berantakan
dan meninggalkan manusia tak punya nyali.
Kami adalah pengembara yang lelah
menghadapi gelap seperti nurani penghianat
dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba
seperti gurita yang tak bernama.
[Kemudian lampu perlahan padam tetapi nyanyian
Kadal Nonga itu masih nyaring terdengar. Dan ketika lampu mulai membias terang dan membagi lagi pentas itu menjadi dua ruangan, tampak di sana Sahdia dan sahdi duduk di ambennya masing-masing. Termenung dan menunduk].
64. SAHDIA:
[menyapa perlahan] Sahdi…………..
[Sahdi mengangkat muka sedikit].
Kau ingat, hari ini hari Sabtu. Tadi sore aku melakukan ziarah-makam di makam kayangan tempat leluhur-leluhur kita beristirahat. Aku menangis di sana. Seperti biasa, aku minta supaya kita selamat semua. Dan hari Rabu lalu aku dan tetangga ke makam Wali Nyato. Kau tentu masih ingat sejarah Wali Nyato.
[PAUSE]
Dan sehabis panen yang lalu aku juga ikut upacara ngengapung dengan semua penduduk desa. Upacara ini dipimpin oleh belian Kurdap. Kami semua berenang di laut agar kami selamat.
Sudah tiga tahun upacara ini tidak dilakukan dan belian Kurdap mengingatkan semua penduduk desa. Ada kesadaran penduduk desa untuk melaksanakannya walau di sana wajah-wajah penuh kemuraman. Ada yang tak terkatakan, yang mengikat mereka. Ketika aku pulang, kami masih merenung sebentar dan menyaksikan matahari yang mulai tenggelam ke laut sebelah barat. Laut seperti terbakar. Merah menyala. Mendebarkan. Mungkin mengerikan ! Tapi ada kesedihan juga. Air mata tak kurasa mengalir. Kami tak tahu apakah tahun-tahun mendatang kami masih berhak menyaksikan keindahan itu lagi.
65.SAHDI:
Aku memahamimu, Sahdia.
Aku memahamimu. Sungguh.
Banyak harapan seperti akan pupus begitu saja.
Tetapi kutekankan padamu, harapan-harapan , bagaimanapun harus mempunyai cadangan. Ini juga berarti bahwa kita harus pandai berendah hati. Ya, kutekankan, siap dengan pilihan yang tidak amat bagus.
66.SAHDIA:
Aku melihat dan menyaksikan betapa sulitnya kita mendapat ketulusan.
67. SAHDI:
Tentu, Sahdia. Itu merupakan akibat langsung dari hal-hal sebelumnya. Aku masih memahami keadaan batin masyarakatku pada umumnya. Dari kecil kita dilatih dengan kekuatan batin untuk menahan diri, sesuatu yang cocok untuk kita dan kita akan celaka bila kita marah. Ketulusan sulit diharapkan dari mereka yang berada di luar masyarakat seperti itu. Selain memang mereka mempergunakan hal itu sebagai kelemahan kita, ketulusan juga memang sudah melenyap karena hati dan pikiran kita tidak merdeka. Tidak memungkinkan adanya hal-hal lain. Rumput di halaman harus dicukur sama, batu bata harus diatur sama pula. [PAUSE].
Kau paham? Ada ketakutan, yaitu ketakutan akan rusaknya jaringan pembagian kemiskinan yang ada, takut kehilangan teman tempat berbagi kemiskinan. Itu adalah pola-pola yang diwariskan secara turun-temurun dan kini terbentuklah apa yang disebut kepribadian kemiskinan, bagimana kita saling menyelamatkan dalam kemiskinan. Identitas kita sebagai suatu suku bangsa begitu lemahnya, penuh dengan sikap-sikap curiga. Dan tentu saja semuanya itu adalah hal-hal yang tidak baik, Sahdia, tetapi betapa beratnya menghadapi semuanya itu. Kita seperti porak-poranda !
68. SAHDIA:
Aku tidak paham, Sahdi.
69.SAHDI:
Kutekankan lagi, di luar sana seperti terdapat mendung berkepanjangan. Mungkin juga ketidakpedulian. Mungkin diperlukan saat-saat di mana kita tidak mudah untuk berbicara tetapi kau ketahui, Sahdia, tidak gampang untuk diam. Aku tidak tahu tepatnya, bagaimana kata-kata harus diberi harga sekarang ini. Aku juga tidak tahu apakah sebuah isyarat akan sampai. Dan mungkin cuma berupa slogan-slogan yang terpampang di sepanjang jalan besar di kotamu. Berkibar dikibas angin, memanggil siapa saja yang lewat. Tetapi yang terbaca cumalah potongan-potongan kalimat yang bernada lucu.
[Begitu Sahdi mengucapkan kalimat terakhir itu ketukan keras terdengar di ruangan Sahdia. Keduanya terperanjat dan saling memandang berbarengan dengan ketukan keras sekali lagi terdengar].
70.SAHDIA:
Ya! [Kemudian maju ke pintu dan membukanya. Seorang lelaki dengan beringasan masuk. Sahdia mundur dua-tiga langkah. Ketakutan. Walau ia tahu siapa orang itu].
71.LELAKI:
Kau menipu aku.
Kau menipu aku!
Tau? Pipil yang kau berikan padaku untuk kuurus itu adalah pipil palsu. Tau akibatnya? Aku dituduh menipu dan untuk itu aku berurusan lebih lanjut dengan polisi.
72.SAHDIA:
Itu tidak mungkin. Yang kuserahkan itu adalah pipil yang selama ini menjadi milik amaq. Tidak mungkin.
73.LELAKI:
Aku tidak perduli itu.Tetapi sekarang aku yang kena getahnya. Tapi kau tidak akan lolos. Sewaktu-waktu kau bisa diusir di samping berapa biaya yang kubutuhkan untuk berurusan dengan yang berwajib.
74.SAHDIA:
Kalau begitu kembalikan pipil itu.
75.LELAKI:
Pipil itu sudah ditahan yang berwajib untuk proses lebih lanjut.
76.SAHDIA:
Lalu di mana bantuanmu yang kau janjikan padaku.
77.LELAKI:
Jangankan bantuan, aku sekarang dalam kesusahan gara-gara pipil palsu itu.
78.SAHDIA:
Ya Tuhan! [Ia panik dan menutup mukanya lalu terisak-isak. Menangis].
79.LELAKI:
Camkan itu, Sahdia !
[Ia keluar dengan membanting pintu. Sahdia terkejut mengangkat muka. Ia terpaku, tertegun tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Sahdi di ruang sebelah tertegun sejak semula].
80.SAHDI:
Gusti Allah.
Betapa menderita batinku dalam penjara kedirian yang asing.
[PAUSE].
Langkah pertama adalah pendakian
tapi di mana harus kutemukan
penyangga yang tak goyah
di bawah lengkung langit ini ?
Orang-orang tak punya makna lagi tempat
bertanya
dan mereka melihatku tanpa bermuka*).
[Kemudian ia termenung, menerawang jauh ke depan].
Sahdi,
kuheningkan alam untuk sukmaku
yang dirantai kebodohan
yang turun temurun.
[PAUSE].,
Sahdi,
[Tapi pada saat itu pintu diketuk orang lagi.
Lagi-lagi Sahdia terkejut, nafasnya turun naik, menutup mata, menangis].
Siapa?
81.LELAKI:
[OSV] Aku, Sahdia. Bukakan pintu. Aku memang terpaksa datang malam-malam begini.
[Rupanya Sahdia mengenal suara itu, ia bangkit dan cepat menuju ke pintu. Dibuka].
82.SAHDIA:
Oh, mamiq, silahkan.
[Seorang lelaki dengan tustel bergelantungan di lehernya, tape kecil di tangannya berdempetan dengan notes/catatan kecil, memakai jaket. Ia memandang ke sebuah kursi reot, lalu duduk. Mereka berhadapan].
83.LELAKI:
Aku mau tulis semua kisah sedihmu, Sahdia. Wartawanlah satu-satunya yang mampu menyampaikan suara orang-orang lemah, suaranya tidak terdengar, orang-orang yang menderita, orang-orang yang tersudut. Kamilah orang-orang yang ditakdirkan untuk itu. Kau tahu, yang disebut interaksi positif itu ?
84.SAHDIA:
Saya tidak paham, miq.
*).Kutipan dari JATISUARA, karangan Drs.Lalu Agus Faturrahman
85.LELAKI:
Tak apalah. Itu artinya, cuma kami, pemerintah dan masyarakat. Tapi yang mampu mencuatkan persoalan kalian cuma kami, kami wartawan ini.
86.SAHDIA:
Saya sih tidak tahu betul tentang kalian. Sudah tiga kali ini kau kemari dan selalu bilang akan membantu aku. Apa yang kau minta sudah kuserahkan padamu. Tinggal satu benda paling berharga yang belum kuserahkan padamu. Kehormatanku. Apa yang kau perjuangkan ?
87.LELAKI:
Harga tanah yang pantas.
Tapi kau harus ingat. Ada batas-batasnya. Wartawan itu menulis. Karena di negara kita ini ada yang disebut sistim pers yang bebas dan bertanggung jawab.
88.SAHDIA:
Saya sih tidak mengerti, miq.
89.LELAKI:
Tidak apa.
Dan, dan, ya, ada lagi yang disebut Kode Etik Jurnalistik. Sulit kujelaskan padamu, Sahdia.
Di sampin aku membela kalian, aku juga harus memuji para pejabat. Mereka-mereka itu senang dipuji. Sebutkan saja namanya di koran, maka alangkah senangnya mereka, apalagi tentang keberhasilan mereka. Kau harus tahu itu.
Dan setiap pujian di koran itu berarti amplop, paling sedikit Rp 150.000,00 isinya. Padahal, kalau aku mau jujur padamu saja, para pejabat itu saling menyalahkan, menjelek-jelekkan satu sama lain. Tapi itu hanya padaku saja diucapkan. Ini namanya off the record. Aku menggenggam rahasia-rahasia mereka.
90.SAHDIA:
Saya sih tidak paham hal-hal itu, miq.
91.LELAKI:
Tak apalah. Pokoknya kau dengar apa yang kuucapkan.
Dan tahulah, pejabat itu paling senang kalau dikatakan bahwa mereka itu membela rakyatnya, seperti bunyi salah satu spanduk di kota. Mereka berjuang untuk rakyat.
92.SAHDIA:
Lalu bagaimana pipil dan sertifikat yang kuserahkan pada mamiq untuk diperjuangkan itu?
93.LELAKI:
Oh, itu. Tidak usah khawatir. Berada di tanganku berada berada di tangan yang aman dan semuanya sudah kuserahkan pada seorang petugas dan abdi negara ini. Yang tiap senin mengucapkan sumpahnya, yang disebut Sapta Prasetya Korpri. Ia akan melayani kita-kita ini. Aku tak boleh menyebut namanya padamu. Ini namanya merahasiakan sumber berita. Wartawan itu bekerja sedikit rahasia juga. Tidak boleh semuanya terbuka.
94.SAHDIA:
Saya sih tidak paham, miq.
95.LELAKI:
Tak apa.
Tapi, Sahdia, aku membeli sebuah kendaraan roda empat pada seorang dealer di kota. Toyota Taft nama atau merk kendaraan itu. Dengan jaminan sertifikat darimu itu sebelum kuserahkan pada abdi negara itu. Tidak enak rasanya jadi wartawan cuma jalan kaki ke sana kemari. Termasuk datang ke desam ini. Ada yang disebut gengsi itu. Dengan demikian pejabat-pejabat jadi percaya dan yakin padaku.
96.SAHDIA:
Kenapa begitu, miq?
97.LELAKI:
Apa kau tidak percaya padaku?
98.SAHDIA:
Bukan begitu, miq.
99.LELAKI:
Aku turunan bangsawan, Sahdia.
Tak mungkin menipu kalian. Jelek-jelek aku juga sudah naik haji walau bukan dengan uangku sendiri. Adakan yang namanya haji jatah, begitu.
Aku bisa menelusuri silsilahku. Aku adalah salah seorang turunan dari raja, entah Pejanggik atau Langko, aku lupa. Dan sebelumnya adalah asal Pamatan, kerajaan tertua di bumi Lombok ini.
Kau masih tidak percaya?
Aku adalah bagian dari kau. Nenek moyangmu adalah rakyat di ketiga kerajaan itu.
[PAUSE]
Maka tenanglah.
Jangan katakan pada siapapun bahwa aku mengenal kau. Ini cara kerja wartawan. Paham?
100.SAHDIA:
Paham, miq.
101. LELAKI:
Nah, kalau begitu bagus. Aku pergi dulu. Aku akan datang secepatnya.
[Lelaki itu keluar setelah mencoba mendengar kalau-kalau ada orang di luar. Memang agak lama di sana, sementara Sahdia hanya memandang dengan kosong pada wartawan itu. Setelah berbalik sebentar, lalu keluar].-
[Kemudian Sahdia berbalik, memandang ke ruangan II/Sahdi. Mereka berpandangan]. LAMPU BLUR.
01.SAHDI:
Aku tidak tahu pasti apakah itu sesuatu yang timbul karena persentuhan kebaikan. Sebuah harapan yang kuno sekali. Kau bisa menyadari, Sahdia, bahwa dewasa ini optimisme itu harus dibikin sendiri. Suasana sekitar tidak memungkinkan hal itu. Di hadapan kita menunggu banyak ketidakpastian. Bagaikan lautan Hindia yang kelam, yang luas tak bertepi. Pada saat-saat mata kita jalangkan terus menunggu waktu menyerbu ke lau untuk menangkap nyale.*) .
[PAUSE]
Aku rindu upacara bau Nyale, Sahdia.
Di sana aku bisa mengeluarkan isi hatiku lewat lelakaq **). Lelakaqlah satu-satunya seni kita yang kusenangi karena ia mampu mengatasi kemasabodohan yang mematikan orang-orang Lombok yang timbul tatkala kita Cuma merayap dari satu kebiasaan ke kebiasaan yang mematikan. Seni melawan kebiasaan yang mematikan.
02.SAHDIA:
Aku memahami, Sahdi.
Kemerdekaan mengakibatkan kesepain bagimu.
*). Nyale= semacam cacing laut yang warna-warni.
**). Lelakaq = pantun dalam bahasa Lombok/Sasak.
Kau pergi karena ingin merdeka dan bebas dari belitan kemiskinan di desa kita. Pembicaraan-pembicaraan tentang hal itu sudah begitu ramai; hampir setiap orang bicara soal yang sama dan semuanya mengeluarkan suara-suara yang gaduh. Wartawan-wartawan menulis dan bicara yang sama dan sama sekali tidak menciptakan suatu rasa kebersamaan dan kedekatan dengan kita.
03.SAHDI:
Memang begitu, Sahdia.
Mereka tahu persis bagaimana harus menulis dan bicara. Makna-makna tidak boleh tepat, harus kabur karena di sanalah mereka berlindung.
[PAUSE].
Berlindung dalam kekaburan makna itu.
Padahal kita sangat mengharapkan kata-kata yang ditulis mereka akan merupakan bagian dari suatu pencarian dan perjalanan batin. Yah, katakan bagian dari seluruh sejarah kepribadian mereka.
04.SAHDIA:
Sudahlah, Sahdi. Aku tambah bingung. Yang kutahu hanyalah bahwa harapan memang tidak boleh dikuburkan begitu saja seperti katamu. Sebab masih ada orang-orang yang bersih. Kita punya hak untuk berharap.
05.SAHDI:
Memang, walaupun kemiskinan kita bagi mereka bukan soal pokok. Tak ada yang bisa membatasi mereka kini, sehingga dunia dan manusia yang kita kenal itu menjadi tidak berharga sama sekali. Ini mengerikan sekali dan inilah sebenarnya titik perlawanan manusia.
Yang paling hakiki miliki kita telah direnggut, yaitu tujuan hidup itu sendiri. Dan hal ini membuat kita menderita.
Kita memang sulit menerima bahwa di sana ada dusta dan dusta itu begitu memberikan sifat penting pada orang dan berbagai hal. Kebenaran tidak akan membuat orang seperti itu, ya, sedikit saja kebenaran tentu akan membuat mereka malu dan betapa munafiknya kita selama ini.
Atau tak usahlah kita bicara soal kebenaran karena akan membuat kita bingung. Tetapi letakkanlah hati pada setiap perbuatan dan tindakan kita.
[PADA SAAT ITU PINTU TERDENGAR DIGEDOR DENGAN KERAS.SAHDIA SEKETIKA TERKESIAP SEBENTAR DAN MEMANDANG NANAR KE ARAH PINTU. TERDENGAR LAGI SUARA KETUKAN DENGAN KERAS. SAHDI MUNDUR TETAPI TERDENGAR SERUAN DARI LUAR]. LAMPU !
06.LELAKI:
Bukakan pintu.
Kami datang menjemput kau. Kau pendatang haram !!
07.SAHDI:
[Maju ke pintu dan membukanya. Tiga orang masuk. Ternyata askar berpakaian preman].
Apa saya harus ditangkap ? Apa masih kurang yang saya bayar pada kalian?
08.LELAKI:
Tutup mulutmu !
Di negeri kami soal itu tidak berlaku. Kalau di negeri kau bolehlah. Di sini lain.
09.SAHDI:
Tetapi………
10.LELAKI:
Nanti di sana saudara boleh berucap panjang-panjang. Tidak terhadap diri kami.
[SAHDI dibawa. Sebelum keluar ia berbalik dan memandang pada Sahdia. Agaka lama mereka berpandangan. Lalu dia dibawa juga].
11.SAHDIA:
Sahdi, Sahdi……….
[Sahdi hilang dibawa. Pada saat itu pintunya digedor orang. Dua orang masuk. Sahdia berpaling menghadapi mereka].
Ada apa ?
[Kedua orang itu masih berdiri di sana memandang tajam padanya].
Katakan apa yang kalian kehendaki.
12.LELAKI:
[Mengeluarkan selembar kertas dan mencoba membacanya].
Ini ada perintah dari atasan kami, supaya kau dengar.
“Karena ternyata pipil dan keterangan-keterangan lainnya tentang pemilikan tanah atas nama Amaq sahdi adalah palsu, maka mulai hari ini, 22 Desember 1991, tanah-tanah yang menjadi miliknya disita oleh negara”.
[Lelaki itu berhenti sebentar lalu melanjutkan].
“Kepada pemegang hak tanah sekarang, yaitu yang bernama Sahdia, akan diberikan pesangon yang besarnya akan ditentukan kemudian setelah mendengar berbagai pihak. Dan sehari sesudah surat ini keluar yang bersangkutan harus meninggalkan rumahnya.”
[Orang itu berhenti membaca surat tersebut dan memang sudah selesai/tamat. Ketiganya saling berpandangan, kemudian sahdia menutup mukanya. Terisak, menangis. Tetapi kemudian ia mengangkat mukanya dan masih dalam suara tangisnya ia berkata]:
13.SAHDIA:
lalu kemana aku harus pergi.
Kemana aku harus pergi.
[PAUSE].
Kemana aku harus pergi.
14.LELAKI:
Kau kan punya saudara atau keluarga di desa seberang sana. Kau boleh tinggal di sana sementara.
15.SAHDIA:
Kemudian aku harus pergi kemana?
[Dalam isakan tangis yang deras.] Kemana aku harus pergi?
Tanah ini begutu kucintai, kubenah dengan penuh kasih sayangku. Aku mencintai tanah ini ! Aku mencintai tanah ini. Kenapa aku harus berpisah dengan tanah ini ?
16.LELAKI:
Bersiaplah Sahdia. Tak ada waktu lagi.
[Sahdia mengemas barang-barangnya terutama pakaiannya; dibuntel dengan kain panjang kumal. Ia berdiri dan akan menuju ke pintu. Ia berhenti sejenak dan memandang kesegenap penjuru kamar tersebut untuk terakhir kalinya. Kemudian ia berbalik dan keluar diikuti oleh dua orang lelaki tersebut].
LAMPU SEKITAR MEREDUP KEMUDIAN SOROT LAMPU TERTUJU PADA WAJAH SEORANG DUKUN TUA, MAKIN LAMA MAKIN TERANG.-
ADEGAN TIGA:
Lampu menyoroti wajah dukun tua yang duduk di atas batu karang.
17.DUKUN:
Keluarga-keluarga itu telah pergi;
Daerah perbatasan tak lama lagi
akan dihancurkan.
Pernah kita punya ubi di sini
lalu berganti menjadi batu.
Tahanlah kebencian
dan deritailah kematianmu.
Keluarga-keluarga itu telah pergi
melengkapi derita anak manusia
yang pernah dijalin dengan mimpi indah
tapi hancur bertebaran di tanahnya sendiri.
Kami adalah pengembara yang lelah
menghadapi gelap seperti nurani penghianat
dan bayangan gelap musim kemarau itu tiba
seperti gurita yang tak berwarna.
LAMPU kemudian padam pelan-pelan.
Gelap total.
Masih tersisa lagu Kadal Nonga sedikit, lagu suku bangsanya.
Kemudian lagu itu habis.
Sepi.
Mataram, 22 Desember 1991
Semoga harapan tak pernah padam di tanah ini.
Merdeka !
NB:
Sebuah naskah sandiwara dengan naskah yang berlatar Lombok Selatan, akan dimainkan tanggal 3 Maret 1992 di Taman Budaya Mataram. Sandiwara tersebut karya Max Arifin berjudul Balada Sahdi Sahdia, disutradarai oleh Umarul Faruk. Pada kesempatan sama bakal digelar cerita pendek Pagar karangan Hamsad rangkuti dengan sutradara Azhar Zaini. Selain itu akn tampil pula beberapa penyair setempat membacakan sajak.Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama Forum Komunikasi untuk Pengembangan Teater Mataram dengan Taman Budaya mataram.( Peristiwa Budaya, Kompas, Minggu, 1 Maret 1992)
GLOSSARI:
1.Amaq :
Bapak [untuk rakyat biasa]
2.Bellan :
Dukun.
3.Cakepan :
Lontar-lontar yang berisi satu ceritera/sejarah dikumpulkan jadi satu.
4.Inaq :
Ibu
5.Lelakaq :
Nyanyian/pantun Lombok/Sasak
6.Mamiq :
Bapak[untuk orang bangsawan]
7.Mamare-made :
Suatu kegiatan menangkap ikan di laut selama 4-5 malam.Biasanya beberapa keluarga menginap di pantai dengan membuat bangunan darurat. Dilakukan menjelang turun ke sawah.
8.Nunas :
Pengemis.
9.Ngengapung:
Suatu upacara berendam di laut yang dilakukan oleh seluruh penduduk desa. Upacara ini dimaksudkan untuk menolak bahaya dan mohon keselamatan.
10.Nyale :
Cacing laut yang keluar sekali dalam setahun di pantai selatan Lombok. Dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika yang cantik. Ada upacara bau nyale[menangkap nyale] beramai-ramai pada setiap malam tanggal 20 bulan atas [Arab], yang biasanya jatuh dalam bulan Februari. Di Kuta [Selatan Lombok] tempat yang paling ramai untuk upacara ini kini sedang dibangun hotel-hotel berbintang. [***]
biodata Max Arifin
BIODATA
Nama : MAX ARIFIN
Tempat,tanggal lahir: Sumbawabesar, 18 agustus 1938
Pekerjaan : Pensiunan PNS Depdikbud Prov.Nusa Tenggara Barat,
Mataram [Lombok]
Pendidikan : SD dan SMP di Sumbawabesar,
SMA di Yogyakarta,
Candidat Hubungan Internasional UGM Yogyakarta
IKIP Mataram [jurusan bahasa dan sastra inggris]
1.Sejak di SMA sudah bergelut dengan seni sastra dan teater.
2.Di Depdikbud NTB bekerja pada Bidang Kesenian, diserahi seksi drama dan sastra [tradisional dan modern]
3.Tiga kali mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud.
4.Menulis naskah drama, cerpen,dan puisi.
5.Pimpinan/sutradara kelompok Teater Gugus Depan Mataram.
6.Membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram.
7.Memberi ceramah,diskusi, seminar tentang teater.
8.Mengikuti pertemuan Teater Penyusunan Materi Ketrampilan Seni Teater di Ambarawa, tahun 1977 yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud, Jakarta.
9.Mengikuti Seminar Teater di Bandung tahun 1978, juga diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud.
10.Pembawa makalah pada Seminar dan Pertemuan Teater di Bandung tahun 1996.
11.Mengikuti/peserta Art Summit 1997 di Jakarta.
12.Peserta Seminar Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Jawa Timur, 8 Juli 2003 di Jember.
13.Peserta Temu Sastrawan se Jatim, September 2003.
14. Pernah menjadi redaktur budaya di harian Suara Nusa [sekarang Lombok Post] dan koresponden majalah TEMPO untuk Lombok 1975-1979.
15.Naskah/buku yang ditulis ,antara lain:
a.Teater, sebuah Pengantar, diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores, 1990.
b.Putri Mandalika [naskah drama] tiga kali dipentaskan secara kolosal di pantai Seger,Kuta,Lombok Selatan, 1988-1990.
c.Matinya Demung Sandubaya, pernah dibawakan/dipentaskan oleh Kontingen NTB pada Festival Teater di Solo dan dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Suara Nusa di Mataram.
d.Badai Sepanjang Malam, naskah drama dalam kumpulan drama remaja, Gramedia,Jakarta 1988.Diikutkan sebagai naskah yang dipilih oleh Taman Budaya Jatim dalam Festival Teater Remaja 2003.
e.Teknik Penyudtradaraan [stensilan FKIP Unram, Mataram]
f.Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB, 1990.
g.Balada Sahdi Sahdia [naskah drama],1992.
h.Tumbal Kemerdekaan [naskah drama],1987.
i.Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB 1985.
16.Beberapa buku terjemahan:
a.Pemberontak [The Rebel] oleh Albert Camus,penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta,2000.
b. Seratus Tahun Kesunyian [One Hundred Years of Solitude] oleh Gabriel Garcia Marquez,penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta,2003 dan sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos, 1997.
c.The Shifting Point----Teater,Film dan Opera oleh Peter Brook, Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia [MSPI], Jakarta 2002.
d.Menuju Teater Miskin [ Towards a Poor Theatre] oleh Jerzy Grotowski, MSPI, Jakarta, 2002.
e.Teori-teori Drama Brecht, oleh Hans Egon Holthusen, Dewan Kesenian Surabaya.
f.Seribu Burung Bangau [Thousand Cranes], oleh Yasunari Kawabata, Nusa Indah, Flores 1978 dan penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta 2001.
g.Orang Aneh [The Stranger] oleh Albert Camus, penerbit Nusa Indah, Flores 1980. dan penerbit Mahatari, Yogyakarta
h.Pengembaraan [Walkabout] oleh James van Marshal, penerbit Nusa Indah,Flores,1978 dan sebagai cerita bersambung di harian Kompas 1976.
i.Nyanyian Laut [The Sound of Waves] oleh Yukio Mishima, cerita bersambung di harian Kompas 1976 dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
j.Kecantikan dan Kesedihan [The Beauty and Sadness] oleh Yasunari Kawabata, cerita bersambung di harian Kompas,1983.dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
k.Suara yang lain [The Other Voice] oleh Octavio Paz [belum diterbitkan]
l.Pertaruhan Mewujudkan Tulisan [Writing at Risk] oleh Jason Weis dan Women Writers at Work oleh George Plimpton , penerbit Jalasutra,Yogyakarta [belum terbit]
m.Masalah-masalah Seni [The Problems of Art] oleh Susanne K.Langer, ada di penerbit Bentang, Yogyakarta. [belum terbit]
n.Gema Surga [An Echo of Heaven] oleh Kenzaburo Oe, penerbit Bentang Pustaka ,Yogyakarta. [belum terbit]
o.Hidupku Dalam Seni [My Life in Art] oleh Konstantin Stanislavski.[belum terbit]
p.Kemelut [The Blind Owl] oleh Sadeq Hedayat, dimuat sebagai cerita bersambung di harian Surabaya Post.
q.Blows and Boms, oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud. [belum terbit]
r.Surat-surat Negro [The Fire Next Time] oleh James Baldwin.[belum terbit].
s.Teater dan kembarannya [Theatre and it’s double] oleh Antonin Artaud.[belum terbit]
t.Teater Politik [Political Theatre] oleh David Goodman.[belum terbit]
u.Kapal Orang-orang Bodoh [ The Ship of Fool] karya Christiana Perri Rossi.
[ada di penerbit Biduk, Bandung.Belum terbit]
v.Suatu Salah Paham, terjemahan naskah drama dari Teater l karya Samuel Beckett.
w.Oedipus Sang Raja, saduran bebas dari skenario film oleh Pier Paulo Pasolini.
x.Sasmita-Larasmara ,saduran bebas dari Antigone karya Sophokles.
y.Mawar Dalam Taman, drama terjemahan dari The Rose in the Cloister oleh Margaret Luce,1985.
z.Menerjemahkan beberapa puisi dan cerpen dari Timur Tengah
17.Menjadi juri beberapa festival teater [Peksiminas se Jatim dan tingkat nasional] tahun 2000 dan ditetapkan sebagai juri Peksiminas se Jatim 2004, Agustus 2004 di Jember.
18.Menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya 2004 dan 2005.
19.Menjadi pembawa makalah “Kritik Teater Kontroversi Cerita Lama”,dalam Simposium Kritik Seni oleh Dewan Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 2005 di Jakarta.
20.Menjadi narasumber dalam workshop seni akting oleh Studi Teater Mojokerto, 20 Maret 2005 di sanggar Seni Saraswati Mojokerto.
21.Pembawa makalah “Keniscayaan Dalam Pengembangan Kehidupan Kebudayaan di Mojokerto” ,dalam Malam Penghargaan ST Iesmaniasita, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto-Pemkab Mojokerto, 10 Maret di Aula Infokom Kabupaten Mojokerto.
22.Pembawa makalah “Realisme dalam teater”, disampaikan pada technical meeting Seleksi Daerah Jatim Tangkai Teater, 9 Agustus 2004 di Universitas Jember.
Japan Raya, April 2006
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan Raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807
Email: daxxenos2@yahoo.com
Nama : MAX ARIFIN
Tempat,tanggal lahir: Sumbawabesar, 18 agustus 1938
Pekerjaan : Pensiunan PNS Depdikbud Prov.Nusa Tenggara Barat,
Mataram [Lombok]
Pendidikan : SD dan SMP di Sumbawabesar,
SMA di Yogyakarta,
Candidat Hubungan Internasional UGM Yogyakarta
IKIP Mataram [jurusan bahasa dan sastra inggris]
1.Sejak di SMA sudah bergelut dengan seni sastra dan teater.
2.Di Depdikbud NTB bekerja pada Bidang Kesenian, diserahi seksi drama dan sastra [tradisional dan modern]
3.Tiga kali mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang diselenggarakan oleh Depdikbud.
4.Menulis naskah drama, cerpen,dan puisi.
5.Pimpinan/sutradara kelompok Teater Gugus Depan Mataram.
6.Membina seni drama/teater pada beberapa SMA dan fakultas di Mataram.
7.Memberi ceramah,diskusi, seminar tentang teater.
8.Mengikuti pertemuan Teater Penyusunan Materi Ketrampilan Seni Teater di Ambarawa, tahun 1977 yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud, Jakarta.
9.Mengikuti Seminar Teater di Bandung tahun 1978, juga diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud.
10.Pembawa makalah pada Seminar dan Pertemuan Teater di Bandung tahun 1996.
11.Mengikuti/peserta Art Summit 1997 di Jakarta.
12.Peserta Seminar Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Jawa Timur, 8 Juli 2003 di Jember.
13.Peserta Temu Sastrawan se Jatim, September 2003.
14. Pernah menjadi redaktur budaya di harian Suara Nusa [sekarang Lombok Post] dan koresponden majalah TEMPO untuk Lombok 1975-1979.
15.Naskah/buku yang ditulis ,antara lain:
a.Teater, sebuah Pengantar, diterbitkan oleh Nusa Indah, Flores, 1990.
b.Putri Mandalika [naskah drama] tiga kali dipentaskan secara kolosal di pantai Seger,Kuta,Lombok Selatan, 1988-1990.
c.Matinya Demung Sandubaya, pernah dibawakan/dipentaskan oleh Kontingen NTB pada Festival Teater di Solo dan dimuat sebagai cerita bersambung pada harian Suara Nusa di Mataram.
d.Badai Sepanjang Malam, naskah drama dalam kumpulan drama remaja, Gramedia,Jakarta 1988.Diikutkan sebagai naskah yang dipilih oleh Taman Budaya Jatim dalam Festival Teater Remaja 2003.
e.Teknik Penyudtradaraan [stensilan FKIP Unram, Mataram]
f.Teknik Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB, 1990.
g.Balada Sahdi Sahdia [naskah drama],1992.
h.Tumbal Kemerdekaan [naskah drama],1987.
i.Petunjuk Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud NTB 1985.
16.Beberapa buku terjemahan:
a.Pemberontak [The Rebel] oleh Albert Camus,penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta,2000.
b. Seratus Tahun Kesunyian [One Hundred Years of Solitude] oleh Gabriel Garcia Marquez,penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta,2003 dan sebagai cerita bersambung di harian Jawa Pos, 1997.
c.The Shifting Point----Teater,Film dan Opera oleh Peter Brook, Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia [MSPI], Jakarta 2002.
d.Menuju Teater Miskin [ Towards a Poor Theatre] oleh Jerzy Grotowski, MSPI, Jakarta, 2002.
e.Teori-teori Drama Brecht, oleh Hans Egon Holthusen, Dewan Kesenian Surabaya.
f.Seribu Burung Bangau [Thousand Cranes], oleh Yasunari Kawabata, Nusa Indah, Flores 1978 dan penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta 2001.
g.Orang Aneh [The Stranger] oleh Albert Camus, penerbit Nusa Indah, Flores 1980. dan penerbit Mahatari, Yogyakarta
h.Pengembaraan [Walkabout] oleh James van Marshal, penerbit Nusa Indah,Flores,1978 dan sebagai cerita bersambung di harian Kompas 1976.
i.Nyanyian Laut [The Sound of Waves] oleh Yukio Mishima, cerita bersambung di harian Kompas 1976 dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
j.Kecantikan dan Kesedihan [The Beauty and Sadness] oleh Yasunari Kawabata, cerita bersambung di harian Kompas,1983.dan penerbit Mahatari, Yogyakarta.
k.Suara yang lain [The Other Voice] oleh Octavio Paz [belum diterbitkan]
l.Pertaruhan Mewujudkan Tulisan [Writing at Risk] oleh Jason Weis dan Women Writers at Work oleh George Plimpton , penerbit Jalasutra,Yogyakarta [belum terbit]
m.Masalah-masalah Seni [The Problems of Art] oleh Susanne K.Langer, ada di penerbit Bentang, Yogyakarta. [belum terbit]
n.Gema Surga [An Echo of Heaven] oleh Kenzaburo Oe, penerbit Bentang Pustaka ,Yogyakarta. [belum terbit]
o.Hidupku Dalam Seni [My Life in Art] oleh Konstantin Stanislavski.[belum terbit]
p.Kemelut [The Blind Owl] oleh Sadeq Hedayat, dimuat sebagai cerita bersambung di harian Surabaya Post.
q.Blows and Boms, oleh Stephen Barber, tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud. [belum terbit]
r.Surat-surat Negro [The Fire Next Time] oleh James Baldwin.[belum terbit].
s.Teater dan kembarannya [Theatre and it’s double] oleh Antonin Artaud.[belum terbit]
t.Teater Politik [Political Theatre] oleh David Goodman.[belum terbit]
u.Kapal Orang-orang Bodoh [ The Ship of Fool] karya Christiana Perri Rossi.
[ada di penerbit Biduk, Bandung.Belum terbit]
v.Suatu Salah Paham, terjemahan naskah drama dari Teater l karya Samuel Beckett.
w.Oedipus Sang Raja, saduran bebas dari skenario film oleh Pier Paulo Pasolini.
x.Sasmita-Larasmara ,saduran bebas dari Antigone karya Sophokles.
y.Mawar Dalam Taman, drama terjemahan dari The Rose in the Cloister oleh Margaret Luce,1985.
z.Menerjemahkan beberapa puisi dan cerpen dari Timur Tengah
17.Menjadi juri beberapa festival teater [Peksiminas se Jatim dan tingkat nasional] tahun 2000 dan ditetapkan sebagai juri Peksiminas se Jatim 2004, Agustus 2004 di Jember.
18.Menjadi kurator bidang teater pada Festival Seni Surabaya 2004 dan 2005.
19.Menjadi pembawa makalah “Kritik Teater Kontroversi Cerita Lama”,dalam Simposium Kritik Seni oleh Dewan Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 2005 di Jakarta.
20.Menjadi narasumber dalam workshop seni akting oleh Studi Teater Mojokerto, 20 Maret 2005 di sanggar Seni Saraswati Mojokerto.
21.Pembawa makalah “Keniscayaan Dalam Pengembangan Kehidupan Kebudayaan di Mojokerto” ,dalam Malam Penghargaan ST Iesmaniasita, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto-Pemkab Mojokerto, 10 Maret di Aula Infokom Kabupaten Mojokerto.
22.Pembawa makalah “Realisme dalam teater”, disampaikan pada technical meeting Seleksi Daerah Jatim Tangkai Teater, 9 Agustus 2004 di Universitas Jember.
Japan Raya, April 2006
MAX ARIFIN,
Jl.Bola Volley Blok E 33,
Perum Griya Japan Raya, Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321- 326915
Hp 085 2300 39 807
Email: daxxenos2@yahoo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)


