Sunday, October 28, 2007
Saturday, October 20, 2007
FESTIVAL SENI DAN BUDAYA MOJOPAHIT 2007

FESTIVAL SENI DAN BUDAYA MOJOPAHIT 2007
FESTIVAL PEDALANGAN
Pendaftaran
Pendaftaran dimulai pada tanggal 10 s.d 31 Oktober 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur telp 0321- 3222 44
Waktu dan tempat pelaksanaan
Hari : Senin s.d kamis
Tanggal : 12 s.d 15 Nopember 2007
Pukul : 19.00 wib-selesai
Tempat : halaman parkir Pendopo Agung Trowulan
Technical meeting tanggal 5 Nopember 2007 pukul 10.00 wib bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto
Syarat-syarat peserta
-pria atau wanita
-umur 20 s.d 45 tahun
-warga Kabupaten Mojokerto
-menampilkan cerita bebas dengan babon cerita Ramayana ata Mahabarata
-gagrak jawatimuran
-durasi 45 menit
Lain-lain
-peserta tidak dipungut biaya
-panitia memberikan bantuan transportasi dan konsumsi
-panitia memilih 3 penyaji terbaik non rangking dan akan mendapat trophy, piagam penghargaan dan uang pembinaan
-panitia menyediakan fasilitas berupa gamelan pelog slendro, kelir dan wayang simpingan, sound system dan dua orang sinden
-pengamat: masa Sorowedi dan Pak Jumiran
FESTIVAL SENI PERTUNJUKAN
Batasan pengertian
Seni pertunjukan merupakan bentuk pergelaran dari berbagai unsur kreativitas musik, tari, teater dan sastra yang bertumpu pada tradisi setempat dan dikemas dalam media tuntunan yang unik dan menarik. Yang termasuk seni pertunjukan diantaranya: ludruk, besutan, kuda lumping, bantengan, reog, kentrung, jaranan, dll.
Bentuk penghargaan
Bentuk kegiatan festival dengan memilih 3 penyaji unggulan non rangking masing-masing mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan
materi festival/peserta
-tema bebas
-penyajian menggunakan iringan langsung
-durasi antara 10-20 menit
-peserta adalah group maksimal 15 orang
Kriteria pengamatan/penilaian
-pemilihan materi
-pengemasan karya
-kreativitas/keunikan
-harmonisasi
-penataan artistik
Fasilitas
-sound system danlighting
-panggung
-konsumsi peserta
Pendaftaran
Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 17 Oktober s.d 5 Nopember 2007 di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto di Jl. jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto telp 0321- 322244 setiap jam kerja
Penyelenggaraan
Hari : Senin s.d Kamis
Tanggal: 12 s.d 15 Nopember 2007
Pukul : 14.00 wib-selesai
Tempat : halaman parkir Pendopo Agung Trowulan
Technical meeting tanggal 5 Nopember 2007 pukul 10.00 wib bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto.
Lain-lain
-peserta tidak dipunguty biaya
-peserta merupakan wakil dari masing-masing kecamatan di wilayah kabupaten Mojokerto
-contact person bapak Moh Rejo 081 3300 86 521 dan Sdr Roni Younard 081 85 03992.
-panitia memilih 5 penyaji terbaik non rangking dan akan mendapat trophy, piagam penghargaan dann uang pembinaan.
FESTIVAL MUSIK JALANAN
Pendaftaran
Pendaftaran dimulai tanggal 22 Oktober s.d 17 Nopember 2007 bertempat di Dinas pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto
Waktu dan tempat pelaksanaan
Hari : Minggu
Tanggal : 18 Nopember 2007
Pukul : 08.30 wib-selesai
Tempat : halaman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto
Syarat-syarat peserta
-pria atau wanita
-sehat jasmani dan rohani
-mengisi formulir pendaftaran
-usia bebas
-tema lagu bebas dengan durasi waktu max 10 menit (1 atau 2 lagu)
-jenis alat musik akustik (harap membawa alat musik sendiri)
-jumlah group minimal 2 orang maksimal 5 orang
-berpakaian rapi dan bersepatu (warna bebas dan sopan)
Lain-lain
-peserta tidak dipungut biaya
-setiap peserta akan mendapatkan subsidi transportasi Rp 25.000,- s.d Rp 50.000,- (sesuai dengan jumlah group/kelompok) untuk 20 peserta pendaftar pertama
-untuk juara satu akan mendapat kesempatan mengikuti Festival Jawa Timur di Surabaya
-panitia memilih juara 1, 2 dan 3 dan akan mendapat trophy serta uang pembinaan
PAMERAN LUKISAN/FOTO DAN LOMBA LUKISAN ANAK
Waktu dan tempat pelaksanaan
Tanggal : 1 s.d 7 Desember 2007
Pukul :-
Tempat : pasar Industri dan Pusat Informasi Pariwisata Trowulan
Pendaftaran
Pendaftaran dimulai tanggal 1 s.d 18 Nopember 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto
Informasi: M Nur Baderi (fotografi) : 081 25 222 501 dan Bapak Drs Hadi Sucipto (senirupa):0321- 7299244.
Persyaratan lomba
Lomba foto
-terbuka untuk pelajar SMP/SMA atau sederajat
-mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran Rp 15.000,- per peserta
-maksimal 3 karya ukuran 10 R salon (20 cm x 30 cm) dengan tema:
Trowulan Tempo Dulu dan Kini
-foto diambil di area Mojopahit
-penyerahan karya selambat-lambatnya tanggal 25 Nopember 2007 di sekreatraiat Panitia Festival Seni dan Budaya Mojopahit Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto
-menyerahkan foto kopi kartu pelajar
-foto harus original dari kamera HP, kamera digital maupun analog
-bagi pemenang wajib menyerahkan negatif film atau file asli
-panitia berhak memamerkan atau menggunakan foto yang dilombakan sebagai media promosi
-foto yang dilombakan menjadi milik panitia dan tidak akan dikembalikan
-keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Lomba lukisan anak/mewarnai
-lomba mewarnai untuk TK dan lomba lukisan untuk SD
-mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran Rp 10.000,- per peserta
-tema lomba: Trowulan Tempo Dulu dan Kini
-peralatan lukis dan mewarna dibawa masing-masing peserta
-panitia menyediakam hadiah berupa trophy dan uang pembinaan bagi pemenag 1,2 dan 3.
-hasil lomba mewarnai dan lomba lukisan menjadi hak panitia
PEMILIHAN GUS DAN YUK KABUPATEN MOJOKERTO 2007
Maksud dan tujuan
-untuk lebih memperkaya wawasan dan khasanah tentang kepariwisataan di Kabupaten Mojokerto ke masyarakat luas
-sebagai duta pariwisata Kabupaten Mojokerto guna mempromosikan potensio pariwisata Kabupaten Mojokerto ke tingkat regional, nasional maupun internasional
-mencetak insan pariwisata yang profesional, mampu, siap bersaing, mandiri dan berjiwa wirausaha serta menyiapkan pemuda/pemudi atau generasi muda yang peduli kebudayaan dan kepariwisataan daerah
Persyaratan peserta
-warga negara indonesia dutamakan warga masyarakat kabupaten mojokerto (dibuktikan foto kopi KTP)
-umur 17-25 tahun (terhitung sampai dengan tahun 2007)
-pendidikan minimal smu dan sederajat
-tinggi pria minimal 165 cm dan wanita minimal 160 cm
-berpenampilan menarik
-mempunyai wawasan luas tentang pariwisata, sejarah dan kebudayaan kabupaten mojokerto
Pendaftaran
-pendafataran dimulai tanggal 15 Oktober s.d 2 Nopember 2007 bertempat di dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten mojokerto setiap jam kerja
-mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran Rp 50.000,-/peserta
Waktu dan tempat pendaftaran
Pelaksanaaan dimulai tanggal 6-8 Nopember 2007 di Dinas Pariwisata dan kebudayaan kabupaten Mojokerto dan Grand final tanggal 10 Nopmebr 2007 bertempat di Pendopo graha maja Tama kabupaten Mojokerto
Kriteria penilaian
-penguasaan bahasa asing
-pengetahuan umum
-pengetahuan pariwisata, seni dan budaya
-keserasian berbusana
-penampilan
-kepribadian
-tes wawancara dilakukan di hotel, dikarantina, diberikan bimbingan dan pelatihan kepribadian, kepemimpinan dan talenta
Bentuk penghargaan
bentuk kegiatan dengan memilih juara 1, 2 dan 3, juara harapan dan juara favorit. Masing-masing juara mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan
PEMILIHAN RAJA DAN RATU MOJOPAHIT 2007
Maksud dan tujuan
-untuk lebih memperkaya wawasan tentang sejarah peninggalan dan kebudayaan Kerajaan Mojopahit
-sebagai duta pariwisata nasional guna mempromosikan potensi pariwisata di Indonesia serta melestarikan sejarah peninggalan dan kebudayaan Kerajaan Mapajahit
-mencetak insan pariwisata yang profesional, mampu, siap bersaing, mandiri dan berjiwa wirausaha serta menyiapkan pemuda/pemudi atau generasi muda yang peduli dengan sejarah peninggalan dan kebudayaan Indonesia terutama peninggalan Kerajaan Mojopahit
Persyaratan peserta
-warga negara indonesia, diutamakan warga masyarakat se jawa timur (dibuktikan foto kopi KTP)
-umur 17-25 tahun (terhitung sampai dengan tahun 2007)
-pendidikan minimal smu atau sederajat
-tinggi pria minimal 165 cm dan wanita minimal 160 cm
-berpenampilan menarik
-mempunyai wawasan luas tentang pariwisata, sejarah dan budaya bangsa indonesia khususnya sejarah kerajaan mojopahit
-mempunyai kemampuan tentang ketrampilan seni dan budaya ciri khas daerah masing-masing
Pendaftaran
-pendaftaran dimulai tanggal 2-25 Oktober 2007 bertempat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto setiap jam kerja
-mengisi formulir pendaftaran dan membayar uang pendaftaran Rp 200.000,-/peserta
Waktu dan Tempat pelaksanaan
Pelaksanaan dimulai tanggal 26 Oktober 2007 di Hotel Virgo Jl. RA Basuni Sooko Kabupaten Mojokerto dan grand final tanggal 27 Oktober 2007 bertempat di pendopo Graha maja Tama
Kriteria penilaian
-penguasaan bahasa asing
-pengetahuan umum
-pengetahuan pariwisata, seni dan budaya
-keserasian berbusana
-penampilan
-kepribadian
-pengetahuan sejarah bangsa (mojopahit)
-tes wawancara dilakukan di hotel, dikarantina, diberikan bimbingan dan pelatihan kepribadian, kepempinan dan talenta
Bentuk penghargaan
bentuk kegiatan dengan memilih juara 1(Raja dan ratu Mojopahit), juara 2 (Pangeran dan Putri Mojopahit), juara 3 (Pendamping Raja dan Ratu Mojopahit), juara harapan (Pendamping Paneran dan Putri) dan juara favorit. Masing-masing juara mendapatkan trophy, piagam dan uang pembinaan.
Pembukaan Festival Mojopahit akan dilaksanakan Minggu, 28 Oktober 2007 pukul 19.00 WIB-selesai di Pendopo Kabupaten Mojokerto Jl. A Yani Kabupaten Mojokerto.
Informasi:
BAPAK AFFANDI ABDUL HADI, Kepala Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto
Jl. Jayanegara 4 Kabuapten Mojokerto
telp 0321- 322244
(Sumber:panduan Festival Seni dan Budaya Mojopahit 2007 yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur)
Keterangan gambar:
sampul majalah Arts of Asia (Hongkong) edisi November-Desember 200 memuat Majapahit sebagai laporan utama.
Saturday, December 02, 2006
Pilar-Pilar Budaya Sumbawa
Judul : Pilar pilar Budaya Sumbawa
Penulis : Wahyu Sunan Kalimati
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat
Cetakan pertama : Nopember 2005
Tebal : 150 halaman
Tiras : 1500 eksemplar
Dalam dunia wisata kita mengenal The Lonely Planet , yang menerbitkan buku panduan dan sering dijadikan buku rujukan bagi wisatawan dunia. Mereka menerbitkan buku saku dalam berbagai bahasa.
Kalau boleh, buku Pilar-pilar Budaya Sumbawa dapatlah nantinya dijadikan buku panduan untuk mengenal Sumbawa. Meskipun dalam bentuk yang sederhana ,Wahyu S.Kalimati memerlukan waktu sebelas tahun untuk mewujudkan buku ini.
Buku Pilar-pilar Sumbawa terbagi atas empat bab, yaitu:
1.Mancawarna –Manusia pemula penghuni Sumbawa dan gelombang suku-suku pendatang .
2.Sumbawa dalam suryakanta: pengertian suku Sumbawa, pernik pernik kebudayaan samawa, akulturasi dalam kebudayaan Sumbawa, pemurnian islam dalam renik kebudayaan.
3.Bianglala Bahasa Sumbawa: leluhur bahasa Sumbawa, bahasa samawa—dialek standar, tugas berat dan elastisitas.
4.Tahta pujangga Sumbawa:melacak satera jontal, proses kreatif pujangga, karya sastra monumental.
Tampilan buku ini cukup bagus, dicetak dengan kertas kualitas bagus dan hard cover. Dicetak sebanyak 1.500 eksemplar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang baru berusia tiga tahun.
Selanjutnya PT Newmont Nusa Tenggara membantu cetak ulang sebanyak 500 eksemplar untuk dibagi secara cuma-cuma kepada karyawan PT Newmont Nusa Tenggara.
Referensi tentang Sumbawa agak kurang dibanding budaya Jawa dan Bali. Disarankan agar buku ini dicetak dengan tiras lebih banyak, dijual dengan harga tidak terlalu mahal dan dibagi secara cuma-cuma untuk perpustakaan sekolah di Sumbawa. Juga perpustakan media massa di seluruh Indonesia.
Untuk sasaran wisatawan manca negara setidaknya buku ini terbit dalam bahasa inggris.
Mudah ditemukan di toko buku di bandara udara, hotel, restoran siap saji, café, spa dan fasilitas wisata lainnya.
Biografi penulis:
Wahyu Sunan Kalimati terlahir dengan nama Raden Wahyu Wijayanto Adi Susilo Teguh Pangarso, 25 Juli 1968 di Temanggung, Jawa Tengah. Menamatkan pendidikan sampai ke jenjang sarjana (S1) pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Semarang, 1991. Merintis karir sebagai Pemandu wisata (tour guide) khusus obyek wisata daerah Yogyakarta, 1989 hingga tamat kuliah. Belajar seni pedalangan di surakarta, 1992 dan memperluas pengetahuan bahasa inggris di Sydney, australia 1993. Tinggal di jakarta dan bekerja pada perusahaan asing sebagai pemandu wisata lintas pulau sumatra, jawa dan bali 1994. Bekerja pada kantor dinas pariwisata kabupaten Sumbawa 1995. Guru SLTP Negeri 2 Plampang dan semenjak 1998 menetap di Taliwang menjadi staf pengajar bidang studi Kesenian dan bahasa indonesia pada SMA Negeri 1 Taliwang, Sumbawa Barat. Menulis puisi dan artikel tentang pendidikan dan kebudayaan dipublikasikan pada media massa daerah. Aktivis beberapa organisasi kepemudaan di Sumbawa Barat.
Alamat kontak:
Wahyu Sunan Kalimati
Jl.Telaga Biru 1 ,Taliwang, Sumbawa Barat 84355
Telp 0372- 81211, HP 081 3395 14117.
Agus Irawan Syahmi: Penyair Sumbawa
TERBIT: ANTOLOGI PUISI MERAH PUTIH CINTAKU
Penerbit : KEMAS SAMAWI (Kerukunan Masyarakat Pecinta Seni Samawa Ano Rawi), Sumbawa Barat
Pengantar : KH Zulkifli Muhadli, SH, MM (rektor Universitas Cordova Indonesia, di Taliwang, Kab.Sumbawa Barat)
Cetakan pertama : Agustus 2006
Tebal : ix + 96 halaman
Merupakan antologi puisi tunggalnya yang kedua setelah Nyanyian Rembulan (2004). Terbagi dalam dua bagian Merah Putih Cintaku (27 puisi) dan bagian kedua dengan Sajak Cinta SMS (56 puisi). Dua puisi diantaranya dalam bahasa daerah Taliwang: Beka Po dan I..Aqu’na,…Bero Mo.
Puisi Beka Po sempat dibacanya dalam Apresiasi Sastra di SMAN Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kamis, 9 Nopember 2006. Dalam acara yang disponsori oleh PT Newmont Nusa Tenggara tersebut hadir pembicara utama: Max Arifin dan Dinullah Rayes, dengan moderator Wahyu Sunan Kalimati, penulis buku Pilar-pilar Budaya Sumbawa.Dihadapan sekitar 150 undangan, Agus Irawan Syahmi menunjukkan kualitasnya sebagai pembaca puisi yang handal.
Dalam buku ini Agus Irawan Syahmi (AIS) masih berkutat pada persoalan teknis bahasa ucap. Dan belum sepenuhnya berhasil.
Meskipun dengan tema yang sama, kalau boleh membandingkan, puisi-puisi karya Wiji Thukul masih lebih “kena” meskipun dengan bahasa ucap Wiji Thukul yang ‘ala penyair kampung’ itu.
Atau bolehlah menengok puisi Goenawan Mohamad :Zagreb---berbicara tentang tema sosial politik dengan begitu mencekam.
Beberapa puisi dalam buku ini malah terkesan sloganisme.
Kesibukan AIS sebagai politisi muda mungkin membuatnya tak banyak waktu membaca buku untuk menambah referensi dalam eksplorasi bahasa ucap.
Membaca judul antologi puisi Merah Putih Cintaku, spontan saya teringat pada penyanyi Leo Kristi. Lewat syair-syair lagu yang ditulisnya , nasionalisme, hadir dengan roh yang sungguh berbeda.
Namun ada juga puisi yang cukup menarik Menjelang Lebaran: Sehabis lelah mencapai/ Setelah lapar dikenyangkan/ Setelah birahi diragikan/ Setelah malam didirikan/ Setelah qalam dikhatamkan/setelah duka fakir disenyumkan/ Setelah takbir, tahmid dan tasbih dilagukan/Selalu ada yang tergadai dalam sunyi jiwa/ Bila pintu maaf atas lafas-laku kami yang ternoda/Tak tersucikan dari kemuliaan kalbu jamaah seiman/
Perkenankan kami bersama kekasih keindahan surga MU/Taqabalallhu minna wa minkum/
Bagaimanapun kehadiran AIS menambah daftar nama penyair Sumbawa, selain Dinullah Rayes dan Asmi Dewi (karyawati PT Newmont Nusa Tenggara, yang sedang menyiapkan antologi puisi tunggal yang pertama).
Agus Irawan Syahmi, lahir di Tepas-Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat, 37 tahun lalu. Bapak 3 anak , alumni Universitas Muhammadiyah Mataram..Saat ini menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Sumbawa Barat.
Sebelumnya telah menerbitkan antologi puisi tunggal Nyanyian Rembulan (Lembaga Kebudayaan LONTO ENGAL, Sumbawa, 2004).
Beberapa catatan berkesenian antara lain:
-Pendiri dan pembina Kerukunan Masyarakat Pecinta Seni Samawa Ano Rawi (KEMAS-SAMAWI) Sumbawa Barat
-Elemen Komunitas Sastra Sumbawa Barat
-Tim kreator Lembaga Kebudayaan Lonto Engal, Sumbawa
-Pendiri dan pembina lembaga musik PROGRES RAAW Taliwang, Sumbawa Barat
-Mengikuti Festival Teater Nasional di Solo, 1993 bersama Bengkel Aktor Mataram
-Menjadi sutradara pagelaran sastra Dari Catatan Harian Sahdi untuk Sahdia, karya Max Arifin, pada Festival Teater Kampus di Universitas Mataram, 1992.
-Ketua Bidang Teater SASENTRA Universitas Muhammadiyah Mataram 1990-1993
-Menjadi sutradara pagelaran sastra Lautan Jilbab karya Emha Ainun Nadjib bersama SASENTRA Universitas Muhammadiyah Mataram, 1993.
Alamat kontak:
Agus Irawan Syahmi,
Jl.Lasap Gang Brang Mate 13, Menala, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat
Hp 081 339 722 369.
(abdul malik, email:banyumili@telkom.net)
BATU HIJAU,Dulu,Kini dan Esok
Judul : BATU HIJAU,DULU,KINI DAN ESOK
Penulis : Eddy Karna Sinoel
Editor : Eddy Karna Sinoel, Masnun Mas’ud
Fotografer : I Nyoman Budhiana
Periset data : Masnun Mas’ud
Pracetak : Mahirun Mahyun
Tebal : xiv+302 halaman
Penerbit : PT Newmont Nusa Tenggara
Cetakan pertama : 2005
Kata Pengantar
BATU HIJAU DULU,KINI DAN ESOK adalah buku berisi rekam jejak anak negeri dari sudut-sudut desa yang sekarang mulai menggeliat setelah bertahun-tahun lamanya hidup dalam keterbatasan. Ini adalah sebuah catatan perjalanan. Perjalanan menelusuri desa-desa, berdialog dengan petani, nelayan, pengrajin, pengusaha kecil, anak-anak muda penuh kreatif, siswa, guru, dokter serta mereka yang menyintai desa dan masyarakatnya. Ada kilas balik.Dulu, Kini dan Esok. Cerita lama adalah penggalan sejarah lampau. Namun ia menjadi sejarah kini. Dan sejarah kini akan menjadi pula sejarah esok. Itulah yang ingin disampaikan dalam kumpulan rekam jejak dan catatan perjalanan ini. Lihatlah desa-desa itu. Sekongkang Atas, Sekongkang Bawah, Tongo, Aik Kangkung, Tatar serta Goa, Maluk dan Benete.
Kegairahan warga terlihat di sana. Prakarsa anak-anak desa terus tumbuh. Mencoba mengambil peran dalam kehidupan desa. Proses kreatif yang penuh optimisme. Di sepanjang jalan Aik Kangkung menuju Tatar, siswa berseragam nampak bersemangat pergi ke sekolah, sementara seorang dokter di Maluk dengan bangga menyatakan malaria di sini tidak lagi menjadi penyakit yang menakutkan. Ada petani di Benete bercerita tentang keberhasilan menanam bawang merah. Guru di Sekongkang Bawah bertutur tentang prestasi siswa, siswa bicara tentang cita-cita, sementara seorang warga Desa Sekongkang Atas mengisahkan kemajuan koperasinya. Dari Tongo, ada tokoh masyarakat yang bangga dengan kemajuan desanya, sedangkan seorang petani Tatar merasa optimistis dengan potensi gaharunya cukup menjanjikan.
Keberhasilan budidaya System of Rice Intensification (SRI) diceritakan petani dari Aik Kangkung dan Sekongkang Bawah, sedangkan petani di Goa berhasil mengelola bisnis kopra. Lihat pula kisah mahasiswa asal Belo yang mendapat beasiswa atas prestasinya. Inilah wajah lingkar tambang. Secara nyata yang tampak sekarang adalah kegairahan Sekongkang dan menggeliatnya Jereweh, dua kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat yang tengah memacu pertumbuhan dan pemberdayaan warga desa. Inilah rekam jejak yang ingin disampaikan dalam buku ini. Banyak pelajaran bahkan teladan yang bisa dipetik ketika rangkuman data dicari lagnsung ke desa-desa yang kini sedang mengalami perkembangan itu. Suguhan fakta dari sebuah proses pemberdayaan, pengembangan dan pembangunan masyarakat yang tengah terjadi saat ini.
Pada posisi itulah buku BATU HIJAU DULU, KINI DAN ESOK ini disusun. Disusun dari fakta lapangan yang dituangkan dalam kalimat-kalimat bertutur. Tujuannya sederhana, ingin memberikan gambaran utuh dan sesungguhnya dari kehadiran sebuah program besar yang disebut Community Development (ComDev) sebagai prakarsa Newmont Batu Hijau yang dalam putaran waktunya hingga sekarang telah memberi nuansa pertumbuhan dan perkembangan bagi kehidupan di desa-desa lingkar tambang. Dan disadari sepenuhnya bahwa belum semua sisi-sisi kehidupan penduduk desa lingkar tambang terangkum dalam buku ini. Tentu masih ada catatan-catatan keberhasilan dari warga desa lainnya yang belum terangkat. Atau, mungkin juga ada pandangan-pandangan lain yang kebetulan saja berbeda. Biarkanlah warna-warni itu menjadi bagian dari kehidupan. Karena sesungguhnya ia adalah juga sisi lain dari persahabatan.
Buku BATU HIJAU, DULU,KINI DAN ESOK diterbitkan oleh Community Development (ComDev) Newmont Batu Hijau. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan? Ada.Hanya sepenggal kalimat,”Bahwa desa tanpa kita sadari banyak memberi pelajaran kehidupan”.
Lingkar Tambang, Agustus 2005
EDDY KARNA SINOEL
EDDY KARNA SINOEL adalah wartawan senior di Nusa Tenggara Barat. Karir jurnalistiknya dirintis di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA sejak tahun 1990 hingga sekarang.Pendidikan formalnya diselesaikan pada jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Parahyangan Bandung.
Untuk mendapatkan buku ini, silakan menghubungi:
Bapak Kasan Mulyono,
Public Relation Manager
PT Newmont Nusa Tenggara
Site:
Jereweh, Sumbawa Barat, NTB
Telp 0372-635318 ext.46260
Fax 0372-635319 ext 46317
Alamat surat:
Jl.Sriwijaya 258 Mataram NTB
Telp 0370- 636318
Fax 0370- 633349
Email: Kasan.Mulyono@Newmont.com dan ptnnt.public.relation@Newmont.com
Ada Bimbo di HUT Kabupaten Sumbawa Barat
Catatan perjalanan oleh abdul malik
Perayaan hari lahir ke 3 Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) nampaknya akan diadakan secara meriah. Kelompok vokal asal Bandung, BIMBO akan menghibur masyarakat Taliwang dan sekitarnya pada Senin, 20 Nopember 2006 di alun-alun KSB di Kecamatan Taliwang.
Sehari sebelumnya akan diadakan pentas kolosal oleh Teater Total dengan tema “Nuansa KSB Bumi Penuh Rahmat Tuhan” di alun-alun KSB pada pukul 20.00 wita.
Mustakim Biawan sutradara pementasan tersebut di rumah makan Totang Rasa, Taliwang, Kamis siang (9/11), mengatakan bahwa nantinya pementasan akan didukung lebih dari 100 seniman KSB dengan mengambil tema sentral “Berbeda Itu Indah”.
Musbiawan, panggilan akrab mantan Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat tersebut menjamin bahwa pentas kolosal nantinya bebas dari titipan dan sponsor yang biasa dilakukan pejabat saat menggelar ulang tahun.
Datanglah ke kecamatan Taliwang yang menjadi ibukota KSB. Disana sini akan tampak pembangunan yang pesat dan kadang membuat kita geleng kepala. Jumat siang (10/11) terlihat sejumlah pekerja sedang mengerjakan gedung DPRD yang menelan biaya 7 milyar, sementara jumlah anggota dewan di KSB hanya 20 orang.
Di sudut yang lain gedung kabupaten KSB sedang dikebut termasuk fasilitas helipad. Di seberangnya ada guest house dengan kapasitas 600 kamar.Begitulah geliat Taliwang yang kalau mau jujur diakui karena keberadaan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).
PT NNT tahun 2005 membayar Pajak Bumi dan Bangunan sebesar Rp 9.063.178.522 kepada Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Kabupaten Sumbawa Barat. Hal ini diungkapkan Bapak Malik Salim, Senior Manajer Hubungan Eksternal PT NNT, Sabtu malam, (11/11) di Hotel Lombok Raya, Mataram. Di luar kewajiban tersebut , PT NNT setiap tahun juga mengeluarkan sekitar dua puluh miliar rupiah untuk pengembangan masyarakat dan bantuan sosial. (Buletin Suara Batu Hijau, Edisi Masyarakat, No.10/Nopember 2005).
Max Arifin,70, budayawan kelahiran Alas, Sumbawa Besar, menyempatkan diri mengunjungi Taliwang sebagai bagian dari agenda pulang kampung yang disponsori PT Newmont Nusa Tenggara.”Ada banyak perubahan di Taliwang semenjak saya mengajar di SMI (Sekolah Menegah Islam, setingkat SMP) Taliwang sekitar empat puluh tahun lalu.”. Saat mengajar di Taliwang selama tiga tahun tersebut, Pak Max, apnggilan akrabnya mempunyai kelompok musik.”Saya bagian main biola dan gitar”. Salah satu anggotanya yang masih hidup adalah Bapak H.Lalu Muhadli, ayahanda Bupati Taliwang saat ini, K.H.Zulkifli Muhadli, SH, MM.
Tinggal di rumah yang asri di Jl.Mawar, Pak Muhadli menerima kehadiran kami dengan ramah, Jumat (10/11). Setelah makan siang, kami mengunjungi Pondok Pesantren Al Ikhlas di Jl.Pondok Pesantren 112.Di lahan seluas lima hektar dengan pemandangan bukit yang indah berdiri juga Universitas Cordova. Baik Pondok Pesantren maupun Universitas Cordova dikelola oleh Bapak K.H.Zulkifli Muhadli, SH MM.
Sebagai alumni Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, Pak Zulkifli menerapkan metode pendidikan Ponpes Gontor pada Pondok Pesantren Al Ikhlas yang dikelolanya.
Nama Cordova diambil dari nama sebuah kota di Spanyol yang pernah menjadi pusat kejayaan peradaban Islam dan pengembangan iptek pada abad X-XI. Diharapkan nama Cordova dapat menjadi sugesti dan pemompa semangat perjuangan bagi pimpinan dan staf Undova dalam memberikan pelayanan jasa pendidikan tinggi kepada masyarakat.
Undova pada tahun ajaran 2005/2006 memiliki 214 mahasiswa yang tersebar pada 5 Program studi yaitu: Ekonomi Islam, Teknik Informatika, Teknik Pertambangan, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Inggris dan Ilmu administrasi Pemerintahan.
Saya teringat kepada Bapak Machmoed Zain, mantan Bupati Mojokerto di Jawa Timur, yang begitu mengagumi kejayaan Majapahit , sehingga nama universitas yang didirikan saat masih menjabat sebagai bupati pun mencantumkan Majapahit: Universitas Islam Majapahit (UNIM). Sampai hari ini masih berdiri cukup megah di Jl.Raya Jabon Kabupaten Mojokerto, dengan arsitektur bernuansa Majapahit.
Di ruang tamu yang semilir oleh angin ,siang itu Ibu Bupati didampingi putra sulung dan salah satu kerabat, menerima kedatangan Pak Max Arifin dan tim, sementara Bapak Bupati sedang berada di Jakarta untuk tugas kedinasan.
Selanjutnya Pak Max menceritakan tentang bagaimana ‘menemukan’ salah satu sahabat lamanya, H.Lalu Muhadli.”Saat itu saya sedang sakit di RS SidoWaras, Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Ada anak muda yang mengenalkan diri bahwa istrinya berasal dari Sumbawa, dan memiliki nomor telepon H.Lalu Muhadli.”. Begitu gembiranya, dari kamar RS Sido Waras, Pak Max langsung mengontak sahabat lamanya lewat ponsel. Dan kontak selanjutnya berlangsung sampai hari ini.
Pak Max menyerahkan cinderamata perahu Majapahit yang dimasukkan dalam botol dengan tulisan berupa lawas :Kudatang jango desa/Nonda kaling kubawa/Salamat gama parana/, dua buku terjemahan Pak Max masing-masing My Life in Art karya Konstantin Stanislavsky, Ledakan dan Bom- biografi Antonin Artaud dan buku Kabupaten Mojokerto Menuju Masa Depan, yang diterima Ibu Bupati.
Sementara Ibu Bupati menyerahkan sebotol madu khas Sumbawa.
Menjelang pukul tiga sore, Pak Max dan tim pamit dan melanjutkan perjalanan kembali ke Hotel Trophy di Maluk.
Salah satu ‘hadiah’ bagi ulang tahun Kabupaten Sumbawa Barat yang ke 3 tanggal 20 Nopember 2006 adalah perubahan status desa Maluk yang berpenduduk tujuh ribu jiwa menjadi kecamatan.
Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar tentang berita korupsi, ijazah SD Bupati Taliwang yang dipertanyakan keabsahannya, rencana Bupati menggelar seribu spanduk untuk masuk MURI dengan tulisan yang provokativ “Mari kita rebut tiga persen saham PT Newmnont untuk KSB”, dana lima ratus juta yang digulirkan PT Newmont Nusa Tenggara kepada Pemkab KSB untuk proyek jalan menguap tanpa realisasi kongkrit.
Kembali saya teringat kepada sahabat email saya: Arif Hidayat. Pemuda kelahiran Alas, Sumbawa Besar tersebut adalah redaksi Sumbawanews, dan saat ini menjadi ketua panitia Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember nanti.Dalam salah satu kesempatan dari Hotel Trophy di Maluk, Rabu (8/11) saya sempat bertanya via ponsel kenapa tidak membuat liputan khusus berkaitan isu korupsi yang begitu santer di KSB.
“Tak ada informasi dan data yang masuk,” kata Arif yang juga aktif dalam Masyarakat Transparansi Indonesia dan Tiga Pilar Kemitraan..Rasanya benar juga informasi dari sebuah lembaga dunia yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Bahkan penyair Taufiq Ismail memberi judul antologi puisinya :Malu Aku Jadi Orang Indonesia………………………………………………………………..
(abdul malik, email:banyumili@telkom.net)
Surat Dari Seberang 2 (Max Arifin)
Ngunglu ayam ling Samawa
Samung ling sanak do tokal
Mole tu sakompal ate.
Ecun,
Bulan lalu aku diundang oleh PT Newmont Nusa Tenggara. Undangan untuk pulang kampung, atau dalam bahasa “tau Samawa” “mole jango desa”; karena sesungguhnya sudah 65 tahun aku tidak pernah melihat daerah yang sekarang disebut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu. Sayup-sayup terngiang-ngiang sepotong lawas Samawa yang dibawakan oleh seoramg pemuda yang kesepian yang sedang menjaga padinya di sawah pada malam hari. Rindu pada wajah kekasih yang lama tidak bersua karena pekerjaan yang mendera badan……..kudatang jango desa, nonda kaleng kubawa, selamat gama parana.
Di samping aku dan istriku ikut pula sdr. Abdul Malik dan Novarita teman-teman baikku yang selama ini membantu aku dalam berbagai hal dan pekerjaanku.. Aku banyak melihat dan berbicara dengan beberapa orang staf dan karyawan PT Newmont.
Ecun,
Waktu terasa berjalan cepat sekarang ini, karena di sana orang-orang berbicara dan berdiskusi tentang perencanaan masa depan. Waktu tidak beku atau membatu seperti terdapat dalam otak orang-orang yang berpikir tradisional. Empat puluh tahun yang lalu, kita bisa mengatakan waktu itu malah tidak ada. Apapun jenisnya, perencanaan berarti suatu antisipasi keadaan masa depan. Penegasan visi tentang masa depan pada saat ini adalah bertujuan untuk memotivasi, membimbing dan mengarahkan tindakan sekareang---suatu masa depan yang berbeda dengan masa sekarang, namun penuh dengan agen dan kontra agen, objek-objek yang perlu dihindari, objek-objek yang perlu dicakup, sarana untuk memungkinkan penghindaran, kekuatan yang saling berkaitan, manusiawi dan yang non manusiawi, lunak, bermusuhan atau netral.
Manusia terkondisi untuk berubah dan membuat perencanaan menjadi penting dan perlu bagi diri mereka untuk memilih dan bertindak karena kebutuhan dalam medium sejarah. Namun karena masa depan itu akan berbeda dengan masa seakarang, maka manusia tidak mengetahui seberapa jauh mempercayai antisipasinya yang sekarang mengenai masa depan itu dalam rangka menyiapkan diri untuk menghadapi dan menanggulanginya.. Seperti dikatakan oleh Warren G.Bennis, dan kawan-kawan, dalam bukunya, The Planning of Change (Rinehart & Winston, Inc. 1985) semua perencanaan manusia adalah perencanaan perubahan dan memerlukan pertimbangan mengenai keseimbangan yang layak antara investasi energi dan sumberdaya untuk mengejar atau menghindari akibat yang dapat kita antisipasi sekarang., suatu masa depan yang kurang lebih akan menimbulkan keterkejutan, karena sistem sosial yang selama ini kita hadaapi adalah bersifat evolusioner.
Manusia modern dikhianati oleh arah tradisi, Ecun. Mereka menghadapi sekaligus harapan dan ketakutan akan masa depan yang belum diketahui secara langsung karena kehilangan kepercayaan pada pedoman dari kebiasaan dan kebijaksanaan tradisional. Kita kadang-kadang menjadi gamang, bergerak antara harapan dan ketakutan. Kukira itulah sebenarnya yang dimaksud oleh Pak Basar, seorang staf Comdev ketika mengantar kami berkeliling ke desa-desa sampai ke Tatar. Pak Basar menyebut-nyebut tentang mentalitas dan peri laku. Kompas (30 November 2006) mengutip ceramah Prof. Michael Porter dalam sebuah seminar di Jakarta. Profesor itu bertanya, lalu kenapa Indonesia tetap stagnan? Dia jawab sendiri, “Saya pikir penyebabnya sebagian adalah masalah mentalitas dan perilaku” dan dia meminta agar pola berpikir kita diubah. Hal serupa sedikit banyak disebut-sebut pula oleh Bapak Malik Salim, Asisten Senior Manager External Relation PT Newmont dalam diskusi kecil dengan beliau di Hotel Lombok Raya, Mataram. Masyarakat sedang mengalami perubahan secara drastis dan dunia kini dibayangi oleh perubahan ke arah masyarakat informasi. Dalam waktu dekat kita akan memasuki suatu dunia yang benar-benar baru. Di dalam dunia yang baru ini kesatuan pengetahuan, sifat komunikasi manusia, tatanan masyarakat, tatanan gagasan dan gagasan yang sesungguhnya mengenai masyaraakat dan kebudayaan mengalami perubahan dan tidak akan kembali seperti semula. Dunia baru yang kita hadapi adalah dunia “jungkir-balik” nilai-nilai yang akan melahirkan kegamangan di sebagian besar anggota masyarakat; terjadinya pembubaran dan perubahan wewenang secara besar-besaran dalam keyakinan, dalam ritual dan dalam tata-tertib duniawi. Namun inilah dunia yang kita diami. Suka atau tidak suka. Pak Basar dan Pak Malik Salim tentu mengalami dan menghadapi kesulitan-kesulitan; banyak kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini barangkali berasal dari perkembangan dalam pemahaman, dalam ketrampilan, bahkan dalam keluasaan.
Ecun,
Sebuah masyarakat atau individu yang “well-informed” atau tercerahkan akan mudah berubah atau beradaptasi dengan gagasan-gagasan atau ide-ide baru. Bukan dalam arti menerima begitu saja, tetapi (yang kita kehendaki) adalah terjadinya proses analisis dan internalisasi pada dirinya. Distorsi informasi---apalagi kalau disengaja atau memanipulasi informasi---akan bisa menimbulkan hal-hal yang fatal. Seperti yang terjadi di daerah-daerah dan tawuran antar kelompok. “Proses tentang informasi” adalah penting, karena dengan proses itu kita berusaha memberikan pada masyarakat kita tentang wawasan tentang apa yang sedang berlangsung di sekitar kita, di dalam diri kita dan antara diri kita dan orang lain. Selama ini barangkali saja ada yang salah. Kita haruslah berpendapat bahwa informasi diperlakukan sebagai isi dalam lingkungan yang mempunyai potensi untuk mengubah proses, strategi dan rencana sistem yang dibuat dengan sengaja (by designed). Bisa saja pemecahan masalah oleh Comdev akan menimbulkan masalah baru (yang tidak diramalkan). Mungkin kita tidak pernah dapat mengambil langkah yang akibatnya memang kita maksudkan. Mungkin pula selama penelitian Comdev sering menemukan tujuan baru yang dipertaruhkan dalam tindakan kita yang berada di luar batas tujuan kita sendiri. Dengan de mikian secara metafora---maaf pada Pak Basar--- langkah perencanaan dan tanggapan pihak yang direncanakan (rakyat Sekongkang dan Jereweh khususnya dan KSB umumnya) dapat dilihat sebagai suatu percakapan. Namun konteks perencanaan adalah konteks di mana perencanaan dan pihak yang direncanakan mungkion benar-benar berbicara satu-sama-lain (berkomunikasi atau bermiskomunikasi), sebagaimana mungkin terjadi tentang makna yang telah mereka bentuk atau sepakati, baik untuk langkah mereka sendiri maupun untuk langkah pihak lain.
Ecun,
,PT Newmont ini tentu mempergunakan perencanaan modern. Secara sepintas aku dapat melihat dan merasakan “aura” rasional-komprehensif yang berada di dalam konteks kesadaran objektif: suatu keadaan kesadaran yang dibersihkan dari semua penyimpangan subjektif dan semua keterlibatan atau kesalahan pribadi. Perencanaan seperti ini terasa elitis dan cenderung sentralistis yang benar-benar menutup semua kemungkinan untuk perubahan sosial kecuali yang sudah diprogramkan sebelumnya. Sejarah mengajarkan kita, bahwa perubahan penting selalu unik, tidak dapat diramalkan dan tidak dapat diulang. Kita orang-orang modern sering tidak sabaran dengan mengatakan perubahan adalah sebuah proses yang tidak ada akhirnya. Aku akan mengatakan pada manusia modern, bahwa sumber perubahan sosial kreatif itulah yang tidak dapat diperhitungkan. Atau seperti yang ditulis oleh dua orang dramawan Inggris, Richard Edmund dan Nigel Hughes yang mengunjungi jantung Kalimantan sampai ke Longpahangan: “ Usaha kami bukanlah memaksakan metode dan nilai-nilai kami, tetapi sebaliknya adalah belajar dari mereka dan mengembangkan ideologi kaya, kesenian dan kreativitas mereka sendiri yang telah dihancurkan dan dipinggirkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar, terutama oleh bangsanya sendiri” (Rainforest Quest/Trees of Paradise,Green ress, 1991: 169). Lebih jauh dua orang dramawan ini menulis di sana: “Rakyat di sana bukan cuma contoh dari kebudayaan yang sudah tua, tetapi mereka adalah penjaga-penjaga, guardians misteri yang ada di daerah mereka, walau sebagai penjaga mereka tidak punya konsep tentang bahaya besar yang mengintai mereka, bahaya yang mengancam ‘the core of their existence’ , the mystery itself” (hal 278).
Ecun,
Di sinilah kayaknya ada pemahaman yang saling bertentangan tentang apa kebudayaan itu. Bagi kita orang-orang modern---aku, Pak Malik Salim, Pak Basar, Pak Kasan Mulyono, Pak Zambani, Pak Jarot, dan lain-lain---tidaklah memandang kerbudayaan---tradisi, perilaku, adat-istiadat, dan lain-lain---sebagai suatu heritage, suatu warisan yang sebagaimana dipahami oleh masyarakat setempat, masyarakat lingkar tambang atau KSB umumnya. Bagi mereka heritage adalah pedoman-hidup, pedoman dalam bertingkah-laku dan berperilaku dan bersikap serta alat-perekat anggota masyarakat. Lawas, sakeco, badede, langko, dan lain-lain harus dilestarikan. Bagi mereka kebudayaan adalah terdiri atas kebudayaan-kebudayaan yang sudah lama ada yang saling berdamai satu sama lain. Tetapi bagi kita---manusia-manusia modern yang dikhianati oleh tradisi itu---kebudayaan kita pahami sebagai fragmen-fragmen masa lalu yang saling tak terdamaikan, bukan penemuan tetapi warisan yang bermetamorposes, melalui kreativitas budi dan akal manusia. Masa lalun itu adalah sesuatu yang harus ditaklukkan dan dianeksasi dan adalah dalam diri kita---manusia-manusioa modern itu---di mana dialog-dialog besar dengan kebudayaan=kebudayaan kebesarabn masa lalu itu menjadi hidup. Dengan demikian---terutama dengan hormat pada Bapak Malik Salim---kebudayaan itu menjadi kompendium dan menyokong kebesaran Manusia (manusia dengan huruf besar M) dan membuat mereka memiliki dan banggga akan harkat mereka sebagai manusia. Lewat kebudayaan, terutama seni kita ---seni modern dan seni tradisional---kita mencoba menolak takdir kita. “All art is a revolt agaisnt man’s fate”, kata Andre Malraux dalam bukunya The Voices of Silence (Granada Publishing House, 1974: 639)
Ecun,
Aku dan teman-teman timku telah melihat geliat Jereweh. Gairah Sakongkang, Magnet Maluk dan Benete, Harapan Belo. Kegigihan Goa. Kiprah Beru. Optimisme Tongo dan Tatar----terima kasih lagi pada Pak Basar----. Mungkin apa yang kami lihat adalah secara fisik saja, tetapi kami berharap adalah pula geliat itu dalam bentuk mental dan peri laku.
Terakhir aku ingin mengucapkan terima kasih pada dua orang siswa SMA Negeri Jereweh, Pipin Riyanto dan Fitri yang telah menelpon aku menanyakan masalah kreativitas dalam penulisan. Semoga kalian kelak menjadi penulis-penulis yang handal.
Kepada seluruh masyarakat lingkar tambang, kami mengucapkan”
No soda su ku ko sia
Ko paranaku baesi
Ling genras ku sayang sia..
Salam hormat,
Max Arifin.
Jl.Bola Voli Blok E 33
Perum Griya Japan Raya,Sooko,
Kabupaten Mojokerto 61361
Jawa Timur
Telp 0321-326915
HP 085 2300 39 807
Email: daxxenos2@yahoo.com
Thursday, October 05, 2006
Wawancara Max Arifin di Jurnal Budaya Surabaya
“Kota seperti Surabaya, saya kira, memang memerlukan sebuah gedung kesenian yang representatif. Surabaya perlu menampilkan wajah yang berbudaya, bukan wajah sangar seperti sekarang. Namun, apalah arti sebuah gedung kesenian yang megah dan representatif bila kita tidak mampu mengisi dengan kesenian-kesenian yang bermutu.”
Tanggal 18 Agustus lalu, Max Arifin genap berusia 70 tahun. Ulang tahunnya dirayakan kecil-kecilan di rumahnya oleh sejumlah seniman muda, baik dari dalam maupun luar kota (Mojokerto), yang selama ini memang sering mengunjunginya, di Jl.Bola Voli Blok E 33, Perum Griya Japan Raya, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Yang sangat membanggakan, bertepatan dengan hari ulang tahunnya itu, buku terbarunya, “Antonin Artaud, Ledakan dan Bom” (terjemahan dari karya Stephen Barber, Blows and Bombs,) telah diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tentunya ini semakin membuat hari ulang tahun Max Arifin di Bulan Agustus itu semakin spesial.
Pada suatu kesempatan ketika Max Arifin diundang menjadi pembicara dalam forum diskusi yang digelar oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), akhir Agustus lalu, tentang buku terbarunya ini sudah banyak ditanyakan oleh sejumlah seniman Surabaya yang menyapanya. Namun, buku yang bercerita tentang biografi dan konsep teater Antonin Artaud tersebut ketika itu masih belum sampai di Surabaya. Jadilah para seniman yang menanyakannya itu harus gigit jari. Adapun buku itu baru beredar di Surabaya pada bulan berikutnya. Isinya telah dibedah di DKJT pada Selasa, 19 September lalu.
Buku Stephen Barber ini memotret Antonin Artaud sebagai sosok yang unik sekaligus sangat memilukan--sebuah buku yang luas dan otoritatif tentang sejarah hidup dan karya dari orang yang mengubah arus teater modern. Antonin Artaud adalah salah seorang dari legenda-legenda kultural besar abad dua puluh. Theatre of Cruelty-nya mengubah arah arus teater modern dan eksperimen-eksperimennya dengan gerakan Surrealis telah memberi inspirasi yang menembus Eropa dan Amerika.
Di akhir dari sebuah rangkaian perjalanannya yang panjang--baik fisikal maupun spiritual yang ditujukan untuk menciptakan sebuah budaya yang magis dari tubuh manusia--dia ditahan dan dikurung selama sembilan tahun di berbagai asilum di Prancis, di mana dia menderita kelaparan dan menjadi “kelinci percobaan” dari lima puluh kali pengobatan lewat kejutan listrik (electroshock). Digambarkan dalam buku itu, kehidupan Artaud merupakan kegagalan yang mengerikan dan konfrontasi dan eksplorasi yang ekstrim dari luka derita dan kegembiraan.
Sampai hari ini, Max Arifin, kira-kira sedikitnya telah menghasilkan 34 karya buku. Jumlah itu belum termasuk beberapa puisi dan cerpen dari timur tengah yang juga sempat diterjemahkannya. Memang, sebagian besar dari total karyanya itu, 26 di antaranya adalah karya terjemahan, termasuk tujuh karyanya yang belum diterbitkan. Seperti; Suara yang Lain (dari buku The Other Voice, karya Octavio Paz); Surat-surat Negro (The Fire Next Time, karya James Baldwin); Teater Politik (Political Theatre, karya David Goodman); Teater dan Kembarannya (Theatre and it’s Double, karya Antonin Artaud); Masalah-masalah Seni (The Problems of Art, karya Susanne K. Langer); Kapal Orang-orang Bodoh (Ship of Fool, dari karya Christiana Perri Rossi) dan Hidupku dalam Seni (My Life in Art, karya Konstantin Stanislavsky).
Beberapa di antara judul-judul buku yang belum diterbitkan tersebut telah berada di tangan penerbit. Seperti; Masalah-masalah Seni yang sudah berada di penerbit Bentang, Yogyakarta; Hidupku dalam Seni yang telah ditangani oleh penerbit Pustaka Kayutangan, Malang dan Kapal Orang-orang Bodoh yang kini berada di tangan penerbit Biduk, Bandung.
Pada karya yang disebut terakhir, bahkan telah berada di pihak penerbit sejak lima tahun yang lalu. Namun tak pernah ada kabar sampai sekarang. Celakanya Max Arifin tidak menyimpan kopi terjemahannya. Untungnya naskah dari buku aslinya, Ship of Fool, masih tersimpan rapi di rak bukunya.”Ah, sudahlah, saya tak ingin ribut dengan orang soal itu,” katanya ketika disinggung tentang nasib karyanya yang satu ini.
Begitulah, Max Arifin sebenarnya punya seabrek pengalaman yang tidak enak semacam itu. Contoh lain, naskah Surat-surat Negero yang diterjemahkannya dari karya James Baldwin sempat dinyatakan raib ketika dibawa oleh salah seorang redaktur budaya untuk dimuat di koran harian nasional terbitan Surabaya. Pengalaman pahit seperti itu sering terjadi karena Max Arifin selalu ingin membagi isi buku tersebut kepada orang lain. Suatu keinginan yang selalu ada dibenaknya setiap kali dia akan mengawali menerjemahkan buku.
Adapun sampai hari ini Surat-surat Negero tak pernah muncul di koran seperti yang telah dijanjikan oleh redakturnya tersebut. Hingga suatu ketika pernah Max Arifin mengirim pesan singkat (SMS) kepada Jurnal: ”Malam ini, salah satu televisi swasta menayangkan Malcolm X. Namun pikiranku melayang pada Surat Surat Negro.”
Karir Max Arifin sebagai penerjemah buku kira-kira berawal sejak tiga puluh tahun yang lalu. Bermula dari seorang wartawan Kompas bernama Trees Nio yang datang mengunjungi Dirman Toha, sahabat Max Arifin, yang merupakan koresponden Kompas di Mataram. Saat itulah Trees Nio melihat dua naskah novel terjemahan karya Max Arifin, masing-masing Walkabout, karya James Vance Marshall dan The Sound of Waves, karya Yukio Mishima.
Trees Nio langsung tertarik dengan dua naskah itu dan membawanya ke Jakarta. Berturut-turut kemudian masing-masing dijadikan Cerita Bersambung (Cerber) di Kompas (1976 dan 1978). ”Honor dari Kompas waktu itu sebesar delapan puluh rupiah. Sementara gaji sebagai pegawai negeri tujuh puluh lima rupiah,” kenang Max Arifin.
“Kami langsung beli pompa air yang uangnya dikumpulkan dari sebagian honor Kompas itu. Waktu itu kira-kira harganya Rp. 125 ribu,” timpal Siti Hadidjah (70), isteri Max Arifin, yang juga pekerja seni. Sementara, Max Arifin, masih dari sebagian honornya itu, pada 28 Februari 1986, membeli mesin ketik Brother Deluxe 550 TR untuk hadiah ulang tahun isterinya, dengan tak lupa dituliskannya pesan pendek terlebih dahulu: Without Fear and Favor!
Karya-karya naskah/ buku yang pernah ditulis Max Arifin memang kemudian banyak yang dijadikan cerber di sejumlah koran harian yang terbit di negeri ini. Selain dua karya yang telah disebut tadi, masih ada Kecantikan dan Kesedihan (terjemahan dari naskah The Beauty and Sadnes, karya Yasunari Kawabata) yang juga menjadi cerber di Kompas pada tahun 1984.
Selain itu, masih ada lagi; Matinya Demung Sandubaya yang menjadi cerber di harian Suara Nusa (Mataram); Kemelut (naskah terjemahan dari The Blind Owl, karya Sadeq Hedayat) yang menjadi cerber di Surabaya Post; serta Seratus Tahun Kesunyian (naskah terjemahan dari One Hundred Years of Solitude, karya Gabriel Garcia Marques) yang menjadi cerber di Jawa Pos (1997).
Kendati demikian, dengan jumlah karya yang telah dihasilkannya sebanyak itu, Max Arifin tidak mau disebut sebagai sastrawan. “Saya ini orang teater, bukan sastrawan,” ujarnya. Barangkali dia berkata begitu karena kebanyakan karyanya, baik itu yang terjemahan maupun tidak, sebagian besar adalah tentang drama/ teater.
Terlebih, dia juga pernah mendirikan kelompok teater Gugus Depan di Mataram. Bahkan, selama tinggal di Mataram dulu, dia adalah pembina teater di beberapa SMA dan universitas. Pun di tempat kerjanya, Depdikbud Nusa Tenggara Barat (sekarang sudah pensiun, red), dia juga diserahi tugas untuk menangani bidang Kesenian seksi drama (tradisional dan modern).
Kepada Jurnal, Max Arifin bersoloroh, jika ada yang mengira bahwa dirinya adalah seorang sastrawan, itu karena selama berkesenian dia juga suka menulis puisi dan cerpen. Percayalah, Max Arifin akan lebih antusias jika diajak ngobrol soal teater.
*****
Bagaimana perkembangan teater di tanah air, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur (Jatim)?
Perkembangan teater di Indonesia timbul tenggelam. Ada masa ketika teater itu sedang marak, atau sedang digandrungi, ada juga masa ketika teater sedang sepi.
Perkembangan teater di Surabaya atau Jatim sekarang ini, termasuk pada masa yang mana?
Seperti yang anda lihat sendiri, sejak beberapa tahun terakhir, banyak festival dan pementasan (teater) di sini (Surabaya, red). Itu artinya teater sedang berkembang pesat di sini. Tapi itu kalau kita bicara soal kuantitas loh ya…
Kebanyakan dari mereka tidak berkualitas, ya, Pak?
Tidak semua kelompok teater yang pernah mentas--sepanjang yang saya saksikan--tidak berkualitas. Ada beberapa yang cukup berkualitas di samping ada yang memang di bawah standar.
Apa kira-kira yang membuat penampilan kelompok-kelompok teater kita banyak yang tidak berkualitas?
Ada banyak faktor. Tapi, sebenarnya, kualitas bisa dicapai bila kelompok-kelompok teater tersebut memahami benar tuntutan-tuntutan atau hukum-hukum yang ada dalam seni teater. Bukan cuma memahami secara teoritik, tetapi mampu mengimplementasi aspek-aspek teoritik tersebut ke dalam praktik, ke dalam realitas pentas yang bersifat visual.
Tuntutan-tuntutan atau hukum-hukum yang ada dalam seni peran (teater) tersebut memang cukup tinggi. Saking tingginya, orang memerlukan membangun sekolah tinggi yang mengajar seni teater dan seni teater merupakan suatu disiplin tersendiri.
Ada kelompok teater yang sejak awal penampilannya tidak berkualitas dan celakanya pada penampilan selanjutnya, hingga sampai pada penampilannya yang kesekian kali atau bahkan sampai sekarang tetap saja tidak berkualitas. Bagaimana caranya meningkatkan kualitas kelompok teater yang seperti ini, atau sudah susahkah untuk memperbaiki kualitas pada kelompok teater yang seperti ini?
Saya tidak mengatakan susah atau tidak susah, karena semuanya juga akan terpulangkan pada manusianya. Sebagaimana seni-seni yang lainnya, seni teater menuntut latihan-latihan yang terus menerus dan studi, di samping--barangkali--sedikit bakat.
Latihan-latihan dibagi dalam dua macam: latihan-latihan persiapan dan latihan-latihan produksi. Mereka yang sudah matang dalam latihan-latihan persiapan baru bisa mengikuti latihan-latihan untuk produksi, untuk pementasan. Ada jenjang-jenjang di setiap macam atau tahap latihan tersebut. seni teater disebut juga sebagai seni vokal dan seni akting. Ada tuntutan-tuntutan yang cukup berat untuk keduanya. Sudah terlalu banyak buku yang mengupas masalah tersebut. Lalu tanpa membaca satu bukupun, apakah bisa dikatakan adanya pementasan yang berkualitas?
Menurut saya, tak ada cara lain untuk meningkatkan kualitas selain dari belajar, studi dan latihan yang terus menerus. Seperti dikatakan oleh Stanislavsky, aktor-aktor harus menjalani latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas. Ia menolak aktor-aktor yang bebal, malas, yang suka mejeng, melacurkan hidupnya hanya untuk dikeploki penonton.
Aktor harus memiliki disiplin ketat. Aktor harus selalu menguji dirinya, memiliki standar etika yang tinggi dan mengejar selera, baik di atas pentas maupun di luar pentas.Sutradara-sutradara pun harus memahami sejarah teater--di dunia dan di tanah air--paham-paham, gagasan-gagasan yang ada dalam dunia seni teater dan memahami perbedaan-perbedaannya.
Paham-paham atau gagasan-gagasan ini mungkin saja akan menuntun dia dalam menentukan strategi dramaturgi yang akan dipakai dalam pementasannya. Sutradara dan aktor harus memahami di mana letak keindahan seni teater dan mampu mewujudkan keindahan tersebut dalam realitas pentas.
Menurut anda, apakah workshop-workshop, tentang teater khususnya, yang digelar oleh komunitas atau lembaga atau instansi pemerintah, yang umumnya paling lama cuma berlangsung satu minggu, bisa bermanfaat bagi seorang aktor/ aktris, terlebih dalam kaitannya demi meningkatkan kualitas pertunjukan mereka di atas panggung?
Tergantung pada sistem, metode yang dipakai oleh instruktur workshop itu. Seperti workshop-workshop yang saya perhatikan selama ini, saya tidak begitu yakin akan segera meningkatkan kualitas seni pertunjukan. Walau dia mengundang Rendra atau Putu Wijaya sekalipun. Mereka cuma mempelajari bagaimana sebuah peran itu (akan) dimainkan dan bukan tentang bagaimana hal itu diciptakan secara organik.
Seni sejati harus mengerjakan bagaimana cara membangkitkan dalam diri seorang aktor apa yang disebut “Superconscious Creative Nature” untuk menjadi “The Superconscious Organic Creation”. Saya mengusulkan sistem workshop yang berjenjang dan berkelanjutan: elementer, intermediate dan advance dengan kurikulum yang berjenjang pula. Dengan begitu akan ada seleksi alam di sana. Pada jenjang advance, tahun ketiga, saya yakin akan tinggal beberapa orang saja dan itu adalah yang benar-benar dan sungguh-sungguh tekun dan disiplin atau mau maju.
Belakangan ini ramai disoal tentang perlunya gedung kesenian di Surabaya, sampai beberapa waktu yang lalu pernah dijadikan bahan diskusi dalam forum yang digelar oleh Kompas (Jatim). Banyak yang berpendapat, kota sebesar Surabaya sudah saatnya (perlu) punya gedung kesenian yang representatif. Menanggapi tuntutan itu, Wakil Walikota, Arif Affandi, menjanjikan akan membangun gedung tersebut di Kompleks Balai Pemuda pada 2008 nanti, yaitu menunggu kontrak Gedung Mitra 21 di kompleks tersebut habis. Gedung bioskop inilah yang akan direnovasi untuk gedung kesenian. Menurut anda, apakah memang perlu dibangun gedung kesenian (yang representatif) di kota Surabaya?
Kota seperti Surabaya saya kira memang memerlukan sebuah gedung kesenian yang representatife. Surabaya perlu menampilkan wajah yang berbudaya, bukan wajah yang sangar seperti sekarang.
Setelah ada gedung kesenian (yang representatif) itu dibangun, dengan seniman atau kelompok kesenian di kota ini yang kebanyakan kualitasnya masih dibawah standar, lalu selanjutnya apa?
Memang, apalah arti sebuah gedung kesenian yang megah dan representative bila kita tidak mampu mengisi dengan kesenian-kesenian yang bermutu. Oleh sebab itu, di samping akan dibangunnya gedung kesenian itu, grup-grup/ sanggar-sanggar harus meningkatkan mutu dan kualitasnya untuk bisa tampil di sana.
Berarti, tentang siapa saja (seniman/ kelompok kesenian yang seperti apa) yang berhak main di gedung yang representatif itu, harus disaring terlebih dahlu. Hanya seniman atau kelompok kesenian yang sudah terbukti kualitasnya saja yang berhak main di gedung itu, seperti itukah nantinya? Lalu, siapa (orang) yang berhak menyaringnya?
Untuk bisa main di gedung itu memang perlu selektif dalam arti tidak asal-asalan. Ada ukuran atau patokan. Memberikan kesempatan pada kelompok yang (mau) maju agar kreatifitasnya meningkat. Patokan atau ukuran itu dibuat oleh badan pengelola itu sendiri.
Sebaiknya gedung kesenian itu dikelola oleh siapa (misalnya: pemerintah, swasta, seniman, dewan kesenian, atau tak satupun dari mereka)?
Dalam badan pengelola nanti harus ada tiga unsur itu (pemerintah, swasta dan seniman). Badan ini harus independen dalam membuat dan melaksanakan program kerjanya. Tapi harus dicatat: dia yang mewakili pemerintah bukanlah orang-orang yang gampang diatur (lagi) oleh atasannya. Swasta pun bukanlah kepanjangan tangan untuk mengurus para rekanan. Serta, seniman, bukanlah kepanjangan tangan sebuah partai yang lalu bergagahgagahan bahwa dia dekat dengan gubernur, bupati atau walikota karena satu partai. Orang-orang seperti itu cuma akan jadi broker kesenian. Celaka, bukan? Untuk itu perlu digariskan kualifikasi-kualifikasi yang diperlukan.
Menurut anda, apakah pemerintah seharusnya turut bertanggungjawab/ ikut andil dalam membentuk kualitas seniman?
Pemerintah juga berkepentingan bila kesenian di daerahnya berkualitas. Sebab persyaratan sebuah kota berbudaya sangat bergantung pada karya-karya kreatif dan berkualitas para senimannya.
Sebaliknya, haruskah seniman bergantung pada pemerintah untuk berkesenian atau mengembangkan kesenian di kotanya?
Seniman tidak harus bergantung pada pemerintah dalam mengembangkan keseniannya. Namun tidak dapat dipungkiri, ada seniman yang bergantung pada (sumbangan) pemerintah dan ada yang tidak. Tergantung sejauh mana sikap seniman itu menjaga independensinya.
Haruskah kita/ seniman menuntut pemerintah untuk memperhatikan kesenian, atau keberadaan senimannya?
Kita tidak menuntut, tapi memang kewajiban pemerintah untuk memperlakukan kesenian atau keberadaan senimannya.
Kebanyakan seniman, biasanya kelompok teater, di Surabaya khususnya, masih bergantung pada pemerintah untuk urusan membiayai ongkos produksinya. Haruskah begitu, atau, kalau tidak, alternatifnya seperti apa?
Selain pemerintah, masih ada masyarakat dan pihak swasta yang peduli pada perkembangan kesenian. Tapi seniman perlu memperbaiki citranya dalam mengelola bantuan (baik dari pemerintah maupun swasta). Ada seniman atau badan/ kelompok yang kurang sehat dalam mengelola bantuan ini. Lalu kita harus bagaimana terhadap seniman/kelompok yang seperti itu? Indonesia adalah negara terkorup nomor tiga di dunia, bukan? Ya, mau gimana lagi…
*****
Dalam suatu kesempatan di Museum Mpu Tantular, Surabaya, saat ditemui seusai berbicara dalam suatu forum diskusi yang digelar oleh DKJT akhir Agustus lalu, kepada Jurnal, Max Arifin sempat melontarkan gagasan tentang seniman teater yang professional. Dalam artian: 24 jam seorang seniman mengabdikan hidupnya untuk teater, mencari makan dari teater. “Seniman ludruk bisa (professional), kenapa seniman teater (modern) tidak?,” ungkapnya.
Diakuinya, seniman teater modern memang sulit untuk berlaku seperti seniman ludruk. Sebab seniman teater (modern) terikat pada banyak hal, seperti hukum-hukum yang melingkupi seni teater tersebut, semacam menghafal naskah, latihan-latihan blocking, grouping dan lain-lain yang berbeda-beda sesuai dengan (tuntutan) naskah yang akan dipentaskan. (Untuk keterangan lebih terperinci, lihat buku Jamaes L.Peacock, Ritus Modernisasi, hal.58 dst,).
Sehingga dengan begitu, dalam sekali berproduksi saja, dalam kaitannya untuk memenuhi naskah yang akan dipentaskan itu, sebuah kelompok teater sedikitnya butuh waktu enam bulan, bahkan ada yang sampai satu tahun, untuk kemudian dipentaskan.
Berbeda dengan seniman ludruk yang memang nonkonsptual sehingga tanpa berlatih terlebih dahulu, langsung naik ke atas panggung pun jadi. “Seni ludruk dari dulu tetap begitu-begitu saja. Tak ada "keinginan" untuk meningkatkannya. Yang ada adalah pakem-pakem dan ugeran-ugeran. Tak ada pertimbangan nilai pada kualitas bentuk-bentuk kesenian tersebut yang mempunyai pola dramatik tertentu yang dapat diduga sebelumnya. Tak ada naskah, yang ada cuma catatan-catatan (outline),” terang Max. Namun begitu, bukan berarti seniman teater modern tidak bisa professional.
“Profesioanalisme dalam arti yang ketat membutuhkan kualifikasi, pemahaman teoritik yang mendalam, seperangkat etika profesi, sertifikasi sebagai pengakuan akan kemampuannya. Juga dibutuhkan ketekunan dan dedikasi. Dalam pengertian tersebut, seniman teater (modern) dimasukkan ke dalam seniman yang professional,” terangnya. “Sementara itu, dalam arti yang longgar (sehari-hari), orang yang bisa mencukupi hidupnya dengan pekerjaan yang ditekuni disebut sebagai orang-orang profesional. Ludruk dapat dimasukkan ke sana,” ujarnya menambahkan.
Max Arifin lahir di Sumbawabesar, Nusa Tenggara Barat (NTB), 18 Agustus 1936. Masa kecilnya, dari SD hingga SMP, dihabiskan di kota kecil itu. Dia sempat pindah ke Yogjakarta dan menyelesaikan pendidikan SMA-nya di sana. Dia pun sempat mengenyam pendidikan di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Gadjah Mada. Tapi tak lama kemudian dia kembali lagi ke NTB dan melanjutkan pendidikannya di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Mataram.
Lalu dia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Depdikbud Provinsi NTB, Mataram (Lombok). Di masa pensiunnya, dia kini tinggal di Sooko, sebuah kecamatan yang terletak di kota Mojokorto, Jatim. Praktis Max Arifin lebih banyak menghabiskan hidupnya di kota-kota kecil.
Menurut anda, bagi seniman muda di daerah, tanpa harus datang ke kota besar, seperti Surabaya atau bahkan Jakarta, misalnya, bisakah karyanya menasional?
Yang penting, bagi seni modern adalah bagaimana meningkatkan mutu dan bobot karya, terlepas di manapun dia berdomisili, di pusat atau daerah, di tempat terpencil sekalipun. Mutu dan bobot akan memunculkan seorang seniman untuk dikenal secara nasional. Tak ada kesulitan bagi seniman yang tinggal di daerah. Sekali lagi, yang penting adalah mutu dan bobot karyanya.
(dimuat dalam Jurnal Budaya Surabaya, Tahun I, No.3 Oktober 2006)
Wawancara oleh:
Abdul Malik (Mojokerto) dan Hanif Nasrullah (Surabaya).
Kontak :
1.Bapak Max Arifin, Jl.Bola Voli Blok E 33, Perum Griya Japan raya, Sooko, kabupaten Mojokerto 61361 Jawa Timur, telp 0321- 326915 , HP 085 2300 39 807, email: daxxenos2@yahoo.com.
2.Abdul Malik (Mojokerto), Hp 081 80 32 30 472, email: banyumili@telkom.net, blog: http://majapahitan2.blogspot.com
3.Hanif Nasrullah (Surabaya), Hp 081 7480 2453, email: revolusioner@hotmail.com, blog; http://hanifnasrullah.blogspot.com
NB:
Jurnal Budaya Surabaya terbit tiap bulan, dibagi secara cuma-cuma. Untuk luar Surabaya, silakan mengganti biaya kirim.Kontak: Farid Syamlan, Telp 031- 5454120, Hp 0817391883.
Masalah dan Posisi Teater di Sekolah
Oleh : Max Arifin.
Nani Yuliana, pelajar SMA 6 Surabaya (Kompas, 15/9-2004) mengeluh. Fauzi Salim, pembina teater di SMA 21 Surabaya mengeluh. Dan tentu terdapat banyak Yuliana dan Fauzi-Fauzi yang lain yang juga mengeluh. Bukan cuma di Surabaya, tetapi di banyak kota dan tempat di seluruh Indonesia: betapa pelajaran (ekstra kurikuler) seni teater di sekolah masih belepotan dengan masalah.
Seorang guru atau pembina kesenian yang akan mengajar seni teater di sekolah akan menghadapi dua macam kondisi dan kondisi-kondisi ini perlu dibenahi lebih dulu.
Pertama: Kondisi obyektif. Apakah di sekolah tersebut terdapat suasana yang kondusif, yang mampu menghidupkan suasana berkesenian yang bisa menimbulkan kebanggaan berkesenian. Juga kita pertanyakan apakah terdapat persepsi yang padu di antara para guru/kepala sekolah tentang arti dan fungsi kesenian di sekolah bagi para siswa. Selain itu apakah di sekolah tersebut cukup tersedia fasilitas untuk berkesenian.
Bila hal-hal itu secara minim dapat dicapai maka dapat dikatakan “masyarakat” sekolah akan mampu menggairahkan kehidupan berkesenian. Dan ini juga berarti, sekolah mampu menghargai hasil cipta para “seniman” di sekolahnya. Sekolah menciptakan suasana yang merangsang pertumbuhan seni dan gairah mencipta. Kita juga tidak bisa memungkiri, bahwa dewasa ini penetrasi radio dan terutama Tv telah membuat para pelajar menjadi manusia-manusia konsumptif dan pasif, takada gairah untuk aktif berkesenian.
Kedua, Kondisi subyektif. Apakah pembina kesenian (saya tidak tahu istilah yang dipakai di sekolah-sekolah dewasa ini) memiliki wawasan yang cukup luas tentang bagaimana sebenarnya mengembangkan tujuan kurikulum pendidikan kesenian dewasa ini.
Dalam buku-buku teks memang tercantum tujuan persyaratan bagi semua pekerja (seni) teater, antara lain: 1), Visi yang baik dalam masalah-masalah kebudayaan, seni, sastra , drama/teater. 2). (Diharapkan) mereka memiliki ketrampilan teknis yang memadai dalam cabang-cabang kesenian, namun dalam bidang seni teater mereka harus memiliki ketrampilan teknis yang cukup.
Saya memang menekankan pertimbangan pentingnya pengetahuan teori, bahkan mutlak diperlukan, karena: untuk membentuk visi yang baik; untuk memberikan dasar kepada penguasaan ketrampilan teater; dan merangsang orisinalitas dan kreativitas, di samping bacaan yang luas berupa karya-karya sastra pada umumnya dan karya-karya drama pada khususnya. Juga pengetahuan yang luas tentang hidup dan manusia pada umumnya. Kalau kita simpulkan, maka persyaratan umum seniman teater yang akan menjadi pembina teater di sekolah-sekolah bisa ditinjau dari segi kultural, artistik, literer dan teatral. Barangkali hal-hal itu terlalu ideal, tetapi kita perlu mendapatkan gambaran yang cukup.
SAYA tidak memiliki informasi yang baru tentang tujuan pendidikan kesenian di sekolah-sekolah. Namun demikian, saya kira, sepanjang yang berkenaan dengan dunia kesenian, tujuan yang tersirat dari pelajaran kesenian adalah: pertama, agar siswa mampu berapresiasi terhadap lingkungan dan terhadap karya seni. Di sini mereka diharapkan menjadi apresiator yang baik, yaitu kemampuan untuk bisa menghargai, menghayati dan menikmati kesenian Kedua, Agar dapat memanfaatkan pengalamannya untuk berkomunikasi secara kreatif melalui kegiatan berkarya seni. Mereka diharapkan menjadi kreator atau seniman kreatif.
Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:
Pertama: Kemungkinan sekolah dapat melaksanakan kedua tujuan tersebut---tersedianya pembina kesenian yang berkualitas;
Kedua: Kalau point pertama itu tak tercapai, maka tujuan yang tersirat dapat dipecah menjadi: a). Sepanjang yang berhubungan dengan pembentukan apresiasi adalah tugas guru kesenian di sekolah dengan memberikan sentuhan-sentuhan akademik, yaitu yang bersifat latar belakang teoretik; b). Sepanjang yang berkenaan dengan usaha “pembentukan” kreator kita mempercayakan pada sanggar-sanggar dengan pelajaran ekstra kurikuler tersebut. Di sana mereka akan berkenalan dengan sentuhan-sentuhan emosional lebih jauh berupa eksperimentasi, pengolahan dan latihan-lathan serta ceramah-ceramah yang bersifat teknis kesenian. Dengan sendirinya seniman (luar) yang akan memimpin sanggar tersebut haruslah sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang kita sebutkan di atas.
DALAM dunia teater terdapat apa yang disebut etika teater yang harus dipraktikkan oleh orang-orang teater. Di sana juga tersirat tujuan seni teater, antara lain: dedikasi dan kecintaan pada seni teater; rendah hati; mementingkan kerja kolektif yaitu sifat kolegial, saling menghargai, berdisiplin, mendahulukan kepentingan bersama; kesetiaan pada penulis, kepada sesama orang teater dan kepada penonton; bertanggung jawab dalam arti, kalau telah diberi peran maka ia harus menunaikan peran tersebut dengan sebaik-baiknya.
Selain itu para pelajar SLTP/SMA (sekarang!) sudah saatnya menyimak pengalaman-pengalaman dan kebenaran lewat karya-karya sastrawi, termasuk dan terutama lewat seni teater. Mereka juga akan berjumpa dengan nilai-nilai sastrawi yang ada di dalamnya dan yang terpenting kebenaran sastrawi itu. Kebenaran sastrawi biasanya jauh lebih meyakinkan ketimbang hasil riset ilmiah. Dikatakan, kebenaran ilmiah selalu bersifat relatif, subyektif dan sementara. Oleh sebab itu pekerja teater harus selalu mempertanyakan setiap kebenaran. (Bandingkan novel Kremil karya Suparto Brata dan Dolly hasil riset/skripsi Tjahjo Purnomo. Settingnya sama, yaitu dunia pelacuran. Tetapi Kremil jauh lebih meyakinkan ketimbang Dolly yang terasa kering dan kaku, tak punya nuansa human interest.
Teater telah menjadi sebuah ilmu, kata Putu Wijaya pada pengantar buku Menyentuh Teater. Sebagai ilmu ia dipelajari, diajarkan, dianalisa, sementara teater itu sendiri terus berkembang, bertumbuh, serta berubah dengan segala bentuk pengekspresian dan konsep-konsepnya sehingga ilmu teater juga terus mengucur.
Nah, Nani Yuliana dan Fauzi Salim berhentilah mengeluh dan bersedih kalau di sekolah kalian seni teater itu masih belepotan dengan seribu satu masalah. Memang masih banyak masalah yang harus kita benahi. Oke?
Japan Raya, September 2004.
Max Arifin, pengamat teater tinggal
Di Mojokerto.
Puisi: Wajah Ibu
Max Arifin.
Wajah ibuku di Aceh berkelebat di layar kaca
meledakkan seribu duka yang kau usung
bersama sejarah negerimu.
Wajah ibuku menyeruak di tengah
wajah derita yang sulit kau terjemahkan
yang mengalir sampai ke ujung-ujung
yang tak pernah tahu arah
berhadapan dengan sejarah yang membisu
sampai air mata kami
berubah jadi biru tinta.
Ibu itu mengetuk-menggedor dan
si pongang menyeringai dari tengah laut
memupus lautanmu tenang dan teduh yang menyimpan
rindu, air mata dan mutiara dan mengelus kaki-kaki bocah di pantai.
Kota-kotaku menghumbalang ke langit kelabu
Dan tak sempat mendengar serapah sang ibu
ketika tangis si bayi dalam buaian mencari tetek ibunya
ditelan bahana gelombang amarah ratu kidul.
Wajah ibuku di Aceh berkelebat di layar kaca
di tengah gerombolan wajah tanpa nama
yang ikut mengusung kutukan sejarah negerinya
dan menghadapi kematian tanpa akhir,
kereta-kereta terbakar, senjata api, teriakan di lorong-lorong
bintang-bintang yang marah dengan wajah teror
yang menggeliat di balik balutan kepala compang-camping.
Ibuku pernah bersurat: kini bukan waktunya berkelana
ke seberang, ada tugas untukmu.
Dan aku diberi topi baja, senjata AK
di garis depan yang jauh aku berdiri.
Jangan berpaling, bergeraklah ke arah tembok bisu itu.
Wajah ibuku di Aceh yang berkelebat di layar kaca
berubah menjadi silhuet yang memudar.
Tuhanku, kenapa Kau menunduk rendah
hanya untuk menghancurkan kami?
Tatapan mataMu yang licik tidak menghendaki kesaksian apapun
untuk makhlukMu yang lemah, juga dalam doa yang khusuk yang
setiap saat kami panjatkan.
Ibu, sebuah ceritera baru dimulai.
Casa di Lansia, akhir 2004.











