Friday, November 09, 2007

Abdul Malik, Blogger asal Mojokerto yang Bikin Situs Majapahitan

Sabtu, 10 Nov 2007
Abdul Malik, Blogger asal Mojokerto yang Bikin Situs Majapahitan

Dapat Data dari Teman Chatting di Prancis
Rekonstruksi Kerajaan Majapahit tidak hanya "diimpikan" kalangan pelestarian purbakala saja. Kalangan pemuda pun tak kalah bersemangat. Termasuk kelompok blogger. Yakni, dengan membuat blog khusus tentang Majapahit.

KHOIRUL INAYAH, Mojokerto

GEMAR berselancar di internet dan membuat blog ternyata memiliki makna tersendiri bagi Abdul Malik. Dan itu dimanfaatkannya dalam bentuk yang positif, yakni membuat blog tentang Majapahit. Suatu hal yang belum terbersit dalam pikiran mereka yang mengaku peduli Majapahit sekalipun.

Dengan dana pribadi, dan literatur dari sana-sini, Abdul Malik pun mewujudkannya impiannya memiliii blog sendiri. Ini tidaklah berlebihan, sebab ia telah menekuni dunia blogger sejak Desember 2005.

"Tujuan saja pada saat itu, saya ingin memberi kado buat diri saya sendiri," ujar lajang yang tinggal di Kradenan Kelurahan Kauman Kota Mojokerto ini.

Saat itu, salah satu penjaga warnet di Jl Jayanegara sedang asyik sedang asyik membuat blog untuk hal-hal yang bernuansa 1980-an. Ia pun ikut tertarik. "Nama blog yang saya pilih waktu itu ingin yang bernuansa lokal dan cepat dikenal. Ya akhirnya saya pilih Majapahit," ujarnya laki-laki kelahira 22 Desember 1968 ini.

Beruntung, ia memiliki beberapa dokumentasi tentang Majapahit. Salah satunya adalah naskah karya almarhum Max Arifin tentang Majapahit. Selain itu, materi mendapatkan dari banyak sumber. Misalnya teman chatting, Olivier warga Perancis yang beberapa kali ke Museum Trowulan dan Gunung Penanggungan.

Juga mendapatkan informasi bahwa majalah Arts of Asia (Hongkong) edisi November 2000 memuat laporan utama tentang Majapahit. Saya surfing alamat website-nya lalu cover di-download.

"Untuk isinya Olivier berbaik hati mengirim beberapa halaman yang telah di scanner via email," ujar Malik.

Tidak hanya itu, ia pun mengkopi buku Tatanegara Majapahit parwa 1 dan 2 karya Mohammad Yamin ke Perpustakaan Ignatius di Yogyakarta. "Saya berniat menampilkannya di blog dalam bentuk PDF agar dapat di baca lebih banyak kalangan," kata Malik lagi.

Salah satu hal paling sulit dalam blog adalah proses update data. Semua itu ia kerjakan setiap hari. Untuk keperluan itu, Malik banyak dibantu oleh Bagus Hendro, pemilik warnet di Jl jayanegara untuk proses scanner bahkan seringkali memberi fasilitas gratis. Terkadang juga oleh Hendrik salah satu petugas warnet tersebut. Yang paling menjengkelkan adalah ketika update data koneksi warnet drop. "Namun, karena semuanya menggunakan dana pribadi maka proses berjalan agak lambat," ujarnya.

Ada saat dimana ia tak meng update blog. Saat itu ia lagi menekuni multiply. Sama-sama menarik. Prinsip nya sama-sama menginformasikan kepada orang lain. "Untuk mengetahui seberapa banyak yang berkunjung ke blog dan multiply saya, saya menambahkan hit counter," jelasnya.

Ada pengalaman tak terlupakan dalam menekuni dunia blog terjadi pada November 2006. Saat itu almarhum Max Arifin diundang khusus oleh PT Newmont Nusa Tenggara untuk perjalanan pulang kampung ke Sumbawa. Malik ikut dalam tim sebagai asisten Max Arifin. Salah satu agenda kegiatan adalah Max Arifin menjadi narasumber dalam diskusi di sebuah SMA di Taliwang. Makalah untuk bahan diskusi tertinggal di Mojokerto. "Melalui bantuan staf kantor PT Newmont saya dapat mengakses internet membuka blog saya dan tinggal copy paste materi bahan diskusi. Pak Max sendiri pada waktu itu belum merespons dunia blog karena ia terbiasa dengan media cetak," katanya.

Berkaitan dengan Festival Majapahit, Malik kembali mengaktifkan blog-nya. Untuk menarik pembaca ia menginformasikan perihal berita yang ada di blog maupun multiply melalui SMS dan banyak milis dengan judul berita yang menggoda misalnya Ingin mengetahui master plan megaproyek Majapahit Park di Trowulan?
Silakan klik http://majapahitan2.blogspot.com atau http://kurakurabiru.multiply.com.

Untuk meng-update data di blog-nya, Malik sebenarnya berharap banyak dari lembaga seperti Gotrah Wilwatikta untuk membuat semacam Pusat Studi Majapahit. Ini terilhami setelah ia banyak mendapatkan masukan sulitnya anak muda untuk mendapatkan informasi dan referensi tentang Majapahit. "Materi seminar yang diadakan Gotrah Wilwatikta dapatlah disebarluaskan lewat blog, juga aktivitas, riset dan program Gotrah Wilwatikta ke depan," ujarnya.

Meskipun demikian, ia mengaku aktivitasnya menekuni dunia blog tidaklah istimewa. "Aktivitas saya menekuni blog masih biasa-biasa saja kok demikian juga aktivitas saya menekuni sejarah Majapahit masih awam," ujar alumni SMAN 1 Gatoel (sekarang SMAN I Puri Mojokerto).

Sebagai seorangn pegiat dunia blogger, ia ingin ada kompetisi blog antarkampung di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. "Blog akan semakin menarik karena setiap warga adalah reporter. Seperti prinsip citizen journalism," kata dia. (*)

(Harian Radar Mojokerto)

Monday, November 05, 2007

Desa Majapahit


DESA MAJAPAHIT

Oleh Max Arifin

SEBUAH desa Majapahit kabarnya direncanakan akan dibangun di Trowulan. Penggagas dan pelaksananya tentulah orang-orang yang mempunyai gagasan yang visioner dan imajinatif. Hasil kerja mereka (nanti) bukan cuma secara fisik cukup memadai, tetapi yang jauh lebih penting adalah bahwa di sana tergambar adanya sebuah budaya. Sebuah budaya yang usianya tujuh ratus tahun, yang telah mampu menjadi kekuatan pendorong ditambah dengan ambisi imajinatif seorang mahaatih: menjamah hampir seluruh nusantara.

Sebuah budaya yang mampu mengantarkan adanya “sphere of influence”, area dimana sebuah negara mengklaim memiliki hak-hak tertentu atau diakui memiliki hak seperti itu. Juga disana terasa adanya semacam aura yang menurut Walter Benjamin memiliki asal-usulnya pada cultic ritual, pada ritual-ritual yang bersifat pemujaan. Itulah hal-hal abstrak yang tentu saja sulit diwujudkan, untuk tidak dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang ada yang mengatakan, dapat saja hal-hal itu dinyatakan lewat simbol-simbol, lambang-lambang, pataka-pataka, kitab-kitab suci, dan lain-lain, tetapi persoalannya adalah: mampukah benda-benda itu “memancarkan” aura yang dimaksud.

Sebuah ilustrasi kita kutip dari kakawin Hariwangsa yang termuat dalam buku Kalangwan, karya monumental Prof. P.J. Zoetmulder, sebuah buku yang jarang dibicarakan sekarang (Djambatan, Jakarta, dengan tebal 648 halaman). Membaca buku ini seakan-akan kita mendengarkan gema suara leluhur kita dan suara-suara itu datang pada kita dari suatu sumber terdalam kebudayaan tanah air kita. Karya ini menarik terutama bagi mereka yang mencoba meletakkan suatu konfrontasi antara kepercayaan dan pengalaman hidup generasi-generasi terdahulu dengan pengalaman-pengalaman dan prasangka-prasangka kita pada masa kini.

Situasi seperti itulah yang harus ada dalam diri para penggagas dan pelaksana rencana tersebut. Pada karya besar seperti Kalangwan ini terdapat suatu kekuatan, yaitu efeknya yang katalistik: ia membuka pintu bagi kita dan menghidupkan mesin kewaspadaan dalam diri kita. Di sana terdapat ceritera tentang kemenangan kemanusiaan atas kekuatan buta sang takdir, suara-suara itu seperti tersembul keluar dari suatu kesepian yang menyesakkan, mencoba menguak mengatasi batas-batas tanah airnya, batas-batas waktu dan batas nasib yang ditentukan pada mereka.

Saat-saat yang sering disebut dalam kakawin ialah sore dan senja, malam yang disinari rembulan dan menjelang fajar. Sesudah pukul tujuh sore udara sudah mulai sejuk. Dalam Hariwangsa tertulis indah: semua suara mulai lenyap dan alam raya merasa bimbang, takut karena malam yang akan datang menjelma.

Bunga padma yang pada pagi hari mekar, menutup daun-daunnya agar tepung sarinya terlindung dengan baik, sambil menyediakan tempat tidur bagi kumbang-kumbang. Awan-awan gelap berputar-putar bersama gemuruhnya guntur memperingatkan manusia akan bahaya yang mungkin mengancam, supaya ia berjaga-jaga. Tetapi segalanya lenyap, rasa bimbang menghapuskan diri tatkala rembulan terbit dan mengusir kegelapan.

Pada malam purnama para wanita dan gadis-gadis genit luwes dari kratobon bercengkerama dibawah sinar bulan purnama.

Mereka menyanyi, menari dan menabuh gamelan, berkelompok untuk tukar menukar rahasia, berbisik-bisik atau duduk sendiri-sendiri merindukan kekasih.

Membaca Kalangwan membuat kita merindukna sesuatu: kedamaina, ketenangan alam, perasaan satu dengan alam, tidak saling mengusik (apalagi menjadi musuh alam). Alam begitu tampak, nyata, mewujud dan terasa benar bagi manusia. Dan indah !

Itu sekedar ilustrasi dari suatu sudut, entah dimana itu, sebuah desa di Majapahit, tujuh ratus tahun yang lalu, yang coba kita “ciptakan” dalam jaman modern ini, Sesuatu yang fantastik dan rasanya sulit dijangkau di sebuah desa (Trowulan) dengan poros jalan Surabaya-Yogyakarta, jalan sempit berdebu namun jalan ini tidak pernah tidur, bergemuruh selalu.

Malam-malam memang membuat fantasi kita melayang ke sana. Apa kira-kira yang terjadi pada malam seperti itu tujuh ratus tahun yang lalu di Candi Tikus, di Candi Bajang Ratu, Candi Kedaton, Candi Brahu, Candi Gentong (yang kini sedang dipugar), Gapura Wringin Lawang, di Candi Siti Hinggil. Atau, apakah para putri sedang berenang dan berendam di Kolam Segaran? Atau apakah terdengar suara sang kawi Prapanca mengutip dan membaca potongan-potongan Negarakertagama yang terkenal itu, dengan suara yang penuh dan berat berwibawa dan kemungkinan kita dissolve ke seorang anak muda modern dengan celana jins dan kaos hitam, berdiri di pelataran Candi Brahu sambil menggenggam lembaran-lembaran Negarakertagama yang telah disunting. Atau mungkin kita membayangkan, di suatu sudut Desa Majapahit Mahapatih Gajahmada sedang berunding dengan salah seorang palnglima perangnya yang bernama Empunala. Mengatur siasat dan taktik bagaimana menundukkan Bali, Lombok, Dompu. Dan bayangan kita menjejak pada masa kekinian dan menemukan besarnya pengarauh tata budaya Majapahit sampai sekarang di Lombok. Dan orang-orang Lombok mengklaim bahwa Empu Nala meninggal di Lombok dan kuburannya dapat ditemukan sampai sekarang di atas sebuah bukit kecil di luar Desa Sembalun, di kaki Gunung Rinjani yang berudara dingin.

Kita memang diminta untuk terus bercermin pada hasil budi pendahulu-pendahulu kita. Dan itu berarti semua seniman yang ada dalam buku Kalangwan telah mampu mengatasi takdirnya !

Desa Majapahit? Kenapa tidak!

Japan Raya, awal Nopember

Max Arifin

(Pernah dimuat di Warta Majatama, Dinas Infokom Kabupaten Mojokerto edisi 52 Tahun 2003)

Keterangan gambar:

Poster Achmady, Bupati Mojokerto saat ini, dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur dengan mengusung slogan “Lurahe Majapahit”.

Wednesday, October 31, 2007

Pariwisata di Trowulan suatu keniscayaan

PARIWISATA
DI TROWULAN.
SUATU KENISCAYAAN.
Oleh: Max Arifin.
(I).
Banyak orang dan banyak kalangan mengatakan, bahwa daerah Trowulan ini merupakan daerah yang potensial untuk membangun pariwisata.
Benarkah?
Saya belum tahu, apakah pihak-pihak terkait di sini telah mengadakan atau melakukan identifikasi masalah untuk bisa mengatakan bahwa daerah ini adalah potensial. Kita jangan terlalu silau dengan nama besar Majapahit. Secara fisik Majapahit meninggalkan beberapa candi yang tidak begitu monumental
Saya pernah menulis dalam tabloit Majatama yang diterbitkan oleh Pemkab Mojokerto, edisi no. 52 tahun 2003. Waktu itu saya mendengar ada gagasan yang ingin membangun desa Majapahit, sebuah gagasan yang inspiratif dan imajinatif. Secara fisik barangkali desa seperti itu tidak begitu sulit dibangun, tetapi yang jauh lebih penting, adalah, bahwa di sana tergambar adanya sebuah budaya. Sebuah budaya yang usianya tujuh ratus tahun, yang telah mampu menjadi kekuatan pendorong ditambah dengan ambisi imajinatif seorang mahapatih: menjamah hampir seluruh nusantara. Sebuah budaya yang mampu mengantarkan adanya “sphere of influence”, area di mana sebuah negara mengklaim memiliki hak-hak tertentu atau diakui memiliki hak seperti itu. Juga di sana harus terasa adanya semacam aura---yang menurut Walter Benjamin---memiliki asal-usulnya pada cultic ritual---pada ritual-ritual yang bersifat pemujaan.
Itulah hal-hal abstrak yang tentu sulit untuk diwujudkan, untuk tidak dikatakan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang ada yang mengatakan, dapat saja hal-hal itu dinyatakan lewat simbol-simbol, lambang-lambang, pataka-pataka, kitab-kitab suci, dan lain-lain, tetapi persoalannya adalah: mampukah benda-benda itu “memancarkan” aura yang dimaksud. Dalam hal ini kita berbicara dalam dimensi-dimensi waktu, jarak waktu yang tentu saja memperlihatkan kesenjangan psikoloigis yang begitu mengangah.
(II).
Atau, bagi mereka yang memiliki buku Kalangwan yang ditulis oleh Prof. P.J.Zoetmulder, dapat saja mereka menyimak secara spiritual apa yang ditulis di sana. Karena dengan membaca buku ini seakan-akan kita mendengar gema suara leluhur kita dan suara-suara itu datang pada kita dari suatu sumber terdalam kebudayaan tanah air kita. Pentingnya karya ini terutama bagi mereka yang mencoba meletakkan suatu konfrontasi antara kepercayaan dan pengalaman hidup generasi-generasi terdahulu dengan pengalaman-pengalaman dan prasangka-prasangka kita pada masa kini---ya, katakan saja bagi mereka yang mencoba membangun daerah ini menjadi daerah pariwisata. Pada karya besar seperti Kalangwan ini terdapat suatu kekuatan, yaitu efeknya yang katalistik: ia mencoba membuka pintu bagi kita dan menghidupkan mesin kewaspadaan dalam diri kita. Di sana terdapat ceritera tentang kemenangan kemanusiaan atas kekuatan buta sang takdir; suara-suara itu seperti tersembul ke luar dari suatu kesepian yang menyesakkan, mencoba menguak mengatasi batas-batas tanah airnya, batas-batas waktu dan batas nasib yang ditentukan pada mereka.
“Penggali-penggali” potensi pariwisata daerah ini haruslah mampu “membaca dan menyimak” suara-suara tersebut dan kemudian mencoba memvisualisasikannya.
Mampukah?
(III).
Membangun pariwisata, haruslah dengan perencanaan yang matang. Bersentuhan dengan dunia pariwisata sebagai suatu usaha, maka kita harus menyadari adanya dua kutub yang seakan-akan terus-menerus mencoba saling menaklukkan: kecenderungan manusia dunia ketiga untuk tidak mau ketinggalan dalam nmenyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, karena dunia ini sendiri (seperti dikatakan oleh Arthur Koestler) bergerak ke arah sebuah kebudayaan yang uniform, mechanized and stereotyped---suatu kebudayaan massa yang menghentak kita sebagai suatu “form of mass suicide”. Kutub yang lain (kesadaran yang harus ada dalam otak pengelola atau penggiat pariwisata dan mempertahankannya) dengan password: exotica. Ke dalam kata ini terkandung makna asli, aneh, asing, tidak biasa. Paul Fussel---seorang petualang Amerika---mengatakan, bahwa dalam setiap travel, perjalanan atau bepergian, terselubung makna pencarian sesuatu yang anomaly, sesuatu yang tidak biasa, dalam beberapa hal berbeda dari apa yang normal.
Barangkali apa yang saya katakan itu kurang tepat, tetapi cobalah kita simak bersama ucapan seorang pengeliling dunia Pico Iyer dalam bukunya Video Night in Kathmandu (Black Swan Book, London, l989: 40): tentang Bali sebagai “the Elysian isle famous for its other-worldly exoticism, its cultural integrity, its natural grace”---pulau surgawi yang terkenal akan eksotisme-dunia-yang-lain, integritas kebudayaan dan keanggunannya yang alami.
Semua itu terkait dalam apa yang disebut tourism-psychology.
(IV).
Namun demikian, kita tidak boleh terlalu silau dengan dunia pariwisata dengan keberhasilan-keberhasilannya di daerah lain yang telah mampu memberi sumbangan pendapatan pada daerah yang bersangkutan.
Bukunya yang saya sebut di atas---Video Night in Kathmandu---selain sebagai buku yang menguraikan “exotica” dunia yang ia lalui, tetapi juga dengan baik meneliti “what kind of resistence” yang telah muncul dalam menghadapi kekuatan-kekuatan kolonial Coca-Cola dan “what kind of counter-strategies were planned”, kita melihat bagaimana Bali mempertahankan dirinya.
Turisme merupakan serdadu-serdadu pejalan kaki terhadap invasi-invasi baru: para turis, dalam suatu pengertian, adalah ekspansionisme lewat teroris-teroris kebudayaan. Dan Jean-Paul Sartre menyebutnya sebagai “ the cool invaders”---penyerbut-penyerbu berdarah dingin. Begitu paradise,surga itu menggoda, merayu para wisatawan, maka secepat itu pula wisatawan itu akan memperkosa dan mengurangi keanggunan surga (pariwisata) itu..
Mungkin kita tidak atau kurang atau pura-pura tidak memahami berlakunya hukum itu. Untuk berlaku seperti itu, berarti kita telah mengaburkan atau tidak mengindahkan adanya suatu asimetri besar yang menguasai setiap perjumpaan antara turis dan lokal: wisatawan berada di sana karena pilihannya sendiri dan (penduduk) lokal memang berada di sana, terikat oleh takdir di tempatnya. Wisatawan melakukan perjalanan dalam semangat kesenangan, petualangan dan romans, sementara penduduk lokal berkubang dalam lumpur usaha untuk tetap bisa hidup. Wisatawan sering diterima oleh pemerintah, menikmati imunitas diplomatik (walau tidak resmi), diberikan tetesan-tetesan otoritas tanpa rasa tanggung-jawab apapun, sementara penduduk lokal di sana menancapkan harapan-harapan mereka pada setiap transaksi-transaksi yang mungkin diadakan. Pico bilang: “Every foreigner is a messenger from a world of dreams”---setiap orang asing adalah pembawa pesan dari suatu dunia mimpi”.
(V).
Bagaimana peta pariwisata Jawa Timur sendiri?
Saya pernah diundang ke Seminar Pendekatakan Kebudayaan dalam Pembangunan di Jawa Timur, di Jember pada bulan Juli 2003. Di sana, I Nyoman Naya Sujana---dosen Universitas Airlangga---mengatakan, bahwa pariwisata dianggap belum begitu signifikan terhadap peningkatan PAD. Hal ini didasarkan pada Propeda dan Renstra Propinsi Jawa Timur 2000-2005. Karena itu pula pariwisata Jawa Timur belum menjadi suatu “industri rakyat”. Dan Festival Budaya Majapahit yang digelar di Trowulan, Mojokerto tahun 2000 dapat dikatakan sebagai festival yang gagal . Wisatawan yang datang sangat terbatas. Ini merupakan evaluasi yang membuat kita harus mawas diri.
Pariwisata yang kita kembangkan di Mojokerto adalah (industri) pariwisata budaya dan sekaligus memakai pendekatan kebudayaan dalam pelaksanaannya. Prinsip-prinsipnya antara lain:
1. Kata kebudayaan di sini hendaklah diterjemahkan menjadi kebudayaan lokal, yaitu kebudayaan yang dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat lokal.
2. Kebudayaan sebagai basis pengembangan industri pariwisata sehingga nilai-nilai industri yang meluncur di masyarakat lokal tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma budaya lokal.
3. Pariwisata haruslah memiliki semangat atau ruh dari budaya masyarakat setempat dan mengandung nilai-nilai kultural yang positif. Di sana terdapat norma-norma dan nilai-nilai untuk mewujudkan suatu peradaban manusia yang lebih baik.
4. Kita harus memahami realitas pembangunan pariwisata dengan landasan pengertian budaya, dengan “paradigma budaya”.
5. Pembangunan pariwisata di Mojokerto haruslah berdasarkan kebudayaan
Mojokerto (=Jatim) dan menjadi dasar segala aktivitas pembangunan pariwisata.
6. Masyarakat harus mampu mengendalikan “prilaku industri pariwisata”
sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakat sendiri.
7. Pariwisata dewasa ini telah dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi, adalah
kegiatan negara atau rakyat yang mempunyai tujuan memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu ia harus dikelola secara ekonomi dengan mengedepankan hukum-hukum ekonomi.
(VI).
Kalau kita bicara tentang pariwisata, maka kita membayangkan adanya modal besar, restoran besar dan kehidupan sosial yang materialistic. Hal itu tidak seluruhnya benar dan kurang tepat. Untuk membangun sarana dan prasarana pariwisata---hotel, tempat rekreasi, jalan dan tempat hiburan besar---memang membutuhkan modal yang sangat besar dan ini berarti perlu investor besar. Tetapi kita harus mampu memobilisasi potensi dan kekuatan lokal dalam pengembangan daerah-daerah tujuan wisata yang berstandar nasional dan internasional.
Tugas dalam era otonomi daerah haruslah mengembangkan konsep (industri) pariwisata lokal: mengembangkan potensi dan daya masyarakat lokal sebagai pilar pengembangan pariwisata. Umpama, rumah penginapan tidak perlu besar-besar, cukup hanya satu atau dua kamar dengan kualitas yang standar. Begitu pula rumah-rumah adat yang dikelola oleh masyarakat lokal; berbagai jenis tanaman dan lain-lain.
Setelah masyarakat lokal memiliki konsep pembangunan industri pariwisata rakyat, maka masyarakat haruslah memiliki kemampuan-kemampuan tertentu. Antara lain, yang terpenting, melakukan koordinasi lintas sektoral dalam masyarakat lokal sehingga semua kepentingan kelompok sosial dapat disertakan. Hal ini kita dasarkan pada teori Pierre Bourdieu tentang “the field of cultural production”. Bourdieu menekankan, bahwa karya budaya ditemukan pada sejarah dan struktur medan budaya di mana karya itu ada---dengan keseluruhan komponen yang membentuknya dan juga di dalam hubungan medan budaya dengan medan kekuasaan.
Juga dalam soal-soal keamanan dan ketertiban; sikap sosial masyarakat yang terbuka, ramah dan penuh komunikatif; perlu pelatihan petugas wisata; produk-produk wisata dan cendera mata, peta wisata, akomodasi yang standar; membangun pengertian dan kesadaran hidup bersama antar ras dan suku; mendorong warga masyarakat untuk membangun mitra kerja denagn siapa saja yang menjadi wisman dan sebagainya. Di sinilah arti kolaboratif dalam mengelola dunia pariwisata. Membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak terkait dan jaringan kerja (net working) yang luas.
Pandangan-pandangan yang miring dan sinis (konservatif) terhadap pembangunan industri pariwisata yang tentu masih ada di daerah ini perlu dibenahi, antara lain yang memandang pariwisata sebagai industri maksiat. Hal ini bisa dicapai lewat sosialisasi dunia pariwisata itu. Sosialisasi penting dalam hal ini.
(VII)
Setelah semuanya terbenahi, maka barulah Pemda setempat berpikir tentang PAD.
Terima kasih.
Japan Raya, 5 Juli 2004.
Max Arifin.

Majapahit Park master plan penutup

Majapahit Park master plan 38

Majapahit Park master plan 37

Majapahit Park master plan 36

Majapahit Park master plan 35

Majapahit Park master plan 34

Majapahit Park master plan 33

Majapahit Park master plan 32

Majapahit Park master plan 29

Majapahit Park master plan 28

Majapahit Park master plan 27